
Setelah puas menceritakan segalanya Mawar berdiri mengambil segelas air minum. Dia bangkit dari duduknya dan membalikan tubuhnya, terlihat Rafael sedang berdiri dibelakangnya dengan mata melotot penuh amarah. Seketika Mawar tercekat, perempuan itu menelan saliva nya.
"Nya kita lanjut telepon nya nanti ya, ada urusan yang harus ku kerjakan." Ucap Mawar seraya mengakhiri panggilan telepon itu.
Kenapa mas Rafael melihat ku seperti itu, jangan-jangan dia mendengar semua ucapanku, batin Mawar didalam hati nya.
Dengan ragu Mawar melangkahkan kakinya perlahan, dia berjalan mendekati Rafael. Tangannya perlahan menyentuh lengan lelaki itu, tapi tiba-tiba Rafael menghempaskan tangan Mawar begitu saja.
"Jelaskan padaku, apa yang baru saja kau bicarakan melalui telepon? Apa kau bisa mengatakan yang sebenarnya padaku? Apa yang sebenarnya telah kau lakukan padaku." Rafael melotot pada Mawar, suara nya datar namun sangat menakutkan didengar oleh telinga Mawar.
__ADS_1
Terlihat peluh membasahi wajahnya, Mawar menelan salivanya seraya berjalan mundur. Tapi Rafael terus melangkahkan kakinya semakin mendekat ke arahnya. Hingga Mawar terpojok di sudut ruangan, langkahnya terhenti karena himpitan tembok. Dan Rafael berdiri tepat dihadapan nya, kedua tangannya mengepal dan bergetar. Membuat Mawar semakin ketakutan dan menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Sebelum aku kehilangan kesabaranku, cepat jelaskan padaku. Apa yang kau bicarakan tentangku di telepon tadi hah." Pekik Rafael seraya memukulkan genggaman tangannya ke tembok.
Braakk...
Mawar memejamkan kedua matanya, seluruh tubuhnya bergetar melihat amarah besar dari dalam diri Rafael. Sebuah pukulan tepat di tembok kamar nya, membuat tangan Rafael terluka dan berdarah. Sontak saja Mawar cemas dan berusaha mengobati luka di tangan Rafael. Tapi Rafael menolaknya dengan kasar.
"Kenapa kau selalu bersikap begitu padaku mas! Aku tidak melakukan apapun padamu, dan mengenai mama, aku juga tidak berbuat apa-apa. Kau selalu saja menilai ku buruk, aku hanya sedang membicarakan suami temanku." Bantah Mawar tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
Rafael mengerutkan keningnya seraya menghembuskan nafasnya panjang, lelaki itu sedang memikirkan sebuah cara, supaya Mawar dapat mengakui apa yang baru saja didengarnya.
Aku akan mencari bukti di rumah lama ku, percuma saja aku meminta nya untuk jujur. Karena Mawar adalah perempuan yang licik, dengan bukti cctv di rumah lama ku, dia tidak akan bisa mengelak lagi, aku akan memerintahkan anak buahku untuk melihat cctv itu. Setelah aku mendapatkan bukti-bukti nya Mawar tidak akan bisa mengelak lagi, batin Rafael didalam hatinya.
"Baiklah kau tidak mau mengakui perbuatan licikmu, terserah kau saja. Ketika aku bisa membuktikan apa yang baru saja ku dengar, kau tidak akan pernah lagi mendapat kesempatan untuk meminta maaf padaku. Aku sudah memintamu untuk mengatakan segalanya, tapi kau memilih bungkam. Aku tidak menyangka dengan perbuatan licikmu itu, bahkan aku jijik untuk mengatakan apa yang telah kau perbuat padaku. Aku merasa seperti orang yang sangat bodoh, bisa-bisanya aku terjebak oleh permainan mu!." Seru Rafael dengan memalingkan wajahnya pergi.
Terlihat Mawar semakin gelisah, pikirannya sedang menerka-nerka apakah Rafael benar-benar mendengar ucapannya.
Astaga apa yang harus ku lakukan, apakah mas Rafael memang mendengar tentang obat kuat itu, tapi kenapa dia tidak mengatakan apapun. Atau dia cuma ingin memancing ku supaya aku menceritakan segalanya, batin Mawar dengan wajah cemas.
__ADS_1
...Bersambung. ...