KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
WANITA TAK SEMPURNA


__ADS_3

Sudah hampir sepekan Mawar belum bertemu dengan bayi nya, dia semakin curiga karena semua orang tidak memberinya waktu untuk melihat bayinya. Mawar yang sudah mulai pulih bangkit dari ranjangnya, dia berjalan tertatih mendorong infus yang ada ditangan kanan nya. Mawar nekat pergi ke ruangan bayi untuk melihat bayinya. Tertulis nama Catlea bayi dari Nyonya Mawar. Dia menyunggingkan senyumnya menatap bayi itu penuh kebahagiaan, tertulis riwayat kesehatan bayi itu di secarik kertas. Tertulis kelainan di organ tubuh bayi itu, dan dijelaskan juga jika bayi nya mengidap tuna wicara. Mawar menggelengkan kepalanya tidak percaya, dia berjalan mundur dan menangis tak bisa menerima kenyataan.


Rafael melihat nya baru saja keluar dari ruang bayi nya, lalu dia mendekati Mawar untuk menenangkan nya. Nampak Mawar sangat terguncang dan menangis histeris.


"Mawar tenanglah, mari kita kembali ke kamarmu."


"Lepaskan aku mas, kenapa kalian menyembunyikan kenyataan jika bayi ku itu cacat!."


"Aku tidak menyembunyikan apapun darimu, aku hanya belum bisa mengatakan nya."

__ADS_1


Dari belakang keduanya Nyonya Silvia datang menghampiri dan mengatakan segalanya. Dia sudah muak menahan segalanya, karena Mawar bukanlah menantu yang ideal lagi baginya. Sehingga tanpa ragu Nyonya Silvia mengatakan segala hal yang tak diketahui Mawar selama ini.


"Bukan hanya anakmu saja yang cacat, tapi sebagai seorang perempuan kau juga sudah cacat Mawar! Kau tidak akan bisa memberikan Rafael keturunan lagi, rahim mu sudah tidak ada lagi. Dan sekarang kau harus hidup dengan menggunakan satu ginjal, kau hanya akan menjadi beban bagi putra ku!." Seru Nyonya Silvia dengan membulatkan kedua matanya.


"Apa maksudnya ma? Kenapa mama berkata seperti itu?." Mawar mengerutkan keningnya kebingungan dengan ucapan mertua nya.


Mawar jatuh tersungkur ke lantai, air matanya tak kuasa membendung di pelupuk matanya. Dia menangis histeris hingga kehilangan kesadaran. Nampak Rafael hanya menghembuskan nafasnya panjang. Dia benar-benar tidak perduli dengan perasaan Mawar saat itu, tapi sebagai seorang manusia dia merasa iba. Dan membantu nya kembali ke ruang perawatan nya.


Dokter memeriksa keadaannya, dan mengatakan jika Mawar belum bisa menerima kabar buruk. Karena itulah kesehatan nya kembali menurun. Tapi dia sudah tau segalanya di waktu yang belum tepat. Nyonya Silvia hanya tersenyum miring, seraya mengatakan pada Dokter. Jika kebenaran harus di ketahui lebih cepat, supaya Mawar dapat menerima kenyataan.

__ADS_1


"Jadi Mawar seperti ini karena ulah mu? Dimana hati nurani mu sebagai seorang wanita Nyonya? Tidakkah bisa kau memberinya waktu untuk kesembuhan nya? Dengan tega nya kau menceritakan segalanya pada Mawar, aku benar-benar tidak menyangka seorang Nyonya kaya seperti mu tidak memiliki belas kasih sama sekali!." Ibu Mawar marah dihadapan semua orang, dan Nyonya Silvia hanya memalingkan wajahnya.


Rafael meminta ibu mertua nya untuk tenang, dan mengajaknya berbicara di luar ruangan. Rafael berbicara empat mata dengan sang mertua.


"Maaf ya bu, bukannya Rafa mau membela mama. Rafa pikir, apa yang dilakukan mama tidak sepenuhnya salah. Mama adalah perempuan yang telah melahirkan Rafa, jadi bukankah wajar jika mama kecewa dengan situasi yang terjadi saat ini. Mungkin mama hanya mengungkapkan rasa kecewanya. Dulu waktu Melati tidak bisa memberikan keturunan untuk Rafa, bukankah mama mengatakan hal yang sama pada Melati. Dan saat itu ibu diam saja dan membela Mawar, untuk segera menikah dengan Rafa. Jika saat ini Mawar mengalami hal yang sama, bukankah itu semacam karma untuknya bu?." Ucapan Rafael membuat ibu mertua nya berlinang air mata, dia baru menyadari duka yang Melati pernah rasakan. Tapi dia tidak pernah memikirkan perasaan Melati.


Ya Allah ternyata Melati lebih dulu merasakan semua penderitaan itu, dan aku hanya melihat penderitaan Mawar saja. Karena selama ini ku pikir Melati sudah cukup banyak mendapat kasih sayangku, sedangkan Mawar dia tumbuh menjadi anak yang keras kepala. Karena itulah aku lebih memikirkan nya, ternyata aku salah ya Allah. Batin sang ibu berderai air mata.


...Bersambung. ...

__ADS_1


__ADS_2