KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
DILEMA HATI MELATI (HARUSKAH PERDULI?)


__ADS_3

"Ibu jangan menangis lagi ya, Dokter pasti akan melakukan segala cara. Pasrahkan semua pada Allah ya bu. InsyaAllah semua akan baik-baik saja, jangan terlalu terpuruk bu. Saat ini Mawar adalah calon ibu dari anak penerus keluarga Hadinata, pasti dia akan mendapatkan penanganan yang terbaik. Dan mengenai donor ginjal itu, ibu tidak harus melakukan nya. Mengingat usia ibu sudah berumur, dan belum tentu juga ginjal ibu cocok dengan nya." Ucap Melati dengan wajah sendu.


"Tapi Mel, ibu tidak tega melihatnya. Setiap satu minggu dia harus melakukan cuci darah dua kali, ibu mencemaskan bayi yang ada didalam kandungan nya Mel. Tapi tidak banyak yang bisa ibu lakukan, meski Mawar adalah darah daging ibu. Belum tentu ginjal ibu cocok dengan nya, sekarang ibu tidak tau harus berbuat apa. Bahkan untuk meminta mu mendonorkan ginjal, ibu tidak akan sanggup melakukan nya. Bagaimana pun kau juga anak ibu, terlebih penderitaan mu karena perbuatan Mawar belum bisa ibu lupakan. Apalagi kau sampai merantau pergi, hanya untuk melupakan penderitaan mu." Ibu nya berderai air mata, tidak kuasa merasakan penderitaan kedua anaknya.


Maaf bu... Melati tidak bisa melakukan apapun, apalagi saat ini ada bayi didalam rahim Melati. Semoga ibu tidak salah paham jika Melati tidak bisa melakukan banyak hal, batin Melati tertunduk dengan berlinang air mata.

__ADS_1


Aldino memperhatikan Melati yang terlihat bersedih, dia menggenggam tangan nya seakan memberinya kekuatan. Nampak Melati hanya menganggukan kepalanya, memberikan isyarat jika dia baik-baik saja.


"Bu Melati akan mencari informasi tentang penanganan gagal ginjal, jika perlu Melati akan menyebarkan informasi untuk pendonoran ginjal nya. Sekarang ibu tenang saja ya, nanti kita bicarakan hal ini lagi. Saat ini Melati sedang dalam perjalanan." Jelas Melati seraya mengakhiri panggilan telepon nya.


Melati menghembuskan nafasnya panjang, dia memijat pangkal hidungnya.

__ADS_1


"Iya Al. Ibuku sangat menghawatirkan kondisi adik kembar ku, saat ini beliau sangat tertekan. Aku tidak tega mendengar tangisan ibuku, entah apa yang harus ku lakukan. Ibu bersikeras mendonorkan ginjalnya, dan aku takut kesehatan ibu akan terganggu jika itu benar-benar terjadi. Untuk mencegahnya aku harus mencari cara lain Al, bisakah kau membantu ku menyebarkan informasi untuk pendonoran ginjal. Soal biaya dan lain-lain, papa Satria pasti akan memberikan nya. Yang terpenting adalah kondisi Mawar lekas membaik, dan ibuku tidak akan mencemaskan nya lagi. Dengan begitu aku akan tenang berada disini, aku sangat mengenal ibuku Al. Karena sejak kecil aku hidup bersama nya, ada penyesalan didalam diri ibuku. Karena dia tidak dapat membesarkan Mawar dengan baik, sehingga dia tumbuh menjadi seorang yang dipenuhi ambisi. Bahkan dia berambisi untuk memiliki apa yang kakaknya miliki, dia rela melakukan segala cara. Karena itulah sejak kedatangan Mawar dikehidupan kami, ibu selalu menyayangi dan mendukungnya. Dan aku mengerti kenapa ibu melakukan nya, ibu ingin menebus kesalahan nya. Karena tidak merawat Mawar dari kecil, padahal menurut ku ibu tidak sepenuhnya bersalah. Karena ayahku pasti sangat menjaga dan mendidik Mawar dengan baik, jika Mawar memiliki sifat dan kelakuan yang buruk. Itu tidak sepenuhnya karena salah didikan, bisa jadi memang itu sudah menjadi wataknya." Ucap Melati dengan menyenderkan tubuh lelahnya.


"Aku mengerti dengan dilema mu Mel, tapi tolong jangan pernah tergerak untuk melakukan hal yang sama seperti ibumu. Kau tidak pantas melakukan nya demi saudara yang tega menghancurkan hidupmu." Sahut Aldino dibalik kemudinya.


"Apa maksudmu Al? Tergerak untuk apa? Aku hanya bisa membantu nya sebatas ini saja, tadi aku sempat berpikir ibu akan meminta ku mendonorkan ginjal. Tapi untung saja ibu tidak mengatakan nya, kalau tidak mungkin hati ku akan benar-benar hancur. Meski aku terlihat baik-baik saja, aku tetaplah manusia biasa yang masih memiliki rasa kecewa dan marah didalam diriku. Mungkin aku bisa memiliki belas kasih pada Mawar, tapi itu hanya sebatas kemanusiaan saja. Dan jika semua orang menganggap kami bersaudara, itu seakan status belaka. Karena pada kenyataannya kami berdua seperti orang asing, setelah penghianatan besar itu terjadi." Melati kembali meneteskan air mata nya, hatinya bagaikan disayat sembilu. Hati nya sebagai seorang manusia merasa iba dengan penyakit yang diderita Mawar, tapi sebagai seseorang yang pernah tersakiti, hatinya tak cukup tegar untuk melupakan semuanya.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2