
Sesampainya di kamar Hotel, nampak Nyonya Silvia sudah menantikan kedatangan Rafael. Dia terlihat sangat berantakan, bahkan untuk sekedar berdiri saja harus dibantu kedua anak buah papa nya.
"Kalian bisa menunggu di luar, ada yang ingin ku bicarakan dengan Rafael." Perintah Nyonya Silvia.
Dia menatap sendu anak laki-laki nya, dan membersihkan wajahnya yang berkeringat. "Rafael apa yang kau lakukan hari ini benar-benar keterlaluan, papa sampai marah besar karena ulahmu. Mama tidak tau harus berkata apa lagi, untuk membelamu di depan papa. Bagaimana jika semua orang melihat perilaku burukmu hari ini." Ucap Nyonya Silvia menatap wajah Rafael yang mulai sendu.
Rafael berurai air mata seraya bersimpuh dibawah kaki mama nya. "Ma... Tolong Rafa... Kembalikan Melati pada Rafa Ma...." Rafael memohon dengan berurai air mata.
Jadi semua ini karena perempuan itu lagi, apa yang dilakukan nya, sehingga Rafael menhadi hancur seperti ini, batin Nyonya Silvia dengan mengerutkan keningnya.
"Rafa sayang, apa yang kau maksud Nak. Melati bukanlah perempuan yang baik untukmu, pikirkanlah Mawar yang saat ini sedang mengandung benih mu. Kau tidak bisa terus terpuruk karena perempuan tidak berguna itu, turuti mama Rafa. Lupakan Melati dan lanjutkan hidupmu bersama Mawar."
Rafael berteriak lantang, mengatakan jika dia tidak bisa hidup tanpa Melati. Kondisi nya benar-benar berantakan karena efek minuman yang memabukkan itu. Rafael tidak bisa mengendalikan dirinya, dia bangkit berdiri seraya berjalan sempoyongan keluar kamar nya. Ketiga anak buah Tuan Satria berusaha menghentika nya, tapi Rafael memberikan perlawanan.
__ADS_1
"Hentikan tingkah konyol mu itu Rafa." Pekik Tuan Satria dengan menampar pipi Rafael.
Rafael tersungkur ke lantai, perlahan dia kembali mengingat semua kejadian. Teringat potongan kenangan disaat Melati bertemu dengan nya di acara resepsi pernikahan, dan seorang lelaki mengatakan rencana pernikahannya dengan Melati. Rafael memekik dengan memukul-mukulkan tangannya ke lantai, hingga jari-jarinya terluka dan berdarah. Nyonya Silvia berlari dan menghentikan Rafael, perempuan itu memeluk anaknya dan meminta nya untuk tenang.
"Biarkan saja dia terluka, mungkin dengan begitu akal sehatnya akan kembali." Seru Tuan Satria berkacak pinggang.
"Tidak pa... Jangan berbuat seperti itu padanya."
"Lihatlah apa yang anak bodoh ini lakukan, dia mempermalukan keluarga kita. Aku tidak habis pikir dimana otaknya ketika dia melakukan tindakan bodoh macam itu." Pekik Tuan Satria dengan amarah yang menguasai dirinya.
Tuan Satria memberikan ponselnya, yang berisi sebuah video. Dimana Rafael sedang menggoda seorang perempuan, dan perempuan itu manampar nya. Hingga akhirnya Rafael dibawa ke Ruang Keamanan, dan dia tertidur di lantai yang kotor. Tentu saja Tuan Satria akan marah, karena apapun yang dilakukan oleh Rafael selalu menjadi sorotan wartawan, demi mendapatkan berita yabg akan menghebohkan.
Nyonya Silvia menghembuskan nafasnya panjang, dia tidak menyangka dengan apa yang Rafael lakukan di tempat umum seperti tadi.
__ADS_1
"Semua ini karena Melati pa, Rafael jadi bertingkah buruk karena nya! Dasar perempuan tidak berguna, terus saja mengganggu anak kita!."
"Kenapa kau selalu menyalahkan Melati atas apa yang anak bodoh ini lakukan, bahkan ketika dia sudah menjauh dari hidup kita, kau terus menyalahkan nya atas apapun yang terjadi pada hidup putramu."
"Tentu saja itu salahnya pa, tanya saja pada Rafael apa yang sebenarnya tetjadi." Sahut Nyonya Silvia lantang.
Tuan Satria menatap tajam pada Rafael, lalu dia menceritakan pertemuan tak terduga nya dengan Melati. Rafael menceritakan semua yang terjadi di acara resepsi pernikahan itu. Setelah itu dia berlutut didepan Tuan Satria, dan memohon permintaan pada nya.
"Pa... Bantu aku bersama Melati kembali pa, aku adalah anakmu satu-satunya. Jika Melati tidak kembali ke dalam hidupku, lebih baik aku tiada saja pa." Ucap Rafael berlutut di hadapan papanya.
"Sadar Rafael, apa yang kau katakan pada papamu hah. Lebih baik kau istirahat supaya akal sehat mu kembali, mama tidak tahan mendengar mu terus membicarakan perempuan itu." Pekik Nyonya Silvia membulatkan kedua mata nya.
Bersambung.
__ADS_1