
Melati bersama Aldino keluar dari Ruang Pemeriksaan, ternyata kehamilan Melati yang pertama ini sangat memerlukan perhatian khusus. Karena kondisi mental Melati, yang tidak stabil memperngaruhi kondisi janinnya. Aldino menggenggam tangan Melati, dan meminta nya untuk berbagi duka dengannya.
"Apapun yang sedang menjadi beban pikiran mu, jelaskan dan katakan saja padaku. Aku siap menjadi pendengar mu, aku tidak ingin kau larut dalam penderitaan mu sendiri." Jelas Aldinodengan wajah sendu.
"Entahlah Al, terkadang aku merasa sendiri dan tidak mempunyai siapapun. Aku terlalu mencemaskan bayi ku, aku takut mereka mengambil bayiku." Melati terisak berlinang air mata.
"Kau tidak sendiri Mel, aku akan selalu bersama mu percayalah. Jika kau terlalu mencemaskan bayimu, menikah lah denganku. Dan tidak akan ada yang bisa mengambil nya darimu, kita akan mengatakan jika bayi itu adalah darah daging ku. Bukankah Tuan Satria sudah menyetujuinya?." Aldino meyakinkan Melati seraya menyeka air mata nya.
Melati tertunduk dengan memikirkan segalanya, di antara dua pilihan. Melati tidak ingin memanfaatkan Aldino hanya untuk masa depan bayi nya kelak, karena Melati belum bisa membuka hatinya untuk lelaki lain. Meskipun Aldino sangat baik padanya, dia masih memerlukan waktu untuk menerima Aldino seutuhnya. Tapi keadaan membuatnya bimbang, sedangkan Aldino yang mengetahuinya kembali meyakinkan Melati. Hingga akhirnya Melati menganggukan kepalanya seraya tersenyum di hadapan Aldino.
__ADS_1
"Baiklah Al, aku setuju untuk menikah denganmu. Tapi maaf jika aku belum bisa menjadi seperti yang kau harapkan setelah pernikahan itu terjadi." Jelas Melati dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Tidak apa-apa Mel, aku mengerti dan memahami mu. Aku tidak akan mengharapkan yang lebih setelah pernikahan kita, sampai kau siap dan menerima ku sepenuhnya. Yang terpenting adalah aku bisa menjagamu, dan Aurelia akan mendapatkan kasih sayang seorang ibu yang sebenarnya. Besok lusa aku ada pekerjaan di Jakarta, kau harus ikut bersamaku sekalian kita menemui Tuan Satria dan juga kedua orang tua mu. Kita harus membicarakan rencana pernikahan kita pada mereka."
Setelah itu mereka pergi ke rumah Aldino, karena Melati ingin bertemu dengan Aurelia. Aldino menjelaskan pada anaknya tentang pernikahannya dengan Melati, terdengar sorak bahagia dari gadis kecil itu.
"Sudah sayang... Jangan lompat-lompat terus nanti kau jatuh." Melati mendekap Aurelia dan mengecup keningnya.
********
__ADS_1
Aldino pergi ke beberapa vendor pernikahan, dan Anya yang berada dibelakang mobilnya terus mengikuti mobil Aldino. Anya sangat terkejut ketika mantan suami nya itu pergi ke tempat itu.
Apakah dia berencana untuk menikah dengan Melati? Batin Anya dengan mengerutkan keningnya.
Anya mencari tau kebenaran nya, dia menggunakan masker wajah dan masuk ke dalam kantor itu. Diam-diam dia mendengarkan Aldino yang merencanakan sebuah acara untuk pesta mewah di sebuah Hotel bintang lima. Anya nampak kesal, setelah mendengar rencana pernikahan itu. Karena dia baru sadar jika ternyata mantan suaminya itu lebih kaya dari yang dia pikirkan. Anya tidak rela jika Aldino menikahi Melati, setelah dia tau nominal uang yang akan dihabiskan nya untuk acara pernikahan itu.
Sialan! Ternyata dia lebih kaya dari Justin, aku harus menghentikan rencana pernikahan itu. Aku tau jika sebenarnya dia tidak bisa melupakan ku, nyatanya setelah sekian lama dia tidak berhubungan dengan perempuan manapun. Hanya dengan Melati saja dia berusaha menikahinya, batin Anya dengan tersenyum miring.
...Bersambung....
__ADS_1