KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
MENGHINDARI MASA LALU


__ADS_3

Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan ayahnya, Melati terduduk di atas ranjang, dengan mencemaskan kondisi Mawar.Perasaannya sangat resah, dia berjalan bolak-balik dari satu tempat ke tempat lainnya.


Aurelia terbangun dari tidurnya dan memanggil ibu perinya. Melati mendekap gadis kecil itu ke dalam pelukan nya.


"Hei gadis manis, kenapa kau terbangun di tengah malam begini?."


"Aku merindukan mama, tadi aku bermimpi bertemu dengan mama, tapi aku tidak dapat melihat wajahnya, lalu mama pergi meninggalkan ku sendirian." Ucap Aurelia dengan mata berkaca-kaca.


"Oh sayangku, Aurelia anak yang pintar bukan. Tentu saja mama mu pergi sayang, bukankah kau bilang mama mu ada di surga, tentu saja dia akan meninggalkan mu, kalau mama mengajakmu bersamanya, bagaimana dengan papa sayang, apa kau ingin papa bersedih karena kau tidak bersamanya." Melati mengecup kening gadis kecil itu, dan menyanyikan lagu tidur untuknya.


Hingga akhirnya keduanya tertidur bersama, dengan posisi Melati yang masih duduk bersender di ranjang. Dering suara ponsel membangunkan nya, Melati terkejut dan meraih ponselnya. Ada tiga panggilan tidak terjawab dari Aldino.


Kenapa dia sudah bangun sepagi ini, biasanya para lelaki akan bangun siang ketika mereka sedang berlibur, batin Melati, dengan menekan tombol panggilan ulang.

__ADS_1


"Hallo Al, kenapa kau membangunkan ku sepagi ini, apakah ada sesuatu yang penting?."


"Hmm begini Mel, aku ingin kita keluar dari Hotel ini secepatnya. Karena pelayanan di Hotel ini sangat tidak baik, dan aku sudah memesan Hotel yang jauh lebih baik." Jelas Aldino tidak mengatakan yang sebenarnya.


"Tapi menurut ku pelayanan di Hotel ini sangat bagus, dan lokasinya dekat kemana-mana."


"Sudahlah Mel, kau kemasi saja barang-barang kalian, dua jam lagi kita akan pergi."


Aldino menatap layar ponselnya, terlihat foto profil Melati di akun media sosialnya. Terakhir kali Melati memposting sesuatu sudah beberapa bulan lalu, nampak Aldino menyunggingkan senyumnya menatap wajah cantik Melati.


"Ada apa denganku, kenapa aku sering memikirkan Melati, bahkan aku ikut terluka ketika melihatnya bersedih." Aldino mengerutkan keningnya, terkekeh melihat tingkah lakunya.


Dua jam kemudian, Aldino datang ke kamar Melati, dia membantu membawa beberapa barang milik perempuan itu. Mereka berjalan ke arah lift yang pintunya belum terbuka.

__ADS_1


Degh...


Jantung Melati berdetak kencang melihat seorang perempuan yang berada di dalam lift itu. Mbak Saroh menjatuhkan bungkusan yang dibawanya, keduanya saling memeluk dengan berurai air mata.


"Mbak Melati kemana saja mbak, kenapa tidak memberi kabar sama sekali." Mbak Saroh berlinang air mata.


"Maaf ya Mbak, sebenarnya aku ingin menghubungi mu, tapi ibu bilang kau tinggal bersama mereka di rumah baru, aku tidak ingin membuat Mawar marah jika mengetahui kita masih berhubungan." Jelas Melati tanpa malu memeluk Mbak Saroh.


"Mbak lebih baik kau cepat pergi dari sini, sebentar lagi Tuan dan Nyonya besar akan naik ke atas, aku tidak ingin Nyonya Silvia menyakiti hatimu lagi, Mbak Melati jaga diri baik-baik ya." Jelas Mbak Saroh melepaskan pelukan dari Melati.


Tangan Mbak Saroh menyentuh bagian perut Melati, dia merasa ada yang berbeda dari perempuan itu. Dia menatap lekat perut Melati yang sedikit membesar, sontak saja Mbak Saroh terkejut dan membulatkan kedua matanya. Disaat Mbak Saroh akan mengatakan sesuatu, Melati mengisyaratkan untuk diam, dengan meletakan satu jari di depan bibirnya.


"Jangan mengatakan apapun pada siapapun ya Mbak, nanti aku akan menghubungi Mbak Saroh lagi." Bisik Melati seraya melangkahkan kaki nya pergi.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2