
Proses pemeriksaan kecocokan ginjal membutuhka waktu lama, sampai pada suatu waktu disaat kandungan Mawar sudah memasuki usia sembilan bulan. Dia memaksa ingin melakukan operasi donor ginjal saat itu juga. Tapi Dokter menolaknya, karena kehamilannya yang sudah mendekati HPL.
"Kami tidak bisa melakukan operasi itu, karena akan sangat membahayakan untuk bayi yang ada didalam kandungan ibu. Meskipun sudah ada ginjal yang cocok untuk ibu, mohon pengertiannya semua demi keselamatan ibu dan bayi nya."
Penjelasan Dokter itu semakin membuat Mawar kesal, dia hanya ingin sehat ketika melahirkan tapi kenyataan berkata lain. Nyonya Silvia meyakinkan Mawar, jika apa yang dikatakan Dokter adalah demi kebaikannya. Tapi Mawar tetap pada pendirian nya, hingga Rafael membentak nya dihadapan Dokter itu.
"Kalau kau ingin membahayakan hidupmu sendiri aku tidak akan perduli, tapi ini menyangkut darah daging ku. Kau harus mendengarkan apa yang Dokter katakan, jika tidak aku akan memberitau kedua orang tua kita tentang apa yang telah kau lakukan padaku sebelumnya."
__ADS_1
Terlihat Mawar membulatkan kedua matanya, dia sangat terkejut dengan perkataan Rafael. Nampak dia sedang berpikir apakah Rafael benar-benar mengetahui tentang obat kuat itu atau tidak. Dan tiba-tiba Rafael membisikan sesuatu ditelinga nya.
"Jangan kau pikir karena aku diam, aku tidak mengetahui apa-apa. Meskipun kau menghapus rekaman cctv di rumah lama ku, aku mempunyai bukti lain saat kau membeli obat kuat itu. Aku sudah mendapatkan bukti dari tempat kau membeli obat itu, rekaman cctv sudah ada ditangan ku, jadi jangan macam-macam lagi jika kau tidak ingin ku permalukan dihadapan semua orang." Ucap Rafael lirih namun terasa mencekik leher Mawar.
Mawar hanya bisa menelan saliva nya, dia memandang wajah Rafael dengan peluh yang membasahi keningnya.
"Baiklah Dok, dia telah setuju! Saya harap bayi itu akan segera lahir. Karena ada sesuatu yang harus segera saya urus setelah nya." Rafael tersenyum miring dengan menatap Mawar sinis.
__ADS_1
Setelah konsultasi dengan Dokter, Rafael bergegas pergi meeting dengan kliennya. Nyonya Silvia mengajak Mawar untuk pulang bersamanya. Mawar mengeluh pada mama mertua nya, tentang sikap Rafael yang semakin acuh padanya.
"Padahal kan Mawar hanya ingin sehat ketika melahirkan ma, Mawar takut terjadi apa-apa."
"Apa yang Rafael katakan benar War, kau tak perlu hawatir. Dokter yang menangani mu adalah Dokter spesialis yang terbaik. Proses persalinan mu sudah ditangan orang yang tepat. Dan setelah kau melahirkan, kau bisa secepatnya mendapatkan donor ginjal itu."
Sesampainya di rumah, Mawar berjalan gontai ke kamarnya. Dia duduk di sudut ruangan itu, hatinya sangat gelisah, pikiran nya tidak tenang setelah mengetahui jika Rafael benar-benar mengetahui rahasia yang selama ini disembunyikan nya rapat-rapat. Kepalanya sangat pusing memikirkan segalanya, lalu dia bangkit dari duduknya melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Mawar mencuci wajahnya di wastafel, sakit di dalam perut nya tiba-tiba menyeruak. Dia memegangi perutnya dengan berteriak kencang. Akhirnya Mawar berjalan keluar kamar mandi dengan pandangan mata berkunang-kunang, tanpa sengaja dia terpeleset dan terjatuh dengan kepala yang membentur lantai. Darah merah mengalir dari belakang kepalanha. Seketika Mawar tidak sadarkan diri disana.
__ADS_1
Mbak Saroh yang mendengar teriakan Mawar bergegas lari ke kamar nya, dia mengetuk pintu kamar Mawar berulang kali. Tapi tidak ada jawaban dari dalam sana, karena merasa ada yang aneh Mbak Saroh memberanikan diri membuka pintu kamar itu. Dia masuk ke dalamnya seraya memandang ke segala arah, tapi dia tidak dapat menemukan Mawar. Hingga dia melihat sepasang kaki tergeletak di mulut pintu kamar mandi. Nampak Mawar sudah tergeletak tak sadarkan diri disana, Mbak Saroh berteriak histeris karena terkejut. Hingga semua orang berdatangan ke kamar itu, sang Ayah bersama perawat nya juga datang ke kamar Mawar melihat kondisinya yang sudah tak sadarkan diri.
...Bersambung....