
Melati menenangkan diri di sebuah taman kecil, dia menangis sesegukan disana, hati dan pikirannya sangat kalut, gambaran penderitaan akan masa depan bayi yang ada didalam rahim nya tergambar di kepalanya.
"Tidak! Aku tidak bisa membiarkan bayi tidak berdosa ini menderita, bagaimanapun caranya aku akan melindunginya dengan jiwa dan ragaku." Ucap Melati pada dirinya sendiri.
Dret dret dret...
Ponsel di saku jaketnya bergetar, Melati menerima panggilan telepon dari Liliana dan menceritakan segalanya.
"Aku akan segera ke Rumah Sakit sekarang juga, kau jangan kemana-mana ya Mel, kita bicarakan semuanya langsung, kau harus tenang dan jangan melakukan sesuatu yang akan mencelakai dirimu sendiri." Seru Liliana dengan cemas.
Aldino datang mendekati Melati yang masih berurai air mata, Aurelia mendekap Melati seraya mengusap air mata nya. "Jangan menangis ibu peri, Dokter itu orang baik, jadi ibu peri jangan takut ya, nanti Aurel temani kalau ibu peri takut." Tingkah lugu Aurelia membuat Melati menyunggingkan senyumnya.
"Iya Aurelia sayang, ibu sudah tidak takut lagi." Melati mengusap lembut rambut gadis kecil itu seraya mengecup keningnya.
__ADS_1
Nampak aura keibuan dari wajah Melati, membuat Aldino enggan untuk bertanya, tapi tiba-tiba Melati mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut.
"Aku memang tidak memiliki suami, karena sebelum pindah ke kota ini kami memutuskan untuk berpisah, karena itulah aku memilih merantau ke tempat lain, supaya aku dapat melupakan masa lalu, tapi ternyata takdir berkata lain, bagian dari masa laluku tetap mengikutiku, menjadi benih dan darah dagingku, entah aku harus bahagia atau bersedih." Melati setengah tersenyum, seakan ada duka dibalik kabar bahagianya waktu itu.
"Maaf jika pertanyaan ku tadi mengorek lukamu kembali, percayalah jika Tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang indah untukmu, bayi itu akan tumbuh ditangan Ibu yang sangat baik seperti mu, kau pasti bisa menjalani semuanya, jika ada yang kau butuhkan, aku siap membantu mu." Jelas Aldino dengan tulus.
Seorang perempuan mendatangi mereka, dia memeluk Melati dengan mata berkaca-kaca. Liliana memberikan kekuatan pada sahabatnya itu, dan meminta nya kembali tinggal bersamanya.
"Aku tidak apa-apa Li, ini hanya kehamilan yang biasa bagi semua perempuan, kau tidak perlu terlalu mencemaskan ku."
Aurelia menghambur ke arah kedua perempuan itu, gadis kecil itu berkata jika dia yang akan menjaga ibu perinya.
"Oh tentu saja gadis manis, kau yang akan menjaga ibu peri mu ya." Goda Liliana dengan mencubit pipi tembem Aurelia.
__ADS_1
Seorang perawat mendatangi Melati dan memintanya kembali ke ruang pemeriksaan, Melati bangkit dari duduknya dan berjalan bersama perawat.
Aldino dan Liliana berkenalan dan mengajak Aurelia bermain bersama, nampak Aldino memberanikan diri untuk bertanya tentang Melati pada sahabatnya itu.
"Kalau boleh tau dimana mantan suami Melati, perempuan sebaik Melati kenapa harus ditinggalkan seperti itu, pasti mantan suaminya akan menyesal setelah mengetahui Melati sedang hamil."
"Sebenarnya perpisahan itu bukan kemauan mereka, tapi takdir yang mengharuskan nya, kembaran Melati merebut suaminya, sebelum ini mereka memutuskan untuk kembali bersama, tapi setelah mengetahui kembarannya hamil, Melati mengalah dan pergi, sungguh memilukan, entah seperti apa perasaannya saat ini, aku tidak tega melihat keadaan Melati, dia hidup sebatang kara di kota ini, hanya aku yang dikenalnya, karena itulah aku memintanya tinggal bersama ku lagi, tapi aku juga tau, jika dia akan menolaknya."
Aldino tertegun setelah mendengar cerita Liliana, dia tidak menyangka jika kisah hidup Melati begitu memilukan, disaat Aldino sedang sibuk dengan pikirannya, Aurelia berteriak-teriak memanggil Papanya.
"Papa tolong ibu peri Paa." Jerit Aurelia mengagetkan Aldino dan juga Liliana.
...Bersambung....
__ADS_1