KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
PERMINTAAN MELATI


__ADS_3

Malam itu Melati sudah berada di sebuah restauran bersama Aldino dan juga Aurelia, mereka sedang menunggu kedatangan Tuan Satria. Tapi sudah hampir satu jam menunggu, beliau tidak kunjung datang. Melati meraih ponsel di dalam tas, dia mencoba menghubungi Mbak Saroh. Dengan niat ingin menanyakan keberadaan Tuan Satria. Lalu Mbak Saroh membalas pesan nya, dan menjelaskan jika Tuan Satria tadi sedang bersama Rafael di Ruang IGD. Karena kesehatan Rafael tiba-tiba menurun. Melati mengerutkan keningnya, dan memberitahu Aldino tentang Tuan Satria yang kemungkinan tidak bisa datang.


"Apa kau yakin beliau tidak akan datang?."


"Entahlah Al, saat ini papa sedang menjenguk Rafael. Mbak Saroh bilang kesehatan nya sempat terganggu, mungkin saja papa memilih untuk bersama putra nya. Apa kita langsung pulang saja ya, kasihan Aurel dia pasti sangat lelah." Ucap Melati dengan memandang wajah lesu Aurel.


"Tunggu sebentar, aku akan mencoba menghubungi Tuan Satria." Aldino berusaha menghubungi ponsel Tuan Satria, tapi panggilan itu tidak dapat tersambung.


Melati menghembuskan nafasnya panjang, dia bangkit dari duduknya dan mengajak Aldino pergi dari sana. Mereka berjalan keluar, dan menuju mobil. Terlihat tiga mobil datang bersamaan, satu di antara nya adalah sebuah mobil mewah yang hanya bisa dimiliki orang-orang tertentu saja. Aldino mengalihkan pandangan nya, menatap kagum mobil yang selalu di idam-idamkan nya. Seorang lelaki berlari untuk membuka pintu mobik itu, nampak lelaki dengan penuh wibawa keluar dari dalam mobil. Semua orang menundukkan kepala dihadapan nya.

__ADS_1


"Tuan Satria." Ucap Aldino lirih.


Aldino bergegas menghentikan langkah Melati, dan memberi tau jika Tuan Satria sudah tiba. Melati memandang ke belakang menatap sendu lelaki yang selalu menjadi panutan nya. Kemudian mereka menghampiri Tuan Satria yang sudah masuk ke dalam restaurant, Aurelia yang awalnya mengantuk kembali segar ketika mendengar opa baiknya sudah datang.


"Opaa baiik!." Seru Aurelia berlari menghambur ke dalam pelukan Tuan Satria.


"Aurelia... Maafkan opa ya terlambat datang." Tuan Satria memeluk gadis kecil itu dan mengusap rambutnya.


"Papa apakah kau baik-baik saja, maafkan Melati pergi tanpa berpamitan. Waktu itu Melati tidak ingin membebani pikiran papa, tapi syukurlah semua baik-baik saja."

__ADS_1


"Tidak apa-apa Mel, papa mengerti dengan semua yang kau lakukan. Tadi papa terlambat datang karena harus menemani Rafael, sebenarnya apa yang kalian bicarakan Mel? Kenapa Rafael seperti kehilangan semangat hidupnya?." Mereka semua duduk di ruang vip restaurant itu, nampak Aldino sedang menemani Aurelia bermain untuk memberikan Melati dan Tuan Satria berbicara berdua.


"Sebenarnya Melati ingin mengatakan sesuatu, tapi bisakah papa berjanji untuk tidak mengatakan nya pada siapapun." Melati memandang sendu Tuan Satria, dan lelaki itu hanya mengerutkan keningnya seraya tersenyum simpul.


"Apapun yang kau mau Mel, tapi hal penting apakah itu? Sehingga kau meminta papa untuk merahasiakan nya?." Tuan Satria mengerutkan keningnya, menerka-nerka apa yang akan Melati katakan.


Melati menarik nafas dalam-dalam, dia menggenggam tangan Tuan Satria.


"Selamat ya Pa, sebentar lagi papa akan memiliki cucu dariku, Melati sedang mengandung anak dari mas Rafael pa, tapi bisakah papa menyembunyikan kenyataan ini dari semua orang. Melati tau mas Rafael berhak mengetahui nya, tapi ada ketakutan didalam diri Melati pa. Mengingat mama tidak begitu menyukai Melati, beliau pasti akan meminta mas Rafael untuk merebut bayi ini dari ku pa. Hanya bayi ini saja yang Melati punya. Setelah penghianatan besar itu, Melati berusaha bangkit dan melanjutkan hidup sebatang kara di kota lain. Apakah Melati tidak berhak bahagia dengan bayi yang ku kandung ini pa?." Melati terisak pilu, dan Tuan Satria pun ikut larut dalam dukanya.

__ADS_1


Tuan Satria mengerutkan keningnya, memikirkan suatu rencana supaya Melati dapat terbebas dari duka nya. Lelaki itu tidak ingin Melati menanggung semuanya seorang diri, dan dia menanyakan sesuatu yang membuat Melati terkejut dengan membulatkan kedua matanya.


...Bersambung....


__ADS_2