
Setelah tiga jam lamanya, Dokter keluar dari ruang operasi. Dokter memberi tau jika operasi sudah sukses dilakukan.
"Tapi tolong setelah pasien sadar, jangan katakan apapun dulu mengenai pengangkatan rahim nya. Karena pasien akan mengalami kecemasan, dan itu akan sangat riskan mengingat operasi yang baru saja dilakukan."
Nyonya Silvia bersama Tuan Satria baru saja tiba, mereka mendengar tentang pengangkatan rahim Mawar. Sontak saja Nyonya Silvia membulatkan kedua matanya. Perempuan itu tidak dapat menerima kenyataan, bahwa menantu nya tidak dapat memberikan keturunan lagi. Dia berteriak lantang pada Rafael, untuk meninggalkan Mawar yang sudah tidak berguna itu.
"Rafa! Kau sadar apa yang telah terjadi ini? Jika Mawar tidak memiliki rahim lagi, bagaimana dia bisa memberi mu keturunan? Bahkan satu bayi yang baru saja dilahirkan nya juga tidak normal, bayi itu cacat Rafa! Kau harus menceraikan Mawar, dan menikah dengan perempuan yang jauh lebih baik dan sempurna." Ucap Nyonya Silvia dihadapan Rafael dan juga besannya.
Nampak Ibu Mawar murka mendengar perkataan Nyonya Silvia. Terjadi perdebatan di antara keduanya, ibu Mawar tidak terima dengan ucapan besan nya itu.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak akan menerimanya lagi, jika kalian sampai menyakiti Mawar. Lihat ibu baik-baik Rafa, ini adalah sumpah seorang ibu! Kau sudah pernah mencampakan Melati, jika kau sampai mencampakan Mawar juga, ibu tidak akan pernah mengampuni mu! Dimana hati nurani kalian sehingga tegatega mengatakan kata-kata keji itu!." Serunya berderai air mata.
Tuan Satria menengahi perdebatan itu, dan meminta keduanya untuk menjaga sikap. Rafael mengajak ibu mertua nya ke taman untuk menenangkan nya. Dan Tuan Satria terlihat sedang marah pada istri.
"Silvia jika kau tidak bisa menjaga ucapanmu, jagalah hati dan perasaan orang lain. Kau ini seorang perempuan Silvia, kenapa kau tega mengatakan semua itu dihadapan ibu nya? Apa yang akan terjadi jika anakmu yang mengalami semuanya, apa kau akan terima mendengar seseorang mengatakan sesuatu yang akan menyakiti anakmu? Tolong jangan buat masalah lagi, dulu kau yang selalu membela Mawar untuk bersama Rafael. Sekarang terima saja pilihanmu itu, jangan membuat keadaan menjadi semakin rumit." Ucap Tuan Satria dengan membulatkan kedua matanya.
"Karena aku seorang ibu pa aku menghawatirkan masa depan Rafael. Istri yang sudah tidak memiliki rahim, tidak akan ada gunanya lagi. Rafael juga berhak bahagia pa, dia harus memiliki penerus yang sempurna. Bukan bayi cacat yang akan mempermalukan nya pa." Sahutnya dengan mata berkaca-kaca.
Karena kesal dengan perkataan suaminya, Nyonya Silvia pergi meninggalkan Rumah Sakit. Dia memalingkan wajahnya ketika berpas-pasan dengan besan nya. Lalu seorang perawat datang memberitahu jika Mawar sudah dipindahkan di ruang inap, dan mereka bisa menemuinya.
__ADS_1
Sang ibu berlari menemui Mawar terlebih dulu, nampak Mawar sedang berbaring dengan mata sayu. Dia sudah sadar dan menanyakan dimana bayi nya.
"Bu apa Mawar sudah melahirkan? Dimana bayi nya bu?." Tanya nya dengan suara parau.
"Bayimu ada di ruangan nya War, dia baik-baik saja. Istirahat lagi Nak, kau baru saja melakukan operasi besar. Pasti kau masih lemah." Ucap ibu nya dengan mengusap wajah Mawar.
"Dimana mas Rafael bu? Beritau dia kalau aku ingin berbicara dengannya. Aku sangat merindukan nya bu, seakan-akan aku sudah lama tidak bertemu dengan nya."
Rafael pun datang menemui Mawar, ada banyak kegundahan didalam hati Rafael. Tapi dia berusaha tenang dihadapan Mawar. Bagaimana pun Mawar belum tau apa-apa tentang semua yang telah terjadi selama dia tak sadarkan diri.
__ADS_1
Apa yang harus ku katakan padanya, bahkan dia tidak tau jika Ayah nya sudah tiada. Apalagi bayinya yang tidak sempurna itu, apakah dia bisa menerima kenyataan yang ada, batin Rafael dengan memijat pangkal hidungnya.
...Bersambung....