KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
UCAPAN BELAKA ATAU SERIUS?


__ADS_3

Setelah menumpahkan kesedihan nya, Melati kembali menemui Aldino yang sedang berbincang dengan Rio dan juga Agnes. Aurelia berlari ke arahnya dan memeluknya.


"Ibu peri habis nangis ya, kenapa wajahmu terlihat sedih. Apa ada yang nakal disini?." Pertanyaan Aurelia membuat Melati tersenyum kecil seraya mendekapnya lebih erat lagi.


"Sayang, ibu sedang tidak sehat, bisakah kita pulang sekarang." Bujuk Melati, karena tau Aurelia sebelum nya sedang bermain bersama anak sebaya nya.


"Apakah ibu sakit." Aurelia menatap Melati dari atas sampai bawah, dan menyadari jika Melati terus memegangi perutnya.


Sebelum Melati sempat menjawabnya, Aurelia mendatangi Aldino dan menarik tangannya.


"Papa ayo kita pulang, perut ibu peri sedang sakit. Aurel tidak mau ibu peri kenapa-napa, bisakan kita pulang sekarang." Bisik Aurelia ditelinga Aldino.


Aldino mengerutkan keningnya seraya memandang Melati, perempuan itu hanya terdiam dengan memegangi perutnya.


"Rio, Agnes kami harus pulang lebih dulu. Sepertinya Melati sedang kurang sehat, dan Aurelia sangat menghawatirkan nya." Jelas Aldino seraya berpamitan pada mereka.

__ADS_1


Aldino menghampiri Melati dan berniat untuk membopong nya, tapi Melati menolak dan ingin berjalan saja. Kemudian Aldino memapahnya, dan Aurelia terus menggenggam tangan ibu peri nya.


"Kita ke Rumah Sakit dulu ya, aku menghawatirkan kandungan mu." Aldino mengemudikan mobil dengan terburu-buru.


"Al, pelan-pelan saja ya. Perutku semakin mual ketika kau mengemudi cepat."


Aldino menghembuskan nafasnya panjang, menatap sendu wajah cantik Melati yang terlihat muram.


"Sekali lagi maaf atas kelancangan ku tadi, aku mengatakan dihadapan semua orang tentang pernikahan kita. Aku hanya ingin menyelamatkan mu dari mantan suami mu, sepertinya dia masih sangat mencintaimu. Aku dapat melihat dari tatapan matanya, jika dia dipenuhi penyesalan. Pasti saat ini dia sedang meratapi nasibnya, tapi aku tidak menyesal membuatnya terluka seperti tadi. Aku bersyukur dapat membantu mu membalaskan luka hatimu." Aldino menyunggingkan senyumnya seraya mencuri pandang melihat wajah cantik Melati.


"Jujur saja aku tidak sanggup berdiri di hadapan nya, hatiku yang mulai tegar kembali runtuh ketika dia menyebutkan namaku. Aku kembali mengingat luka itu, bahkan aku semakin terluka ketika membayangkan masa depan bayi yang tidak berdosa ini." Ucap Melati seraya mengelus perutnya.


Sesampainya di Rumah Sakit, kandungan Melati diperiksa oleh seorang Dokter muda. Dokter menjelaskan jika kandungan Melati baik-baik saja, dia hanya sedikit terguncang, hingga perut nya terasa melilit sakit.


"Lain kali jangan terlalu banyak pikiran, karena usia kandungan nya masih terlalu muda, apapun bisa terjadi. Tolong ya pak istrinya dijaga lebih baik lagi."

__ADS_1


Suasana mendadak hening, terdengar suara Aurelia yang berteriak girang, karena ia mendengar jika ibu peri nya akan memiliki seorang bayi. Dia menghambur ke pelukan Melati memeluknya dengan erat.


"Horee... Ibu peri akan memiliki seorang adik bayi." Teriak Aurelia kegirangan.


"Wah selamat ya cantik, sebentar lagi kau akan memiliki adik kecil." Ucapan sang Dokter pada Aurelia membuat Aldino dan Melati terdiam dengan saling memandang.


Terlihat Melati bangkit dari duduknya berpamitan pada sang Dokter, sementara Aldino berjalan dibelakang nya.


"Sebelum kau meminta maaf lagi, aku akan katakan jika kau tidak bersalah. Wajar saja Dokter mengira jika kita adalah pasangan suami istri, apalagi ada gadis secantik Aurelia di antara kita." Melati tersenyum seraya berjalan bergandengan tangan dengan Aurelia.


"Kenapa kau bisa tau isi hatiku Mel?." Aldino mengernyit menatap punggungnya, lalu dia berjalan cepat menghampiri Melati.


"Aku berterima kasih sekali padamu, karena kau selalu membantu ku. Bahkan mengantarkan ku ke Dokter, seharusnya ini menjadi tanggung jawab papa dari bayiku. Tapi nasibnya sangat buruk, karena dia akan terlahir ke dunia ini tanpa sosok seorang papa." Melati tertunduk dengan wajah sendu.


Seketika Aldino mengatakan sesuatu yang membuat Melati menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Aku tidak ingin anak lain mengalami nasib yang Aurel rasakan, jika kau mau, aku bisa menjadi papa untuk bayimu. Dan Aurel akan memiliki kasih sayang dari seorang ibu." Ucap Aldino tanpa berani memandang Melati, yang sedang membalikkan tubuhnya menatap ke arahnya.


...Bersambung. ...


__ADS_2