KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
GADIS KECIL DI PLAY GROUP (PERMULAAN)


__ADS_3

Tanpa terasa sudah hampir sepekan Melati tinggal di rumah Liliana, dia memutuskan untuk mencari sepetak kontrakan untuknya tinggal, karena tempat bekerja nya agak jauh dari rumah sahabatnya, Liliana membantunya untuk pindah ke rumah kontrakan kecil yang masuk ke dalam sebuah gang.


"Apa kau yakin Mel mau tinggal disini?."


"Iya Li, aku yakin, lagipula kontrakan ini lebih dekat ke tempat kerja ku, kita kan masih bisa bertemu Li, kaya aku pindah jauh aja dari rumahmu."


Nampak Liliana tersenyum seraya memeluk Melati, dia sangat hari mengetahui kisah hidup sahabat nya itu, apalagi saudara kembarnya sendiri yang menghancurkan hidupnya.


"Mel jangan pernah merasa sendiri ya, ada aku yang akan selalu bersamamu, kalau ada masalah sekecil apapun kau harus memberi tau ku, karena keberadaan mu disini adalah tanggung jawab ku." Liliana meneteskan air mata pilu.


"Kenapa kau menangis sahabat ku? tolong jangan awali hidupku yang baru ini dengan tangisan, aku sudah melupakan semua kenangan pahit itu, kau juga harus melupakannya, terima kasih ya Li, sudah selalu ada untukku." Melati menyeka air mata sahabatnya.


**************


Pagi itu Melati terlambat ke Play Group, dia berlarian keluar dari gang kecil tempatnya tinggal, beruntungnya jarak menuju tempat kerjanya tidak terlalu jauh, sesampainya di tempat kerjanya, banyak anak-anak kecil yang sedang berlarian di taman kecil, rekan kerjanya yang seorang guru memanggilnya untuk membantu merapikan kelas yang berantakan, tiba-tiba seorang gadis kecil menangis kencang karena tersandung, Melati mendekatinya dan menghiburnya, tapi gadis kecil yang bernama Aurelia Hartawan tetap menangis sesegukan dengan memanggil Papanya.


"Anak baik jangan menangis lagi ya, apa kau terluka, mari ikut ibu ke ruang kesehatan, biar ibu lihat jika ada luka ditubuhmu." Ucap Melati seraya membohongi gadis kecil itu.


Melati membersihkan luka kecil di lutut Aurelia, gadis itu terdiam dengan sesegukan, dia memeluk Melati dengan erat seraya berterimakasih.


"Terima kasih bu, sudah merawat lukaku, maaf kalau Aurel membuat panik, ibu merawat lukaku tanpa membuatku merasa sakit, seandainya Aurel masih memiliki Mama." Jelas gadis kecil itu dengan wajah sendu.

__ADS_1


"Aurel sayang, tidak apa-apa berceritalah pada ibu, memangnya Mama Aurel kemana sayang?."


"Kata Papa, Mama sudah tinggal di surga, dan Mama tidak bisa menemui Aurel lagi." Ucapnya dengan mengerucutkan bibir mungilnya.


"Kan masih ada Papa Aurel, jangan bersedih lagi ya sayang, mari kita kembali ke kelas Miss Elsa sudah menunggumu untuk belajar sayang." Rayu Melati dengan penuh kelembutan.


Aurelia menganggukan kepalanya, tangannya menengadah ke atas seraya berkata gendong, dengan mengecup kening Aurelia, Melati menggeneong gadis kecil itu ke ruang belajarnya.


"Ibu nanti kita bermain lagi ya, sampai jumpa." Aurelia melambaikan tangannya dengan wajah lugunya.


Lalu Melati kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan bulanan, dia memang tidak bekerja sebagai tenaga pengajar, tapi terkadang dia membantu menangani anak-anak yang tiba-tiba rewel atau menangis, dan ditangannya lah anak-anak kecil itu bisa tenang dan menurut.


"Loh Aurel kenapa marah, apa ada temanmu yang nakal, coba katakanlah padaku." Bujuk Melati dengan mengusap lembut rambutnya.


"Aurel kesal, lagi-lagi Papa terlambat menjemputku, dan Papa juga tidak akan menghiraukan luka dikaki ku ini."


"Ini kan hanya luka kecil sayang, dan ibu sudah mengobatinya, tidak lama juga akan sembuh, dan kalau Papa mu terlambat menjemput, mungkin dia sedang ada urusan yang mendesak, biar ibu saja yang akan menemani mu disini."


Keduanya semakin akrab dan bermain ular tangga bersama, rekan kerjanya bertanya, kenapa dia masih ada disana, dan Melati menjelaskan permasalahan anak itu, Norma mengatakan jika Aurelia memang sudah terbiasa menunggu jemputan Papa nya, karena sang Papa adalah seorang pengusaha yang sangat sibuk, dan dia harus membagi waktu untuk antar jemput putri semata wayangnya.


"Kalau begitu aku duluan ya Mel, titip Aurelia, mungkin sebentar lagi Papanya datang, karena hari ini aku sedang ada urusan penting bersama keluarga." Jelas Norma seraya berpamitan pergi.

__ADS_1


Setelah lelah bermain ular tangga, Aurelia tertidur dipangkuan Melati, wajah gadis kecil tidak berdosa itu terlihat sangat lesu, Melati mengusap lembut wajahnya seraya mengecupnya. Seorang lelaki datang dan mengernyitkan keningnya, menatap bingung dengan apa yang Melati lakukan.


"Maaf kau ini siapa, kenapa kau bersama dengan putriku?." Tanya Aldino Hartawan dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh jadi kau ini Papanya Aurelia, kenapa kau terlambat menjemput nya, kasihan anak sekecil dia harus menunggu di tempat ini sendirian, jika kau tidak bisa mengurus anakmu seorang diri, setidaknya gunakan jasa baby sitter, jangan membiarkan anak ini kesepian, kasihan anak sekecil dia sering merasa seorang diri." Seru Melati dengan kesal.


Karena mendengar keributan didekatnya, Aurelia terbangun dari tidur tidurnya, gadis kecil itu menghambur ke pelukan Papanya.


"Papa tau ga, tadi aku jatuh dan lututku berdarah, untung ada ibu peri yang baik hati menolong ku." Ucap Aurelia dengan manja.


"Oh ya, apakah kakimu masih sakit tuan putri kecil Papa? coba lihat mana lukanya, biar Papa yang akan membawa mu ke Dokter."


"Tidak perlu Pa, ibu peri ini sudah menyembuhkan lukamu, dia juga menemani ku bermain disaat aku menunggu Papa datang." Jelas Aurelia seraya menarik tangan Melati.


Aldino menyunggingkan senyumnya, dia berterimakasih karena sudah merawat putrinya. "Satu yang harus kau tau, bukannya aku tidak ingin mempekerjakan baby sitter untuk merawat Aurelia, tapi putriku ini sangat nakal dan tidak ada seorangpun yang tahan dengan tingkah nakalnya, karena itulah aku terpaksa merawat nya seorang diri, aku tau kau tidak akan percaya dengan perkataan ku, karena Aurelia terlihat manis didepanmu, aku juga tidak menyangka jika putriku ini bisa sangat manis padamu, dan maaf telah merepotkan mu." Jelas Aldino dengan menggendong Aurelia.


Tertegun Melati mendengar penjelasan Aldino, dia berlari menghentikan langkah lelaki itu. "Maaf ya jika aku salah sangka padamu, oh iya Aurelia harus jadi anak yang baik ya, jangan merepotkan Papa di rumah, dan jangan lupa ganti plester lukanya ya setelah mandi." Melati berkata dengan menyunggingkan senyumnya, terlihat aura positif dari wajahnya.


Sementara Aldino sedang mengernyitkan keningnya, dia mengingat wajah Melati, dan merasa pernah berjumpa dengan nya belum lama ini, lelaki itu menepuk keningnya seraya tersenyum. "Kau adalah perempuan yang pernah ku tabrak di Bandara tempo hari kan, apa kau lupa padaku?." Tanya Aldino menatap serius wajah Melati.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2