
Setelah prosesi pemakaman selesai, Melati masih saja berlinang air mata. Ibu nya meminta nya untuk istirahat di rumahnya dulu, tapi Melati menolaknya karena masih ingin berada di makam Ayah nya.
"Sudahlah Mel, ikhlaskan kepergian ayahmu. Dia sudah jauh lebih baik sekarang. Dan harus ada yang kau jelaskan pada ibu, bayi siapa yang sedang kau kandung saat ini?."
"Bu tolong! Berikan waktu untuk Melati menenangkan diri dulu. Melati janji akan menjelaskan segalanya pada ibu."
Aldino bersama Melati pergi ke rumah ibu nya untuk beristirahat, karena rencananya besok mereka harus kembali ke Semarang. Padahal Melati masih ingin berada disana sampai tujuh hari sepeninggal sang Ayah. Tapi Tuan Satria melarang nya, hawatir jika istrinya akan melukai hati Melati dengan kata-kata pedasnya. Karena Tuan Satria tidak akan bisa menahan diri lagi, dan bisa jadi dia akan mengatakan kebenaran tentang kehamilan nya.
"Ini Mel diminum dulu teh hangatnya." Ibunya merawat Melati yang nampak shock dan terguncang, dia memijat kening dan kepala Melati yang sakit.
__ADS_1
Karena Melati tertidur, ibu nya pergi ke ruang tamu untuk menemui Aldino. Mereka berbicara tentang usia kandungan Melati.
"Kandungannya sudah hampir empat bulan bu, untuk tepatnya saya kurang tau." Jelas Aldino dengan mengerutkan keningnya.
Empat bulan? Bukankah Melati meninggalkan kota ini kira-kira empat bulan yang lalu. Apakah mungkin bayi itu adalah buah hatinya dengan Rafael? Aku sangat mengenal anakku Melati dengan baik, dia tidak mungkin melakukan perbuatan buruk dengan orang yang belum sah menjadi suaminya, batin ibu nya dengan wajah resah.
"Nak meski ibu belum mengenal mu dengan baik, ibu dapat melihat jika kau adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan baik. Ibu tau jika kau dan Melati tidak mungkin melakukan perbuatan itu. Jadi jawablah pertanyaan ku dengan sejujurnya!."
"Bukankah Melati sudah berjanji akan mengatakan segalanya pada ibu. Kenapa ibu tidak sabaran dan membebani Aldino dengan pertanyaan yang tidak harus dijawab nya!." Seru Melati seraya duduk di samping ibu nya.
__ADS_1
"Apalagi yang harus ibu lakukan Mel. Kedua anak ibu sedang mengalami cobaan, Mawar sedang terbaring kritis dengan anaknya yang di diagnosis cacat oleh Dokter. Dan kau sendiri sedang hamil dalam keadaan tanpa suami, sehingga semua orang akan memandang buruk terhadapmu. Jujurlah Mel, apakah bayi itu adalah anak Rafael?." Tanya ibu nya dengan mata berkaca-kaca.
Melati menyunggingkan senyumnya seraya memeluk ibunya dalam dekapan nya.
"Lalu kenapa bu, jika ini adalah anaknya mas Rafael. Toh Melati sendiri yang menjaganya selama ini, dan bayi ini akan memiliki Papa yang sangat bertanggung jawab padanya. Aldino akan menikahi ku Bu, sehingga bayi ini akan memiliki status dimata hukum dan agama. Tapi sebelum semua terjadi ayah sudah lebih dulu meninggalkan ku. Dan seandainya ayah tau jika dia akan memiliki cucu dariku, mungkin dia akan bertahan lebih lama lagi." Jelas Melati dengan berurai air mata.
"Ja jadi benar kau hamil dengan Rafael Mel? Tapi kenapa kau tidak mengatakan sejak awal. Kau memilih pergi meninggalkan kami semua, padahal saat itu kau sedang hamil. Tapi kenapa kai menyembunyikan kebenaran ini dari kami semua Mel?."
Melati menggelengkan kepalanya seraya mengusap air matanya. Dia mengatakan jika Tuan Satria mengetahui segalanya, bahkan dia setuju dengan rencana pernikahan mereka.
__ADS_1
"Ibu tau kan mama Silvia tidak pernah menyukaiku? Coba bayangkan apa yang akan terjadi jika dia mengetahui kalau Melati mengandung bayi dari putra nya? Pasti dia akan memisahkan Melati dari bayi ini bu, dia akan merebut bayi ini setelah kelahiran nya. Meski dia sudah mendapatkan cucu dari Mawar, mama Silvia akan berusaha mengambil bayi ku ini. Dan jika sampai itu terjadi, Melati tidak akan sanggup hidup lagi bu." Melati terisak membayangkan kemungkinan yang akan terjadi, lalu Ibu nya mendekapnya ke dalam pelukan nya.
...Bersambung....