
Aku semakin stres setiap harinya, perasaan bersalah selalu mengikuti kemanapun. Terpaksa ku jalani hari-hari bersama Mawar di rumah baru kami, perempuan itu berlagak seperti seorang istri yang baik. Semenjak Melati memutuskan pindah ke kota lain, aku bertekad untuk tidak menyentuh Mawar lagi, setiap waktu Mawar selalu menggoda dan merayuku. Memang tidak bisa ku pungkiri jika tubuhnya masih menggoda meski dia tengah hamil, tapi tekadku terlalu kuat untuk menahan godaan itu.
Hingga pada suatu malam, ada perasaan lain di dalam diriku, hasratku untuk melakukan permainan panas itu kembali muncul. Mawar mendatangi ku dengan gaun malamnya, dia menggoda dan memberikan sentuhan-sentuhan ditubuhku, hingga pertahanan ku runtuh, dan aku melakukan penyatuan dengannya. Mawar tetaplah Mawar, dia selalu memuaskan hasratku di atas ranjang, hingga suatu ketika bayangan Melati muncul, dan aku teringat masa lalu ketika kami melakukannya. Akupun tersadar menyebut nama Melati dihadapan Mawar ketika kami di atas ranjang, entah bagaimana perasaan Mawar saat itu, aku benar-benar tidak perduli dan ku hentikan semuanya sampai disitu.
__ADS_1
Memang salahku masih mengingat sosok Melati sebagai istriku, tidak bisa ku pungkiri pula karena wajah keduanya sangat mirip, sehingga aku selalu salah sangka ketika berhubungan dengannya. Mungkin semua yang ku lakukan dulu, karena membayangkan wajah Melati, sehingga aku tidak sadar melakukannya dengan Mawar. Tapi semua sudah terlambat, aku terjebak oleh perbuatan ku sendiri.
Ku langkahkan kaki ke kamar untuk mengambil berkas penting, ku lihat Mawar sedang menangis di sudut kamar. Aku pura-pura tidak melihatnya dan melewati nya begitu saja, sungguh aku tidak ingin menghiraukan keberadaannya di rumah ini, jika bukan karena dia sedang mengandung benih ku.
__ADS_1
Mama datang untuk mengajakku memeriksakan kandungan Mawar, tapi aku beralasan ada meeting penting di kantor. Tapi mama terus memaksa hingga aku terpaksa menurutinya. Dokter menjelaskan jika kandungan Mawar sedikit lemah, dan memintaku untuk mengajaknya berlibur supaya perasaan nya kembali bahagia.
Kami semua tiba di Jogja dengan pesawat malam, hari pertama ku putuskan untuk menghirup udara malam di kota gudeg itu. Mawar berusaha mengikuti ku kemanapun, tapi dengan perutnya yang membesar dia kelelahan untuk berjalan. Ku minta mbak Saroh untuk menemaninya duduk di bangku-bangku yang ada di sekitar malioboro. Mawar terlihat kesal tapi tidak berani mengeluh, itu resiko yang harus dia terima karena mengikutiku, hingga aku terkejut ketika melihat seorang perempuan yang tidak asing bagiku.
__ADS_1
Perempuan itu sedang duduk di sebuah angkringan dengan seorang lelaki, yang nampak akrab baginya. Aku terbelalak kaget mengetahui jika Melati ada di kota yang sama denganku. Tapi siapa lelaki yang bersamanya saat itu, ketika ku mencoba untuk mendekatinya, ponsel di saku celana ku berbunyi, panggilan telepon dari mama yang memintaku segera membawa Mawar ke hotel, karena tubuhnya tiba-tiba menggigil. Di antara dua pilihan, aku bimbang harus menemui Melati atau membawa Mawar ke hotel, aku terdiam dan memukul tembok yang ada di samping ku, hingga Melati menoleh ke arahku.
...Bersambung....
__ADS_1