
"Maaf pak Dokter memanggil anda ke ruangan nya." Ucap seorang perawat pada Rafael.
Rafael segera menemui Dokter, dia mendapat penjelasan tentang kondisi bayinya.
"Sepertinya bayi anda mengalami tumbuh kembang yang tidak sempurna, karena terapi yang dijalani istri anda. Telah menghambat metabolisme dalam tubuhnya. Dan untuk istri anda, dia sedang koma akibat benturan dikepala nya. Sedangkan ginjal yang ada didalam tubuhnya, bertambah hari akan semakin rusak. Dan untuk cuci darah pun tidak memungkinkan, apalagi untuk prosesi donor ginjal." Penjelasan Dokter itu sangat mengejutkan Rafael, sesungguhnya Rafael sama sekali tidak perduli dengan kondisi Mawar. Tapi bayi nya yang baru lahir itu sangat membutuhkan ibu nya.
"Lalu apa yang harus dilakukan Dok?." Tanya Rafael dengan wajah cemas.
"Jika selama dua hari ke depan, istri anda masih belum sadarkan diri. Kami terpaksa harus melakukan cuci darah sebelum kondisinya makin memburuk."
__ADS_1
Setelah mendengar penjelasan dari Dokter, Rafael kembali menemui kedua orang tuanya. Dia mengatakan semua yang dikatakan Dokter.
"Jadi maksudmu cucu pertama keluarga Hadinata cacat? Tidak! Itu tidak boleh terjadi!." Seru Nyonya Silvia dengan menggelengkan kepalanya berulang kali.
Tuan Satria mencoba menenangkan istrinya, dia terlihat sangat terguncang mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Nampak Ibu Melati berderai air mata mendengar kenyataan, Melati berusaha menenangkan ibunya dan memeluknya.
"Melati perutmu... Apa kau sedang hamil Mel? Kau hamil dengan siapa Nak? Apakah lelaki ini yang telah melakukan nya?." Sang ibu membulatkan kedua matanya, terkejut ketika mengetahui kehamilan Melati.
"Sudahlah bu, tidak usah terlalu terkejut. Sudah pasti dia sedang hamil bayinya Aldino, kami mengenalnya dengan baik. Tapi entah kenapa lelaki sebaik dirinya bisa terjebak dengan perempuan seperti Melati. Hingga mereka melakukan hubungan diluar pernikahan, dan dia sedang hamil diluar nikah. Benar-benar tidak tau malu." Ucap Nyonya Silvia dengan lantang.
__ADS_1
Karena kesal dengan ucapan istrinya yang terlalu merendahkan Melati, Tuan Satria menampar wajahnya dan akan mengatakan kebenaran yang tidak diketahui siapapun.
"Kau tidak pantas mengatakan semua itu pada mereka. Melati adalah perempuan yang baik, tidak seperti putramu yang selalu kau bela itu. Dan Aldino tidak akan berbuat hal-hal yang buruk pada siapapun, dia begitu baik menjaga dan mengurus Melati. Meski Melati sedang...." Tuan Satria tidak melanjutkan kata-katanya karena Melati memberika isyarat dengan menggelengkan kepalanya.
Melati kenapa kau terlalu baik Nak, harga dirimu sudah direndahkan, tapi kau masih tetap diam dan menerima semua hinaan. Batin Tuan Satria dengan memijat pangkal hidungnya.
Seorang perawat tiba-tiba berlari mendatangi Melati, dan mengatakan jika kondisi ayahnya kritis. Sontak saja dia pergi untuk melihat kondisi ayahnya dari balik kaca ruangan ICU, nampak ayahnya sedang dipasangkan alat pemicu jantung. Terlihat detak jantungnya sangat lemah, dan Dokter kewalahan menangani nya. Hingga akhirnya suara alat detak jantung itu tidak menunjukkan adanya detakan lagi. Nafas sudah terlepas dari raganya, Ayah Melati sudah berpulang untuk selamanya. Rafael dan Aldino langsung mencemaskan Melati, mereka bersamaan ingin menenangkan nya. Hingga Rafael tersadar jika dia bukan siapa-siapa Melati lagi, Rafael memundurkan langkahnya. Sementara Aldino memeluk Melati dan meminta nya untuk tenang. Satu persatu alat kedokteran yang menempel ditubuh Ayah nya dilepaskan, Dokter berjalan keluar dengan menundukan wajahnya.
"Maaf kami sudah melakukan pertolongan semaksimal mungkin, tapi pasien tidak dapat kami selamatkan." Penjelasan Dokter itu membuat Melati terguncang, kepalanya berkunang-kunang tubuhnya lemas seketika. Melati kehilangan kesadaran nya dan pingsan dipelukan Aldino.
__ADS_1
...Bersambung....