
Meski Steven telah mendapatkan hak warisan nya, ia tetap berambisi merebut hak asuh Catlea. Tapi Daryl menegaskan jika ia tak perlu mempermainkan hidup gadis kecil itu, apalagi ia terbukti darah daging nya sendiri.
"Berbelas kasihan lah padanya, ia hanya anak kecil yang memiliki keterbatasan. Dengan penuh kasih sayang keluarga Hadinata merawat dan menjaga putri mu itu. Harusnya kau berterima kasih pada mereka, kenapa kau harus membuat masalah baru lagi. Kembalilah ke Brazil dan mulai hidupmu kembali, lupakan semua denganmu itu." Daryl berusaha menasehati adiknya, tapi tak ada respon dari Steven.
"Kenapa kau memaksaku mengalah hah?."
"Kau sudah menang banyak Stev, kau mendapatkan apa yang kau mau. Hak warisan mu dan juga seorang putri yang sangat cantik. Meski kau mengakuinya hanya demi harta, setidaknya jadilah seorang ayah untuknya, biarkan ia bahagia bersama orang-orang yang menyayangi nya. Aku berjanji akan membantu semuanya, jika kau bersedia membiarkan gadis kecil itu tinggal bersama keluarga mereka."
"Apa kau mau memberikan sepuluh persen saham mu untukku? Aku ingin bagianku lebih banyak daripada kau. Jika kau setuju, aku akan melupakan keinginan ku untuk merebut hak asuh Catlea!." Seru Steven dengan tersenyum licik.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang, Daryl menganggukan kepalanya menyetujui keinginan sang adik. Daryl bukanlah orang serakah yang gila harta, tak masalah baginya kehilangan sepuluh persen saham bagian nya. Asal keponakan nya tetap tinggal bersama keluarga yang baik seperti keluarga Hadinata.
"Besok kita akan menandatangani berkas pengalihan saham, tapi kau juga harus menandatangani berkas perjanjian yang berisikan jika kau mengingkari janjimu, maka sepuluh persen saham ku akan kembali, beserta dua puluh lima persen saham mu untuk putrimu Catlea. Bagaimana, apa kau setuju?."
"Kenapa kau seenaknya membuat perjanjian seperti itu denganku? Lagipula kelak harta ku juga akan dimilikinya, kenapa harus ada perjanjian lain lagi?."
"Itu hanya untuk berjaga-jaga jika kau serakah, dan menjual semua sahammu. Dan kelak putri mu itu tak akan mendapatkan apapun darimu!."
"Because she is your daughter!." Sahut Daryl dengan menunjuk wajah Steven.
__ADS_1
"Ok give me time, aku harus memikirkan semuanya terlebih dulu!." Seru Steven seraya melangkahkan kakinya pergi.
Di sebuah Rumah Sakit Jiwa, nampak Mawar sedang mengamuk dan mendorong beberapa perawat. Mawar terus berteriak memanggil nama Rafael, dan terus mengatakan permintaan maaf. Terkadang Mawar juga menangis sesegukan dengan berlutut memohon ampunan karena telah merencanakan penculikan wanita yang menjadi madu nya. Karena kondisi Mawar terus memburuk, Dokter yang menanganinya memanggil Melati sebagai keluarga dari Mawar. Dokter menjelaskan jika kejiwaan Mawar benar-benar terganggu, dan ia meminta Melati memanggil seseorang yang terus menerus disebut Mawar disetiap waktu. Tak lama setelah itu Dokter mengajak Melati untuk melihat keadaan saudara kembarnya. Nampak Mawar sedang duduk di sudut ruangan, dengan rambut yang berantakan. Tapi tanpa diduga, Mawar membalikkan tubuhnya, memandang wajah Melati dengan mata berbinar-binar.
"Kak Melati... Tolong aku kak... Panggilkan mas Rafael, aku sangat merindukan nya kak. Mas Rafael marah padaku, karena aku bekerja sama dengan Steven untuk menculik maduku. Padahal aku tak berniat membuat Zahra keguguran, itu salah Steven kak, tolong jelaskan pada mas Rafael, dia pasti akan mendengarkan penjelasan darimu... Please...." Ucap Mawar dengan sorot mata yang kosong, seakan separuh jiwa nya memang hilang.
"Astaga Mawar... Ternyata kau benar-benar mencintai mas Rafael. Bahkan dalam keadaan tak berakal pun kau tetap mencintai nya, tapi perbuatan mu itu salah adikku. Dan Steven? Apa dia Steven yang sama dengan yang dimaksud papa Satria? Jika itu memang benar, berarti dialah penjahat yang belum terungkap identitas nya." Batin Melati didalam hatinya.
Aldino mengajak Melati untuk segera pergi dari sana, tapi Melati menolak ajakan suaminya. Melati yang berhati lembut itu menangisi nasib saudara kembarnya. Melati memeluk Mawar dengan berlinang air mata, Mawar hanya terkekeh dengan terus menyebut nama Rafael. Kemudian Melati berjanji pada Mawar, untuk membawa Rafael dan menjenguknya. Melati sangat berharap, dengan kedatangan Rafael nanti dapat membuat keadaan Mawar berangsur membaik seperti semula.
__ADS_1
...Bersambung. ...