
Setelah mengakhiri panggilan telepon nya, Anya bertemu dengan seorang pengacara. Dia menceritakan segalanya, dan yang diinginkan nya selain hak asuh yang mungkin tidak bisa didapatkan nya. Dia juga ingin diperbolehkan bertemu dengan anaknya.
"Kalau memang aku tidak bisa mendapatkan hak asuhnya tidak masalah, asal aku diperbolehkan bertemu dengan nya. Katakan saja hal itu pada mantan suami ku, sebelum kita melanjutkan kasus ini ke pengadilan." Ucap Anya yang tidak mau dirugikan hanya untuk melanjutkan kasus nya ke pengadilan.
Setelah seorang lelaki yang diminta nya sebagai pengacara pergi. Anya kembali mencari tau tentang Melati, karena sebelumnya Mawar sudah meminta bantuan nya.
Baiklah aku akan berusaha mencari tau dimana perempuan itu tinggal, karena aku juga membutuhkan informasi itu, batin Anya seraya melangkah pergi.
******
Melati baru saja terbangun dari tidurnya, tiba-tiba perutnya mengalami kontraksi. Karena tidak tahan merasakan kesakitan Melati menghubungi Aldino untuk mengantarnya ke Dokter. Aldino yang saat itu sedang bersiap untuk berangkat bekerja, terlihat sangat panik dan bergegas pergi ke kontrakan Melati.
__ADS_1
"Aurelia sayang, hari ini kau libur sekolah dan ibu peri sedang tidak sehat. Bisakah Aurel tetap di rumah bersama bibi? Papa harus mengantar ibu peri ke Dokter, setelah itu papa akan berangkat bekerja. Bagaimana sayang apa Aurel setuju?."
"Baiklah papa! Aurel akan di rumah bersama bibi saja, Aurel ingin ibu peri cepat sembuh. Kan kasihan adik bayi yang ada didalam perut ibu peri."
Setelah berpamitan dengan Aurel, Aldino bergegas pergi. Tanpa dia tau, ada sebuah mobil yang terus mengikutinya. Anya sengaja menunggu di luar rumah Aldino, hanya untuk membuntuti nya. Mobil Al berhenti di depan gang kecil, lelaki itu turun dan berjalan kaki memasuki gang kecil yang ada di depan nya.
Untuk apa dia pergi ke tempat ini ya, batin Anya dengan mengernyit.
Setelah menunggu beberapa saat, Aldino berjalan dengan memapah Melati. Terlihat Melati berjalan dengan memegangi perutnya, Anya terkejut ketika melihat perut Melati yang nampak membesar ketika dia mengenakan daster.
Tiba-tiba ponsel Anya berdering, ada panggilan masuk dari Mawar. Anya langsung menerima panggilan telepon itu.
__ADS_1
"Hallo War, kau tidak akan pernah menyangka apa yang baru saja ku lihat!." Seru Anya yang masih shock dengan apa yang dilihatnya.
"Memang nya ada apa lagi Nya? Padahal aku menghubungi mu untuk meminta saran." Sahut Mawar dengan memijat pangkal hidungnya.
Dengan bersemangat Anya menceritakan semua yang dilihatnya, Mawar pun terkejut dengan apa yang diucapkan Anya. Menurut Mawar saudara kembarnya adalah perempuan baik-baik, tidak mungkin dia hamil diluar nikah dengan lelaki lain.
"Apa kau yakin Melati tidak melakukan hubungan itu dengan mantan suamiku? Lalu dia sedang mengandung anak siapa?." Pertanyaan Anya membuat Mawar berpikir keras, dia curiga jika ternyata Melati sedang mengandung anak dari Rafael.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Mawar menarik nafasnya dalam-dalam. Dia berusaha menenangkan dirinya.
Tidak! Tidak mungkin kak Melati sedang mengandung anak mas Rafael, tapi tidak mungkin juga dia melakukan hubungan itu dengan lelaki yang bukan suami nya. Kalau pun dia sudah menikah lagi, pasti ibu dan ayah akan datang. Jangan-jangan memang itu adalah anak mas Rafael, batin Mawar dengan resah.
__ADS_1
Dan diseberang telepon sana, Anya sedang berteriak memanggil-manggil Mawar berulang kali. Tapi Mawar hanya terdiam, sehingga Anya kehilangan jejak Aldino yang sudah mengemudikan mobilnya.
...Bersambung. ...