KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
KEBENARAN ZAHRA TERUNGKAP


__ADS_3

Dokter memeriksa kondisi Zahra, ada memar sedikit memar di keningnya. Tapi ketika Dokter memeriksa dengan lebih detai, ternyata Zahra sedang mengandung dengan usia kandungan dua minggu. Setelah pemeriksaan selesai, Dokter menjelaskan pada Melati dan juga Aldino tentang kehamilan Zahra.


"Pasien hanya kelelahan karena terlalu banyak beraktivitas. Di usia kandungan yang masih sangat muda, ia tak diperbolehkan untuk banyak melakukan aktivitas. Lebih baik berikan dia waktu untuk istirahat total selama beberapa hari." Jelas sang Dokter seraya menuliskan resep.


Sontak saja Melati terkejut dengan membulatkan kedua matanya. Aldino yang tak kalah terkejutnya, berusaha menenangkan istrinya. Zahra yang baru mendapatkan kesadaran nya, bangkit dari tidurnya, ia memegangi keningnya yang memar. Mengetahui jika Zahra sudah sadar, Melati berjalan tertatih menghampiri nya.


"Zahra... Jujurlah padaku, anak siapa yang sedang kau kandung? Apa kau sudah menikah? Usia kandungan mu sudah dua minggu, tidak jauh berbeda ketika aku menemukan mu di tengah jalan malam itu." Melati mengerutkan keningnya menatap wajah Zahra yang kebingungan.


Terlihat Zahra sangat terkejut mendengar ucapan Melati, ia menggelengkan kepala nya berulang kali. Tak percaya dengan apa yang didengarnya, Zahra menangis histeris dengan berlinang air mata pilu.

__ADS_1


"Nyonya tolong aku Nyonya... Apa yang harus ku lakukan?." Zahra terisak dengan menyatukan kedua tangan di depan dada.


"Kenapa Zahra? Katakan lah sesuatu padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau belum menikah dan melakukan hubungan terlarang itu?."


Zahra terdiam dengan menangis sesegukan, ia tak mampu berkata apapun. Lidahnya kelu, ia sangat ketakutan hingga tak berani mengatakan apa-apa. Aldino meminta istrinya untuk membawa Zahra kembali ke rumah saja, karena masalah seperti itu tak bisa dibicarakan di tempat umum. Disepanjang perjalanan Zahra terus saja berlinang air mata, Melati merasakan kesedihan yang sangat besar di kedua mata Zahra. Meski ia tak mengatakan apapun, Melati bisa membaca semuanya dari sorot mata perempuan itu. Zahra sedang tidak berdaya dengan kondisinya saat itu.


Mereka berbicara di dalam kamar berdua saja, nampak Zahra langsung memeluk Melati dengan berderai air mata. Perlahan Zahra menceritakan segalanya, bagaimana mantan Tuan nya menodainya.


"Malam itu, sebelum Nyonya menemukan ku. Saya bekerja di rumah saudara kembar Nyonya. Saya menjadi baby sitter Catlea, anak malang yang tak pernah mendapatkan kasih sayang ibu nya. Nyonya Mawar meminta saya menjaga Catlea di kamarnya, dan ia pergi ke pesta. Sementara suaminya, sudah pergi terlebih dulu. Tuan Rafael tiba-tiba pulang dengan keadaan mabuk, ia terus menyebut nama Nyonya Melati. Saya tak tahu Melati mana yang ia maksud, tapi setelah itu Tuan Rafael melecehkan ku... Di diaa merenggut kehormatan ku Nyonya... Huhuhu...." Jelas Zahra sesegukan.

__ADS_1


"Tuan Rafael menodai ku dengan terus menyebutkan nama Melati. Dia terus meminta maaf, dan memohon supaya wanita itu tidak menikah dengan laki-laki lain, aku sudah berontak Nyonya. Tapi tubuh Tuan Rafael terlalu besar, hingga aku tak bisa bergerak sama sekali. Dan ketika ia puas melakukan nya denganku, aku tersadar dibawah tubuh kekar nya, dan Nyonya Mawar yang baru saja pulang melihatku tanpa busana dibawah tubuh suaminya. Nyonya Mawar murka dan mengancamku, ia mengusir ku dari rumahnya. Dan meminta ku untuk bungkam tidak menceritakan semuanya pada siapapun. Aku terus diam Nyonya takut jika Nyonya Mawar akan mencelakai adikku, dan aku tak menyangka jika semua ini sampai berlarut begini. Apa yang harus ku lakukan Nyonya? Aku ini yatim piatu, dan sekarang aku sedang mengandung benih Tuan Rafael. Aku takut Nyonya... Tolong aku... Ku mohon...." Zahra berlinang air mata pedih, dengan bersimpuh di bawah kaki Melati.


Melati meminta Zahra bangun, ia memeluk Zahra dengan meneteskan air mata. Melati menghela nafas panjang, dan menyeka air mata wanita tak berdaya itu.


"Tenanglah Zahra... Aku pasti akan membantumu menuntut keadilan. Jangan menangis lagi ya, ku mohon Zahra...." Jelas Melati meyakinkan Zahra, sedangkan Zahra hanya terdiam dengan memegangi perutnya yang berisi janin dari lelaki yang tak pernah ia harapkan.


...Terus dukung Author yuk, berikan Like dan komentar yang membangun. Jika berkenan berikan Gift atau Vote nya Terima kasih 😘💕...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2