KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
PENGAKUAN (PENGORBANAN)


__ADS_3

Ponsel Rafael berdering berkali-kali, tapi dia tidak menghiraukan nya, karena saat itu dia mendapatkan kabar tentang Melati, beberapa anak buah Papanya mendapatkan info, jika Melati berada di Desa Ayahnya, hari itu juga dia ingin menjemput Melati disana, beberapa ajudan mengawalnya sampai ke Desa terpencil itu, tapi sesampainya disana, Rafael tidak dapat menemukan Melati, tetangga disebelah rumahnya tinggal mengatakan, jika pagi tadi pemilik rumah yang dicarinya sudah pergi, dan dia tidak tau kemana tujuannya.


Rafael mengacak-acak rambutnya kasar, dia sangat frustasi, di ambilnya ponsel di dalam tas kerjanya, dilihatnya panggilan berkali-kali dari Mawar dan juga ibu mertuanya, Rafael segera menelepon balik, dan dia mendapatkan kabar jika Mawar jatuh pingsan di jalan, dan saat ini dia sedang diperiksa oleh Dokter.


"Cepatlah pulang Rafa, Mawar terus mengigau memanggil namamu, dia tidak ingin diperiksa Dokter jika kau belum menemuinya," jelas sang Ibu mertua dengan suara parau.


"Ibu tolong katakan pada Mawar untuk tidak keras kepala, saat ini aku sedang di luar kota mencari keberadaan Melati, aku tidak bisa pulang sebelum menemukannya."


"Tapi Rafa, Ibu tidak bisa lagi membujuknya, kau tau bagaimana keras kepala nya Mawar, dia hanya mau diperiksa Dokter jika kau ada bersamanya, tolonglah Rafa, pulanglah demi bayi kalian berdua, biar anak buah Papamu yang melanjutkan pencarian Melati."


Ibu mertuanya terus memohon pada Rafael, bukan karena paksaan Mawar dia melakukannya, karena saat itu kondisi Mawar benar-benar menghawatirkan, wajahnya sangat pucat dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya, padahal sebelumnya Dokter sudah datang untuk memeriksanya, tapi Mawar menolak diperiksa, dengan alasan ingin ditemani suaminya, padahal alasan Mawar yang sebenarnya adalah takut jika kehamilan palsunya terbongkar, karena Dokter yang akan memeriksanya pasti akan mengetahui kehamilan palsunya.


Beberapa jam kemudian Rafael kembali dan menemui Mawar, terlihat perempuan itu hanya terbaring di atas tempat tidurnya, sudah seharian dia tidak beranjak dari sana, bahkan dia menolak untuk makan, Rafael membujuknya untuk mengisi perutnya, tapi dia tetap menolak, akhirnya Rafael memintanya dengan lembut, karena dia tidak ingin jika bayi yang ada dikandungan Mawar kenapa-napa.


"Aku hanya mau makan jika kau menyuapi ku mas," pintanya dengan mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Terpaksa Rafael menurutinya, hanya beberapa suapan saja Mawar merasakan mual yang luar biasa, dia pun bangkit dari tempat tidur bergegas ke kamar mandi, dia memuntahkan makanan yang baru disantapnya, Rafael semakin cemas dan menghubungi Dokter, tetapi Mawar kembali menolaknya, dengan alasan dia hanya ingin diperiksa oleh Dokter yang sebelumnya.


"Tapi Dokter akan datang besok lusa mas, untuk saat ini aku hanya akan minum obat yang telah diresepkan nya, kau tidak perlu hawatir lagi," jelas Mawar dengan mengusap peluh dikeningnya.


"Apa ada sesuatu yang terjadi, kenapa kau selalu menolak jika Dokter akan memeriksamu, jangan-jangan kau menyembunyikan sesuatu dariku?."


"Tidak ada yang ku sembunyikan darimu mas, aku berkata yang sebenarnya."


Belum selesai Mawar melanjutkan ucapannya, Rafael langsung meninggalkannya setelah mendapat telepon dari Papanya, dengan nada marah Tuan Satria memanggilnya untuk datang ke rumahnya, entah apa yang terjadi disana, karena Papanya memakinya dengan nada tinggi, tanpa menghiraukan Mawar yang berdiri mematung dibelakangnya, Rafael bergegas pergi meninggalkan rumah itu, lalu Mawar menghembuskan nafasnya panjang, dia sangat lega terhindar dari pertanyaan Rafael yang menyudutkan nya.


Mawar berjalan tertatih kembali ke kamarnya, tubuhnya benar-benar lemas, seakan tidak ada tenaga sama sekali, dia terduduk lemah di depan pintu kamarnya, nafasnya terasa berat dengan sakit di belakang punggungnya, perawat Ayahnya datang dan membantunya kembali ke kamar.


"Sepertinya bayi yang ada didalam perutmu sedang merajuk ya mbak, dia sangat menyulitkan calon ibunya, terkadang kondisi seperti ini memang sering terjadi mbak," ucap Perawat itu seraya berjalan keluar kamar.


Mawar pun hanya terdiam mendengar ucapan Perawat itu, karena dia tau jika saat itu dia tidak mengandung, dengan perasaan yang kalut dan kondisi badan yang kurang sehat, Mawar memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi jika Rafael mengetahui segala kebohongan nya.

__ADS_1


Sedangkan Rafael yang baru saja sampai di rumah orang tuanya, nampak terkejut melihat Dokter yang menangani Mawar ada disana, dengan wajah cemas Rafael bertanya pada Papanya, kenapa dia dipanggil kesana, Tuan Satria meminta Dokter itu untuk menjelaskan semuanya tentang kehamilan palsu istri sirinya, dengan wajah tertunduk Dokter itu mengatakan semua yang terjadi, tentang penipuan besar yang dilakukan Mawar, supaya dia tidak ditinggalkan olehnya, nampak wajah Rafael berubah merah, karena menahan amarahnya, dia merasa sangat bodoh, karena selalu menuruti ucapan Mawar, yang selalu meminta ini itu padanya.


"Astaga, kenapa aku terjebak ke dalam permainan busuknya," seru Rafael dengan menggebrak meja yang ada didepannya.


"Maafkan aku Tuan, aku tidak sadar telah membantu sandiwara nya, saat itu dia mempermainkan emosi ku sebagai seorang perempuan, nyatanya dialah perusak rumah tangga kakaknya sendiri, aku sudah memperingatkan nya untuk mengaku, tapi dia meminta waktu untuk mengatakan yang sebenarnya, Mawar bilang ingin menunggu sampai kakaknya ditemukan," jelas Dokter itu dengan wajah yang merasa bersalah.


Lalu Tuan Satria meminta Dokter itu untuk ikut bersamanya ke rumah Mawar, dan menceritakan kebohongan nya, tapi tiba-tiba Melati datang ke rumah besar itu, dan menghentikan Papa mertuanya untuk mendatangi adik kembarnya.


"Papa tolong maafkanlah Mawar, sebenarnya aku sudah mengetahui semuanya dari Dokter ini, pagi tadi aku kembali kesini untuk memantau butik yang sudah ku tinggalkan beberapa minggu lamanya, Dokter ini bertemu denganku siang tadi, dia meminta ku untuk kembali pada mas Rafael, dia menceritakan semua drama yang telah Mawar lakukan, aku memaklumi itu Pa, mungkin dia sangat takut kehilangan mas Rafael, dan melakukan segala tipu muslihat, karena merasa bersalah denganku Dokter ini membujukku untuk ikut bersamanya ke rumah Mawar, dan membongkar segalanya, tapi aku menolaknya, aku sudah ikhlas Pa, jika mas Rafael harus bersama Mawar," ucap Melati dengan meneteskan air matanya.


"Tidak!!! apa maksudmu sayang, aku tidak bisa hidup tanpamu, sekarang sudah tidak ada alasan lagi bagiku mempertahankan Mawar, dia tidak mengandung keturunan ku, untuk apa lagi kau memintaku tetap bersamanya," seru Rafael seraya berlutut dibawah kaki Melati.


Melati melangkah mundur dan membalikkan tubuhnya, dia menghampiri Tuan Satria dan mengatakan jika dia ingin berpisah dengan anaknya, nampak Tuan Satria terkejut dengan memegangi dadanya, nafasnya tiba-tiba berat karena detak jantungnya berhenti untuk sesaat, dia tidak bisa menerima keputusan yang menantunya ucapkan, lelaki paruh baya itupun terkulai lemas di atas sofa, sontak semua orang sangat panik dan berusaha menolongnya.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2