KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
MENANG BUKAN BERARTI BAHAGIA


__ADS_3

Hari-hari Rafael berubah suram semenjak kepergian Melati, meski setiap harinya Mawar selalu melayaninya, sebagai seorang istri yang sesungguhnya. Tapi Rafael bersikap acuh tak acuh padanya.


Hampir satu bulan lamanya, Mawar tidak merasakan sentuhan dari Rafael, segala cara sudah dilakukannya, tapi Rafael terus menolaknya.


Apakah aku sudah tidak cantik lagi, kenapa mas Rafael tidak melirik ku sama sekali, batin Mawar dengan berkaca di depan cermin.


Dia mendengus kesal setelah menatap Rafael sedang berbaring dengan memunggungi nya, rindu dengan belaian Rafael, Mawar memutuskan untuk memberikan obat kuat, pada secangkir teh yang akan diminum Rafael sebelum tidur.


Aktifitas harian seperti itu sangat wajar dilakukannya setiap hari, sehingga tanpa rasa curiga Rafael meneguk habis teh hangat itu. Tidak membutuhkan waktu lama, efek obat kuat bereaksi, seluruh tubuh Rafael berkeringat hingga dia membuka pakaiannya. Dan Mawar dengan lingerie nya sudah bersiap memasuki kamar, dia mendekap tubuh Rafael dari belakang, nampak cahaya lampu remang-remang menambah suasana hangat di antara keduanya. Mereka melakukan penyatuan, meski dalam keadaan hamil Mawar tetap menggairahkan. Dan membuat Rafael mengejang beberapa kali.

__ADS_1


"Aah... Melati...!" Ucap Rafael lirih ditengah pelepasannya dengan Mawar.


Mawar nampak kesal ketika mendengar nama Melati disebut oleh Rafael, disaat mereka sedang melakukan permainan panasnya. Kesal dan marah ketika nama Melati masih disebut oleh Rafael, bahkan ketika perempuan itu sudah pergi jauh dari sana. Tapi sosok Melati seakan tidak bisa pergi dalam hati dan pikiran Rafael.


Setelah pelepasan itu, Rafael memakai kembali bajunya, dia bangkit berdiri meninggalkan Mawar yang masih tanpa busana, Rafael pergi ke ruang kerja nya dan merenungi semuanya.


Astaga kenapa aku kembali bercinta dengan Mawar, setelah kepergian Melati aku sudah tidak pernah menyentuh nya, apa memang naluri ku sebagai lelaki normal membutuhkan hubungan itu, batin Rafael dengan mengacak-acak rambutnya.


"Setelah kami resmi menikah, bayangan kak Melati masih saja menghantui mas Rafael bu, aku tidak mengerti kenapa kak Melati masih menjadi penghalang di antara aku dan mas Rafael, bukankah seharusnya kami bahagia kan bu, karena sebentar lagi kami akan menjadi orang tua." Pekik Mawar berlinang air mata.

__ADS_1


"Sudah cukup Mawar, jangan kau salahkan kakakmu lagi, dia sudah banyak menderita karena kalian berdua, biarkan dia hidup tenang tanpa gangguan dari kalian." Sahut ibunya dengan lantang.


"Kenapa ibu membelanya, apakah ibu tau bagaimana menderita nya aku saat ini, disaat aku melayani mas Rafael, dia masih saja menyebut nama kak Melati, sakit bu, hati Mawar sakit." Pekiknya berderai air mata.


"Ibu mengerti Nak, tapi apa salah kakakmu itu, dia sudah meninggalkan kota ini, bahkan semenjak Melati pergi, Melati belum pernah menghubungi ibu lagi, entah bagaimana kabarnya sekarang. Jika Rafael masih mengingat Melati, bukankah itu kesalahan Rafael sendiri, seharusnya kau menyalahkan nya, bukan malah menyalahkan kakakmu seperti itu, ingatlah Nak, kakakmu audah berkorban banyak untukmu, dan kau malah bersikap seperti itu padanya."


"Bela saja terus anak ibu yang satu itu, dari kecil memang ibu lebih memilih nya daripada aku, wajar saja sekarang ibu selalu membelanya, sudahlah bu, kita tidak usah berbicara lagi, percuma, ibu hanya akan membela perempuan mandul itu." Ucapnya ketus seraya mematikan panggilan telepon itu.


Mawar melemparkan ponselnya, dia sangat kesal karena semua orang selalu mengagungkan Melati. Dia duduk di sudut ruangan dengan berlinang air mata, Rafael berjalan melewatinya tanpa menghiraukan air mata yang membasahi wajahnya, sehingga Mawar semakin kesal dan melempar vas bunga yang ada di samping nya.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2