KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
KEHILANGAN BESAR (PENDERITAAN)


__ADS_3

Setelah memenangkan dirinya, Melati mendatangi Mawar di kamarnya, wajahnya nampak sendu, tetapi Melati tetap menyunggingkan senyumnya, dipeluknya Mawar yang sedang terbaring di atas tempat tidur, sontak saja Mawar tersadar dan mendorong Melati supaya melepaskan pelukannya.


"Kenapa kau memelukku seakan aku ini orang yang paling menderita, tidak perlu bersimpati padaku, pergilah dari sini." Pekik Mawar dengan tatapan sinis.


Melati menghembuskan nafasnya panjang, kepalanya tertunduk tidak mampu menatap wajah adik kembarnya itu. Lalu Melati mengucapkan selamat tinggal pada Mawar dengan suara bergetar, dia tidak mampu menahan perasaannya.


"Mawar apakah kau sangat membenciku, padahal kita sudah terpisah sejak masi bayi, kita berjumpa disaat kita sudah dewasa, mungkin waktu yang salah, kau bertemu dengan mas Rafael dan jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi dia sudah terlanjur menikah denganku, tapi sekarang kau telah mengandung benihnya, dan kau lebih berhak bersamanya daripada aku, kau sangat beruntung akan menjadi seorang Ibu, dari suami yang sangat baik seperti mas Rafael, aku mengalah demi bayi yang kau kandung adikku, aku ingin dia memiliki status dimata hukum, jagalah mas Rafael dan juga Ayah, setelah ini aku akan pergi jauh dari kehidupan kalian." Ucap Melati dengan berderai air mata.


Mawar tercekat mendengar perkataan Melati, dia mengerutkan keningnya, dengan pertanyaan yang ada didalam batinnya.


Apakah benar yang dikatakan nya, apa aku benar-benar hamil, sulit untuk dipercaya, ternyata Tuhan sangat menyayangi ku, Dia mengabulkan harapanku, astaga... Aku beruntung sekali, awalnya aku berbohong pada semua orang, tapi sekarang aku sedang hamil keturunan mas Rafael, batin Mawar didalam hatinya.


Dipandangnya saudara kembarnya yang wajahnya basah oleh air mata, setengah hatinya iba melihat penderitaan yang Melati rasakan, lalu Mawar menyeka air mata kembarannya itu, didongakan kepala Melati ke atas, Mawar mengucapkan terimakasih berkali-kali, entah darimana kesedihan tiba-tiba merasuk ke dalam hatinya, ketika dia melihat penderitaan yang Melati rasakan.


"Maafkan aku kak, takdir begitu jahat pada kita, kita dipersatukan kembali hanya untuk saling menyakiti dan dipisahkan lagi, sungguh kak, aku sangat mencintai mas Rafael, bahkan jika agama tidak melarang hubungan ini, aku rela berbagi cintanya denganmu, tapi kenyataan berkata lain, salah satu dari kita harus melepaskan nya, dan kau merelakannya demi aku, terimakasih sudah menjadi kakak yang sempurna untukku." Ucap Mawar seraya memeluk erat Melati.


Nampak sang Ibu terharu melihat pemandangan didepan matanya, akhirnya kedua anaknya berbaikan, meski setelah ini mereka harus hidup terpisah. Rafael sangat frustasi dengan keadaan saat itu, dia menggebrak meja kaca di ruang tamu.

__ADS_1


Pyaar...


Kaca itu pecah, dan pecahannya mengenai jari-jari Rafael, semua orang terkejut dan berlari ke ruang tamu, mereka melihat tangan Rafael sudah berdarah dan pecahan kaca berserakan di lantai. Melati berlari menghampiri Rafael dan membalut lukanya dengan merobek rok panjangnya.


"Apa yang kau lakukan mas, kenapa kau menyakiti dirimu sendiri." Seru Melati dengan wajah cemas.


"Rasa sakit ditanganku tidak seberapa sayang, dibanding rasa sakit yang ada didalam hatiku, lagi-lagi aku mengecewakan mu, dan semua kesalahan ku tidak berujung, apakah kau tidak bisa memaafkan ku sayang." Pinta Rafael mengiba dengan berurai air mata.


Mawar tertegun melihat tingkah Rafael yang nampak berantakan, lelaki itu terlihat sangat payah dan tidak berdaya, bayangan yang selama ini dia lihat adalah Rafael yang sangat sempurna, tapi kesempurnaan itu runtuh di hadapan Melati, saudara kembarnya sendiri.


Rafael berlutut dibawah kaki Melati, dia memohon dan bersujud didepannya, membuat Mawar yang semula sudah mulai menyayangi Melati kembali, sekarang berubah menjadi kesal, dan tumbuh kebencian pada kakak kembarnya lagi.


"Kenapa kau bersikap seperti ini mas, berdirilah, jangan merendahkan dirimu dengan bertingkah seperti ini, kau adalah imam dari istrimu, tidak sepantasnya kau merendah begitu, kau tidak melakukan kesalahan apapun mas, Mawar juga istri mu, wajar saja kau berhubungan dengannya, dan sekarang kau telah menjadi calon Papa, aku sangat bahagia untuk kalian berdua." Ucap Melati berusaha tegar.


"Tentu saja aku bersalah, kau adalah perempuan yang paling ku cintai, tapi aku berhianat dengan adikmu sendiri, aku sudah berjanji untuk meninggalkan nya, tapi ternyata akibat perbuatan bejat ku, aku harus menanggung semua penderitaan ini." Sahut Rafael dengan mengacak-ngacak rambutnya.


Kemudian Mawar menengahi percakapan mereka, dia meminta Rafael untuk ke Dokter supaya lukanya diperiksa, tapi Rafael justru membentak Mawar dan memakinya.

__ADS_1


"Tutup mulutmu Mawar, semua ini terjadi karenamu, apa yang kau lakukan padaku hah, semenjak bersamamu aku jadi sering melakukan hubungan itu, padahal sebelumnya aku tidak seperti itu, jujurlah padaku, apa yang kau perbuat dibelakangku." Bentak Rafael dengan membulatkan kedua matanya.


Plaak...


Sebuah tamparan melayang diwajah Rafael, Ibu mertuanya tidak terima, karena anaknya dituduh yang tidak-tidak.


"Kau adalah lelaki serakah Rafael, kau sudah memiliki istri yang sempurna seperti Melati, tapi kau masih berpaling dengan Mawar, dan sekarang kau menyalahkan nya, apa kau tidak berpikir sebelum mengatakan semua itu, Mawar adalah seorang perempuan, kenapa kau merendahkan harga dirinya dihadapan keluarga nya sendiri." Pekik sangat Ibu dengan berlinang air mata.


Sontak saja Rafael terdiam dengan menundukkan wajahnya, dia tidak bisa menjawab ucapan ibu mertuanya, lalu Melati menenangkan ibunya, dia membawa sang ibu ke sebuah ruangan, didekapnya sang Ibu dengan penuh kasih sayang, Melati tidak membela siapapun, tapi dia tau jika hati Ibunya sedang terluka karena ucapan Rafael.


"Sudah ya Bu, jangan dilanjutkan lagi perdebatan ini, setelah ini aku ingin tinggal bersama Ibu selama beberapa hari, boleh kan Bu." Melati menggenggam tangan Ibunya seraya menyeka air matanya.


"Maafkan Ibu Melati, Ibu belum bisa menjadi orang tua yang baik untuk kalian berdua, karena perpisahan itu telah membuat kalian berdua memiliki nasib buruk seperti ini."


"Tidak ada yang salah Bu, semua ini adalah takdir yang sudah ditentukan untuk anak-anak mu, Ibu harus ikhlas ya, jangan salahkan siapapun lagi, biarkan mas Rafael menjaga Mawar dan juga calon anak mereka, InsyaAllah Melati ikhlas Bu, jadi Ibu juga harus rela."


Rafael terdiam di sudut rumah itu, lalu Mawar datang dengan Perawat Ayahnya. "Sus tolong bersihkan luka ditangan mas Rafael, aku tidak ingin lukanya menyebabkan infeksi." Pintar Mawar pada Perawat itu.

__ADS_1


Nampak Rafael hanya terdiam tanpa mengatakan apapun, pikirannya sedang sangat kalut, dan dia tidak ingin berurusan dengan Mawar saat itu, sehingga dia membiarkan Perawat mengobati lukanya.


...Bersambung....


__ADS_2