
Mawar yang mendengar banyak hal tentang kesuksesan Melati di perantauan merasa kesal. Menurutnya Melati tidak pantas mendapat segala kebahagiaan. Mawar membanting pintu kamarnya dengan kesal, setelah mendapat telepon dari Anya yang menceritakan tentang bisnis Melati yang maju pesat, dan sebentar lagi dia akan menikah dengan lelaki yang sangat mencintai nya.
Kenapa selalu Melati yang mendapatkan segalanya! Disini aku bagaikan mayat hidup yang tak diinginkan siapapun, batin Mawar dengan meremas kedua tangannya.
Catleae terbangun di sofa ruang keluarga, dia hampir terjatuh ke lantai, sementara baby sitter nya sedang pergi membuatkan susu. Mawar yang melihatnya tak memperdulikan bayi itu sama sekali. Dia sibuk memainkan ponselnya, hingga Rafael datang melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Mawar! Apa yang kau lakukan disini! Lihatlah Catlea hampir terjatuh dan kau malah acuh tak menolongnya!."
Hening, tak ada jawaban dari Mawar. Hingga Rafael kesal dan membanting ponsel yang ada di tangan Mawar.
Braakk...
__ADS_1
"Kau itu kenapa mas? Kenapa kau melemparkan ponselku? Jika Catlea terjatuh memangnya kenapa? Toh dia tidak akan menangis, itu artinya dia baik-baik saja." Ucap Mawar dengan lantangnya.
Azzahra baby sitter Catlea datang dan meminta maaf, karena teledor meninggalkan Lea sendirian.
"Maaf Tuan dan Nyonya, semuanya salah saya. Tadi Catlea sedang tidur, dan saya meninggalkan nya sebentar untuk membuat susu. Tapi ternyata Lea terbangun dan hampir jatuh, saya benar-benar minta maaf." Zahra menundukan wajahnya penuh penyesalan.
Mawar bangkit dari duduknya menghampiri Rafael. Dia membulatkan kedua matanya, menatap Rafael dengan rasa angkuh.
Tidak tahan mendengar ucapan Mawar, tangan Rafael tak kuasa menahan diri dan menampar wajah Mawar.
"Kau menampar ku mas? Tega sekali kau!." Seru Mawar dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Lebih baik aku menampar mu, daripada aku akan merobek mulutmu! Sadarkah yang kau ucapkan barusan? Bayi yang kau sebut cacat itu adalah darah daging mu. Jika aku tidak mengingat janjiku pada almarhum ayahmu, sudah lama aku akan menceraikan mu. Kenapa kau tidak pergi saja dari hidupku, jika memang kau tidak mau merawat Catlea! Aku bisa merawatnya sendiri tanpamu, pergilah dari kehidupan ku jika kau tak mau mengurusi Catlea!." Pekik Rafael dengan membulatkan kedua matanya.
Apa yang harus ku lakukan, jika aku pergi dari kehidupan nya. Aku tidak akan memiliki apapaun, selama menjadi istrinya aku tidak pernah bekerja lagi. Dan aku tidak mempunyai simpanan sama sekali, karena aku selalu menghabiskan uang pemberiannya untuk bersenang-senang. Batin Mawar dengan mengerutkan keningnya.
"Tidak mas... Aku sangat mencintai mu, aku masih ingin menghabiskan hidupku bersamamu. Kau bilang sudah janji pada almarhum ayahku bukan? Kau tidak bisa mengingkarinya dengan meninggalkan ku mas."
Mawar berlagak sedih dan terpuruk dengan keadaan yang telah terjadi, dia sangat takut jika Rafael akan mencampakan nya. Karena Mawar tidak ingin kehilangan harta dan kekayaan yang selama ini dinikmatinya. Mawar tak mau hidup susah dengan membanting tulang seperti dulu. Dia memohon dan bersimpuh dibawah kaki Rafael, untuk memberinya kesempatan. Asal Rafael tak meninggalkan nya.
"Aku memang sudah berjanji tidak akan meninggalkan mu, tapi aku bisa melakukan sesuatu padamu. Aku akan menarik semua fasilitas yang kau pakai, dan uang bulanan yang selama ini ku berikan, akan ku hentikan mulai sekarang. Bekerjalah jika kau ingin menikmati segalanya!." Seru Rafael dengan berkacak pinggang.
...Bersambung....
__ADS_1