KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
JUJURLAH PADAKU


__ADS_3

"Tapi Nyonya... Jika aku bekerja untukmu, bisakah anda menyembunyikan nya dari Nyonya Mawar? Aku aku takut Nyonya...." Zahra menundukan wajahnya yang berpeluh.


"Baikkah Zahra... Kau tak perlu cemas seperti itu. Jika kau sudah setuju bekerja denganku, aku akan memesankan tiket pesawat." Jelas Melati dengan menyunggingkan senyumnya.


Semoga Nyonya Melati tak mengatakan apapun pada Nyonya Mawar, batin Zahra sangat cemas.


Selain ketakutan nya dengan ancaman Mawar, ada ketakutan lain didalam diri Zahra. Ia takut terjadi sesuatu dengan dirinya, karena perbuatan bejat Tuan nya. Padahal jika sesuatu terjadi dengan nya, Melati pasti akan membantunya untuk menuntut keadilan. Tapi Zahra belum berani mengungkapkan yang sebenarnya. Zahra mengambil pakaian ganti, di tengah malam seperti itu ia mandi untuk membersihkan tubuhnya. Zahra merasa tubuhnya sangat kotor, karena kesucian nya sudah direnggut paksa oleh Tuan nya. Dia menangis di dalam kamar mandi, suaranya tak terdengar dari luar pintu itu. Melati yang sudah lelah melanjutkan tidurnya kembali.


Siang itu Aldino menjemput Melati di kamarnya, setelah mendapat penjelasan dari Melati, jika Zahra akan ikut bersama mereka. Aldino pun menyetujui keputusan Melati. Zahra agak ketakutan ketika Aldino memandang wajahnya, ia langsung menundukan wajahnya dengan gelagat aneh.

__ADS_1


"Hei kenapa kau seperti ketakutan ketika melihatku? Aku ini bukanlah orang yang jahat, sebentar lagi kami akan menikah. Karena itulah kami membutuhkan baby sitter untuk merawat anak kami. Jika kau merasa tidak nyaman, bicaralah jangan sungkan." Ucap Aldino dengan mengerutkan keningnya.


"Al... Tidak apa-apa, sepertinya Zahra sedang ada masalah. Dan dia belum siap membagi masalahnya dengan kita." Melati menjelaskan pada calon suami nya, yang nampak heran dengan tingkah laku Zahra.


Zahra meminta maaf pada Aldino, karena ia terlihat takut ketika berada di dekatnya. Tak bisa dipungkiri jika Zahra menjadi trauma berada di dekat lelaki asing. Tapi Melati berusaha meyakinkan Aldino untuk percaya dengan keputusan nya.


Sesampainya di Semarang Zahra langsung melakukan tugasnya menjaga Alvino. Nampak cara berjalan Zahra terlihat aneh, seperti menahan sesuatu yang menyiksa dirinya. Melati yang merasa aneh bertanya pada Zahra, apa yang sebenarnya terjadi.


"Baiklah kalau belum siap membagi cerita denganku. Kalau kau sudah siap menceritakan apa yang mengganjal didalam hatimu, temui aku kapanpun kau mau."

__ADS_1


Hari berlalu dengan cepat pesta pernikahan akan segera berlangsung beberapa hari lagi. Zahra yang masih berusaha menyembuhkan luka nya, mulai terbiasa hidup di lingkungan Melati. Alvino mulai dekat dengan Zahra, sehingga Melati bisa lebih tenang mengurus berbagai persiapan pernikahan.


Di sebuah Hotel berbintang lima pesta itu akan digelar. Semua keluarga kedua mempelai sudah berdatangan. Tuan Satria datang bersama Nyonya Silvia. Nyonya Silvia sengaja datang ke pernikahan itu untuk bertemu dengan cucu nya. Zahra sedang menggendong Alvino dan Nyonya Silvia menghampirinya, ia sangat terkejut ketika melihat Zahra sedang menggendong cucu nya.


"Kau... Bukankah kau pengasuh anak cacat itu? Kenapa kau ada disini bersama cucuku?." Tanya Nyonya Silvia dengan mengerutkan keningnya.


Zahra gelagapan tak dapat menjawab pertanyaan nya, ia membalikan tubuhnya membawa Alvino pergi bersamanya. Nyonya Silvia mendengus kesal karena Zahra tak menjawab pertanyaan nya.


Bagaimana kalau Nyonya itu menceritakan pada Nyonya Mawar, jika aku bekerja dengan saudara kembarnya, batin Zahra dengan wajah cemas.

__ADS_1


...Bersambung. ...


__ADS_2