KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
MENYELIDIKI KEBENARAN?


__ADS_3

Melati memberitahu Rafael tentang semua yang di ucapkan Mawar padanya. Semua orang di rumah besar itu kebingungan, apakah mereka harus melaporkan Steven pada pihak yang berwajib atau tidak. Karena dalam keadaan tidak waras, pengakuan seseorang di anggap tidak sah. Dan tak bisa dibenarkan atau dipertanggung jawabkan.


"Meski kita tak tau kebenarannya, bisa jadi ucapan Mawar memang benar. Tapi yang menjadi masalah adalah pihak kepolisian tak akan menerima laporan kita begitu saja. Mengingat informasi yang kita dapat berasal dari Mawar, seorang pasien di Rumah Sakit Jiwa." Jelas Aldino pada semua orang.


"Aku juga memikirkan hal yang sama denganmu Al, satu-satunya jalan adalah menunggu Mawar mendapatkan akal sehatnya kembali. Dan kita tanyakan sekali lagi, apakah ucapannya tentang Steven itu benar. Tapi aku juga sedikit ragu, bisa saja Mawar menyangkal semuanya ketika ia sembuh nanti." Ucap Rafael dengan memijat pangkal hidungnya.


Tuan Satria yang baru saja kembali dari Rumah Sakit mendengar pembicaraan mereka. Ia menyarankan pada Rafael untuk menjenguk mantan istrinya itu. Supaya Rafael mendapatkan informasi berharga dari Mawar. Karena ketika dalam keadaan tak waras begitu, bisa jadi Mawar mengatakan hal yang salah ataupun benar, dan tak ada yang tau itu.


"Melati sudah mengatakan semua pada papa, jika Dokter menyarankan nya untuk membawamu bertemu dengan Mawar. Karena setiap hari ia selalu memanggil mu dan meminta maaf atas penculikan Zahra waktu itu. Coba saja kau jenguk dia Rafa, siapa tau Mawar bisa cepat sembuh dan memberikan informasi yang berguna untukmu." Jelas Tuan Satria seraya duduk di sofa.


Rafael menghembuskan nafas panjang, sebenarnya ia sudah tak mau berurusan lagi dengan Mawar. Tapi apa yang dikatakan papa nya ada benarnya. Rafael mengerutkan keningnya berusaha memikirkan langkah selanjutnya.

__ADS_1


"Jujur saja aku tak yakin melakukannya, Mawar bisa saja berkelit ketika ia sembuh nanti."


Melati meyakinkan Rafael jika Mawar yang ia temui kemarin bukanlah Mawar yang dulu. Meski Mawar hilang akal, sikapnya jauh lebih baik daripada saat ia dalam kondisi normal.


"Sekali saja mas, tolong temui dia. Buat dia mengakui segalanya, aku tau Mawar akan mengatakan apapun yang kau tanyakan. Aku dapat merasakan jika ia sangat mencintaimu mas, aku adalah saudara kembarnya, aku bisa merasakan ketika ia bicara jujur atau tidak." Ucap Melati dengan wajah sendu.


Setelah mempertimbangkan perkataan Melati, Rafael memutuskan untuk menjenguk Mawar di Rumah Sakit Jiwa. Seperti yang Melati katakan, Mawar langsung berubah seperti orang waras ketika bertemu dengan Rafael. Mawar mengecup punggung tangan Rafael seraya mengucapkan permintaan maaf. Mawar berlinang air mata, dengan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tentang dirinya dan juga Steven. Mawar tak pernah bermaksud membuat Zahra keguguran, semua itu terjadi karena faktor kecelakaan saja.


Disamping mereka ada Dokter yang menangani Mawar. Melati bertanya pada Dokter itu, apakah ucapan Mawar saat itu bisa dipercaya atau tidak. Sang Dokter hanya menyunggingkan senyumnya seraya menggelengkan kepalanya.


"Apa yang harus saya katakan, orang dalam keadaan normal pun tak bisa dipastikan ucapannya benar atau tidak. Apalagi seseorang dengan kondisi seperti saudara anda. Bisa jadi ia memang mengatakan hal yang pernah terjadi, tapi bisa juga ia berhalusinasi seakan semua telah terjadi.

__ADS_1


Rafael berusaha mengajak Mawar berbicara layaknya orang yang normal. Meski terkadang Mawar tertawa tanpa sebab, ia juga merengek seperti anak kecil yang akan ditinggalkan oleh Rafael. Mawar menangis tersedu-sedu dengan memegangi tangan Rafael.


"Maafkan aku mas... Jangan tinggalkan aku huhuhu... Beri aku kesempatan terakhir!." Seru Mawar histeris.


Rafael kebingungan menghadapi tingkah laku Mawar. Dia berusaha menenangkan Mawar, dengan mengatakan ia sudah memaafkan nya. Seketika Mawar berhenti menangis, ia tertawa lepas seraya bersorak kegirangan. Mawar melompat-lompat layaknya anak kecil dengan bertepuk tangan.


"Ayo mas kita pulang ke rumah, aku ingin bertemu dengan Catlea dan meminta maaf padanya." Ajak Mawar dengan menarik tangan Rafael.


Karena terus merengek meminta Rafael untuk membawanya pulang, Dokter segera memberikan suntikan penenang. Supaya nanti Mawar tak mengamuk, ketika Rafael benar-benar pergi meninggalkan nya. Melati berurai air mata melihat kembarannya benar-benar hancur hidupnya. Aldino mendekapnya supaya Melati tak larut dalam kesedihan nya. Rafael memandang kedekatan sepasang suami istri itu, hatinya terasa sedikit sesak melihat Melati didekapan lelaki lain. Aldino menyadari gelagat Rafael, lalu ia mengendorkan pelukan nya untuk menjaga perasaan Rafael.


...Bersambung. ...

__ADS_1


__ADS_2