
"Lagi-lagi perempuan mandul itu yang mengusik kebahagiaan ku, aku benar-benar membencinya." Pekik Mawar dengan nafas yang tersengal-sengal.
Ponsel Mawar hancur menjadi beberapa bagian, Mbak Saroh yang baru saja masuk ke ruangan itu nampak terkejut. Dia mengambil ponsel yang hancur itu.
"Buang saja itu, kenapa kau memungutnya kembali!."
"Tapi Mbak, bagaimana kalau ada yang menghubungi mu."
"Sudah berapa kali ku katakan padamu, panggil aku Nyonya. Jangan samakan aku dengan perempuan mandul itu, kau bisa memanggilnya seenak hatimu." Ucap Mawar dengan lantang.
Jika kau tau p**erempuan itu tidak mandul, dan saat ini dia sedang mengandung anak dari lelaki yang saat ini menjadi suami mu. Kau akan sangat terkejut dan terluka, dasar perempuan tidak punya hati, tega-tega nya kau menyebut saudaramu dengan sebutan menyakitkan seperti itu, batin Mbak Saroh dengan menghembuskan nafasnya panjang.
Terlihat Mawar menangis sesegukan dengan memegangi dada nya, nafasnya terasa berat hingga dia memukuli dada nya. Mbak Saroh panik, dan ingin memanggilkan Dokter untuk memeriksa nya.
__ADS_1
Dokter pun datang dan memberikan suntikan pereda nyeri. "Sudah saya katakan untuk tidak banyak pikiran, tanpa anda sadari keadaan seperti ini dapat mengganggu keadaan bayi anda." Dokter muda menggunakan stetoskop sedang memeriksa kondisi Mawar.
"Dok sebenarnya aku sakit apa, kenapa aku mudah kelelahan hanya karena emosi sedikit saja. Kalau Dokter sudah mengetahui sesuatu tolong jelaskan padaku."
Dokter hanya menyunggingkan senyumnya, dan mengatakan jika dia hanya butuh istirahat saja. "Satu yang harus anda lakukan, jangan banyak pikiran dan kontrolah emosi anda. Dengan begitu semua akan baik-baik saja." Dokter itu berjalaan keluar, disusul Mbak Saroh dibelakangnya.
"Dokter, Tuan mengatakan jika hasil kesehatan Mbak Mawar akan keluar malam ini, apakah dia baik-baik saja?."
"Saya hanya bisa menjelaskan ini pada keluarga pasien, terutama suaminya. Saya tidak bisa memberitahu pasien, hawatir jika dia terkejut setelah mendengar kondisinya. Karena itu akan membahayakan bayi yang dikandungnya, jika Tuan Rafael sudah datang. Minta beliau datang ke ruangan saya." Jelas sang Dokter seraya berjalan pergi.
Aldino menyiapkan sebuah gaun mewah dan elegant untuk Melati, dia ingin mengajak Melati pergi bersamanya ke acara resepsi pernikahan rekan kerjanya. Seorang pelayan Hotel datang ke kamar Melati dan memberikan bingkisan.
"Hallo Mel, apa kau sudah menerima bingkisan dariku?." Tanya Aldino melalui panggilan telepon.
__ADS_1
"Apa ini Al, aku sedang tidak berulang tahun, kenapa kau memberiku kado." Melati mengernyit seraya membuka bingkisan itu.
"Lihatlah dan bersiaplah dalam sepuluh menit, aku akan datang menjemput kalian." Aldino tersenyum dengan mengakhiri panggilan telepon.
Melati membuka bingkisan yang berisi dua gaun kembar untuknya dan juga Aurelia, ada secarik kertas yang memintanya untuk datang bersama nya ke acara resepsi pernikahan. Aurelia datang dengan berjalan berjinjit seperti sedang menari.
"Ibu peri itu gaun untuk kita kan, tadi papa memberi tau jika kita akan pergi malam ini. Ayo kita pergi ke pesta itu, biasanya papa hanya pergi sendiri, tapi sekarang ada kita yang akan menemani nya." Ucapan lugu Aurelia membuat Melati terharu, dia bergegas bersiap diri dan mendandani Aurelia.
Sepuluh menit berlalu, Aldino datang ke kamar mereka. Nampak Melati terlihat semakin cantik menggunakan gaun mewah berwarna biru muda senada dengan jas yang dikenakan Aldino.
Kedua mata Aldino tidak henti memandang takjub perempuan cantik yang ada di hadapan nya. Melati yang merasa aneh dengan tatapan Aldino padanya, merasa penampilan nya ada yang kurang. Dia berbalik kembali ke dalam kamar, tapi Aldino meraih tangannya, kedua mata mereka saling menatap. Jantung Aldino berdebar sangat kencang, hingga Melati dapat merasakan debaran nya. "Apakah ada yang salah dengan penampilan ku, kenapa kau sangat terkejut ketika melihatku?." Pertanyaan Melati mengejutkan Aldino yang masih memegangi tangan Melati. Hingga Aurelia menggoda keduanya, yang sedang saling memandang satu sama lain.
"Wah papa dan ibu peri terlihat seperti Putri dan Pangeran di dongeng, kaliam serasi sekali." Gadis kecil itu menggoda keduanya, hingga mereka saling menjauh satu sama lain.
__ADS_1
...Bersambung....