
Semua orang mengantar kepergian Melati ke bandara, mereka saling berpelukan dan melambaikan salam perpisahan. Rafael mengecup pipi Alvino, wajahnya sendu dengan mata berkaca-kaca.
"Datanglah kapanpun kau mau jika kau merindukan nya, Alvino adalah putramu kau bisa menemuinya kapanpun itu." Ucap Aldino seraya merangkul Rafael.
Keduanya terlihat akrab dengan saling merangkul, Melati menyunggingkan senyumnya melihat kedekatan keduanya. Kebersamaan kedua keluarga itu berakhir setelah Melati dan Aldino mendapat panggilan boarding.
"Rafael pergilah ke Hotel Rich Carlton, Mr Dixon sudah dalam perjalanan kesana. Kita akan bekerja sama dengan perusahaan nya." Perintah Tuan Satria seraya berjalan menuju mobilnya.
"Baiklah pa, aku akan kesana setelah mengantar Zahra ke Dokter untuk memeriksakan Catlea. Beberapa hari ini Lea sering rewel karena tumbuh gigi membuat nya deman."
__ADS_1
"Tidak ada waktu lagi Rafa! Mr Dixon akan segera sampai, dan dia tak akan mau menunggu lama. Zahra akan pergi bersama sopirku, dan kami akan menunggu mobil lain datang. Karena papa dan mama harus menghadiri acara sosial di sebuah panti asuhan."
Rafael segera pergi menemui rekan bisnisnya, Zahra yang merasa tak enak meminta kedua mertuanya untuk memakai mobil mereka, karena dia akan memesan taksi online saja. Tapi Tuan Satria menolaknya, dan meminta nya untuk segera pergi dengan sopir pribadi nya.
"Tak ada waktu lagi nak, pergilah bersama Catlea. Dia pasti sangat kesakitan karena giginya yg tumbuh itu. Sebentar lagi mobil kami akan datang."
Meski sungkan Zahra tak dapat menolak perintah mertuanya. Akhirnya ia pergi bersama Catlea di antar sopir pribadi Tuan Satria. Sesampainya di Rumah Sakit Zahra menggendong Lea, ia sedang menunggu antrian untuk bertemu dengan Dokter Spesialis Anak. Tanpa di duga Mawar melihat musuh terbesarnya ada di satu Rumah Sakit yang sama dengannya. Ya Mawar sedang dalam pengobatan Dokter ahli jiwa, karena akhir-akhir ini Mawar susah tidur dan sulit mengendalikan emosinya yang terkadang meledak-ledak. Mawar menebus obat di apotik, ia menggunakan hoodie untuk menutupi wajahnya. Mawar duduk di sebelah Zahra, dan disaat Zahra masuk ke dalam ruangan untuk menemui Dokter. Mawar tetap menunggu disana meski ia sudah menebus resep obatnya.
"Sus aku menemukan anak ini di lorong seorang diri, entah kemana orang tua nya." Jelas Mawar seraya melangkahkan kaki nya pergi.
__ADS_1
"Tapi Nyonya, kau harus menuliskan nama mu di buku ini." Sahut perawat itu.
Tapi Mawar mengacuhkan ucapan perawat itu, ia pergi begitu saja. Mawar berjalan terburu-buru, ia menghentikan taksi yang ada di depan nya. Mawar meminta sopir taksi itu untuk mengikuti mobil yang ada di depannya. Mobil sedan berwarna hitam, itu adalah mobil yang digunakan lelaki misterius tadi. Entah apa yang di inginkan lelaki itu, dengan membius Zahra dan membawanya pergi. Mobil itu memasuki kawasan gudang yang terletak di area pelabuhan. Mawar keluar dari taksi dan berjalan perlahan mengikuti langkah lelaki misterius itu. Mawar berjalan mengendap-endap, untuk melihat apa yang akan dilakukan lelaki itu. Zahra yang masih tak sadarkan diri, di ikat di sebuah bangku. Lelaki itu membuka topi dan kaca mata yang menutupi wajahnya, ia menyeringai dengan berkacak pinggang.
"Sudah lama aku menantikan hari ini, hari pembalasan yang tak akan di lupakan oleh keluarga Hadinata!." Serunya dengan tersenyum miring.
...Berikan semangat pada author dengan memberikan Gift atau Vote nya yuk, Terima kasih 😘💕...
...Bersambung. ...
__ADS_1
Hai aku punya referensi cerita yang bagus buat kalian, yuk langsung mampir 🤗