
Semua orang semakin bingung menghadapi situasi yang diluar kendali. Mendadak kehidupan Rafael kembali ke masa lalu, dimana ia masih menganggap Melati adalah istrinya. Dan Rafael berniat untuk menceraikan Mawar. Aldino menanggapi nya dengan bijak, ia tak keberatan membantu Rafael mendapatkan kembali ingatan nya. Aldino memberi pengertian pada Melati, supaya ia tak larut dalam kesedihan di masa lalu nya, karena saat ini yang lebih utama adalah kesembuhan Rafael.
"Sayang, aku tak pernah memintamu untuk bersandiwara sebagai istrinya. Setidaknya biarkan Rafael mempercayai keyakinan nya, jika kau memang masih istrinya. Dokter bilang itu akan lebih cepat membantunya kembali mengingat masa sekarang. Perlahan ingatan nya akan kembali, karena semua ini sangat penting untuk kebaikan semua orang. Dengan kembalinya ingatan Rafael, ia akan mengingat semua kejahatan yang Mawar lakukan. Dan ia bisa mengambil keputusan dalam keadaan yang sehat, supaya kelak tak ada masalah ke depannya. Karena Rafael menceraikan Mawar dalam keadaan amnesia." Ucap Aldino meyakinkan Melati.
Tuan Satria dan Nyonya Silvia memandang Melati dengan penuh harapan. Mereka tak berani memohon hal sebesar itu padanya, karena itulah mereka hanya terdiam dengan mata yang penuh harapan memandang Melati.
"Nyonya Melati, aku tau ini berat untukmu. Tapi tolonglah kedua orang tua itu, supaya mendapatkan putra nya seutuhnya. Meski Tuan Rafael tak mengingatku, aku tak masalah. Lagipula ia belum menerima diriku sebagai istrinya, jadi wajar saja jika ia melupakan ku. Aku hanya ingin keadilan untuk bayiku yang telah tiada. Dan itu hanya akan terjadi jika Tuan Rafael kembali mendapatkan ingatan nya." Zahra memohon dengan wajah sendu, kedua tangannya menggenggam erat tangan Melati.
Meski agak ragu dengan apa yang harus ia putuskan. Melati berusaha memikirkan kebaikan untuk semua orang yang disayangi nya. Tiba-tiba seorang perawat berlari memanggil seseorang yang bernama Melati, karena pasien atas nama Rafael menolak untuk diberikan suntikan dan juga obat-obatan. Rafael akan melakukan perintah perawat hanya jika Melati ada bersamanya. Dengan menghembuskan nafas panjang, Melati melangkahkan kakinya gontai. Ditatapnya Rafael yang sedang duduk di atas ranjang, lelaki itu tengah melambaikan tangannya memanggil Melati supaya mendekat padanya.
"Apa kau masih marah padaku Mel? Kau tau kan aku sangat membutuhkan mu, apalagi dalam keadaan seperti ini. Entah kenapa kepalaku sering terasa sakit, dan aku juga merasa kau sedang menjauhiku. Jelaskan padaku, bagaimana aku bisa sampai seperti ini?." Tanya Rafael dengan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Maaf Tuan anda harus meminum obat ini dan segera istirahat. Pengunjung dilarang berada di dalam ruangan, hanya satu penjaga saja yang diijinkan ada di dalam ruangan." Jelas sang perawat pada mereka.
Nyonya Silvia mengatakan jika ia yang akan menjaga Rafael disana. Tapi Rafael menolak dan meminta Melati untuk menemani nya. Zahra dan Aldino saling menatap, mereka tak tau harus berkata apa. Lalu Tuan Satria menjelaskan pasa Rafael, jika Melati harus banyak istirahat. Karena sudah seharian ia berada di luar rumah.
"Biarlah mama yang menemanimu Rafa, ia akan bergantian dengan Zahra. Biarkan Melati istirahat di rumah untuk beberapa waktu." Ucap Tuan Satria, yang langsung membuat Rafael bertanya-tanya.
Rafael melihat ke arah Aldino dan juga Zahra, ia bertanya siapa keduanya. Kenapa mereka berada di ruangan nya. Aldino berinisiatif menjelaskan pada Rafael, jika ia adalah kerabat jauh Melati. Mereka datang untuk menjenguk nya, ketika Rafael sedang mencerna penjelasan Aldino. Seorang perawat datang memberitahu Melati, jika operasi saudara kembarnya sudah selesai. Dan pasien tersebut sedang mengamuk, karena tak bisa menerima kenyataan, kalau sebelah matanya sudah hilang. Semua orang cemas, dan meminta Melati untuk tidak melihat Mawar di ruangan nya. Karena Mawar akan selalu menyalahkan Melati untuk apa yang terjadi padanya.
Sontak saja Melati merespon ucapan Rafael, ia mengatakan jika Mawar memang sudah melahirkan seorang anak perempuan, dan Rafael telah melupakan nya.
"Melahirkan seorang anak perempuan? Kapan Mel? Kenapa aku tak dapat mengingatnya, apa yang sebenarnya terjadi padaku?." Pekik Rafael dengan memegangi kepala yang dibungkus perban.
__ADS_1
Tak tau harus berbuat apa, Melati berlari ke ruangan Mawar. Sebagai seorang kakak tentunya hati Melati tak kan tega melihat penderitaan Mawar. Tapi sesuai dugaan semua orang, Mawar semakin murka ketika melihat Melati masuk ke dalam ruang inap nya.
"Untuk apa kau datang kesini hah? Pasti kau ingin menertawakan kehancuran ku kan? Aku tau kau sedang menertawakan nasib burukku! Kau pasti sangat senang mengetahui kehancuran ku, karena itulah kau datang untuk melihat dengan mata kepalamu sendiri. Pergi kau pergi!." Seru Mawar dengan sebelah mata yang tertutup perban.
"Aku tak bermaksud begitu Mawar, percayalah padaku. Bagaimanapun kita ada saudara, aku tak akan sekejam itu untuk menertawakan dirimu. Ibu sedang pergi berobat ke luar kota, karena itulah hanya ada aku yang menjenguk mu. Kau tau War, apa yang telah kau perbuat pada keluarga mu sendiri? Kau telah menghancurkan rumah tangga mu, dengan bersekongkol bersama para penjahat untuk menculik Zahra. Kini Zahra sudah kehilangan bayinya untuk selamanya, dan mas Rafael telah bersumpah untuk menceraikan mu. Karena kau telah membuat darah dagingnya tiada." Jelas Melati pada Mawar yang memandang dirinya penuh kebencian.
Tidak! Aku tak mau diceraikan mas Rafael! Apa yang harus ku lakukan sekarang? Aku kembali kehilangan sesuatu dari bagian tubuhku, aku tak akan sanggup kehilangan mas Rafael juga. Batin Mawar dengan menggelengkan kepalanya berulang kali.
...Bersambung....
Hai aku punya referensi cerita horor yang bagus buat kalian semua. Novel yang menceritakan seorang gadis indigo yang tinggal di desa terpencil, Desa Rawa Belatung namanya. Apakah kisahnya seseram namanya, yuk dibaca ceritanya. Ada versi cetaknya juga loh bisa di order mulai hari ini, Terima kasih 😘💕
__ADS_1