KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
DILEMA DENGAN KEADAAN


__ADS_3

"Silvia keluarlah sebentar, ada yang ingin ku katakan padamu." Suara Tan Satria lirih, dia berjalan perlahan keluar disusul istrinya yang terlihat mengerutkan keningnya.


Mereka duduk di kantin Rumah Sakit, Tuan Satria terlihat memijat pangkal hidungnya.


"Silvia... Tolong jangan buat kerenggangan di antara mereka semakin lebar. Jika kau tidak menyukai Melati jangan pernah lagi, kau menyebutnya dengan kata-kata kejam itu. Dimana naluri mu sebagai perempuan, meski dulu dia tidak dapat memberikan cucu pada kita.


Bukan berarti dia itu mandul, Mawar dan Melati adalah saudara kandung. Meski mereka memiliki masalah yang besar, kau tidak bisa terus menambah kekisruhan itu. Biarkan mereka menyelesaikan nya sendiri, lagipula Melati sudah mengalah dan pergi dari hidup putramu, apalagi yang kau inginkan Silvia?." Pertanyaan suaminya membuatnya mengernyit, seakan dia memikirkan sesuatu tentang Melati.

__ADS_1


"Katakan padaku, apa papa sudah bertemu dengan perempuan itu? Sebelumnya tingkah Rafael aneh, dan malam ini dia kembali mengingat perempuan itu. Katakan pada mama pa... Apakah perempuan itu mengatakan sesuatu?." Nyonya Silvia menatap wajah sang suami yang masih tertunduk.


Apa yang harus ku katakan padanya, jika aku tetap diam, Silvia akan terus mengatakan sesuatu yang akan membuat ku marah, tapi aku tidak berdaya, aku telah berjanji pada Melati. Karena jika Silvia sampai tau semuanya, dia akan menekan Melati dan meminta penjelasan darinya tentang bayi yang sedang dikandungnya. Meski saat ini Rafael peecaya jika Melati mengandung dengan lelaki lain, perkataan Silvia akan membuat hati nya ragu kembali, batin Tuan Satria resah.


"Aku hanya tidak tahan mendengar mu terus mengatakan kata-kata kejam tentang nya, sudahi pembicaraan ini. Lebih baik kau urus Mawar, besok pagi kita akan meninggalkan kota ini." Tuan Satria bangkit dari duduknya pergi menemui putranya.


"Lupakan bagian terkelam mu Rafa, yang dikatakan mama mu benar. Kasihan Mawar jika kau terus bersikap seperti itu padanya, waktu terus berjalan, tapi kenapa kau masih berhenti di waktu yang lama. Kau dan Mawar telah begitu menyakiti Melati, biarkan dia hidup bahagia dengan seseorang yang tepat. Jalani hidupmu bersama istri mu, bagaimanapun Mawar sudah sah menjadi istri mu! Dia adalah tanggung jawab mu sepenuhnya, didalam rahimnya ada anakmu. Dan saat ini ibu nya sedang berjuang melawan penyakitnya, jika kau tak mendukungnya apa yang akan terjadi pada bayi yang tidak berdosa itu Rafa? Pikirkan baik-baik ucapan Papa, kau harus mengambil keputusan untuk melanjutkan hidupmu dan melupakan masa lalumu. Belajarlah dari kesalahan yang telah kau buat, kau telah berpisah dari Melati dan menikahi adiknya. Jika kedua orang tua nya mengetahui, tenang kondisi Mawar saat ini, apakah mereka bisa menerima kenyataan. Kasihanilah kedua orang tua itu, apakah kau akan kembali menyakiti kedua putri mereka? Sekarang temui Mawar, dan minta maaf lah, kau tidak bisa terus menyakiti nya dengan bayangan dari mantan istri mu. Karena hubungan kakak beradik itu sudah rusak, jangan buat keretakan itu semakin lebar, meski hubungan mereka tidak akan kembali seperti dulu, setidaknya jangan membuat masalah menjadi besar. Papa tau kau sudah dewasa, bijaksana lah dengan apa yang telah terjadi karena perbuatan mu sendiri."

__ADS_1


Ucapan Papa nya membuat Rafael semakin merasa bersalah, dia merenungi semuanya, dia pun sadar dengan ucapan Papa nya.


Papa memang benar, jika kesalahan itu terjadi bukan hanya salah Mawar. Akupun bersalah atas semuanya, dan Mawar tidak bisa menanggung semuanya sendiri, batin Rafael dengan wajah sendu.


Rafael tidak pernah tau, jika kesalahan yang dilakukan nya karena ulah Mawar, yang telah memberikan nya obat kuat. Dan tidak akan ada lelaki manapun yang kuat menahan godaan dari seorang perempuan, yang telah mencekoki nya dengan obat penambah hasrat seperti itu.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2