
Nampak di Maps ponselnya, jika Tuan Satria berhenti di suatu tempat. Rumah Sakit Columbia tertera di layar ponselnya, dengan waspada Nyonya Silvia turun dari taksi. Perempuan itu sengaja menutupi wajahnya menggunakan masker. Dengan perlahan Nyonya Silvia tetus membuntuti suaminya. Kamar No 214, Tuan Satria masuk ke dalam sana. Nyonya Silvia berdiri di balik pintu dan sedikit mendengarkan percakapan beberapa orang dari balik pintu itu.
Terdengar ucapan selamat, dan tawa bahagia Tuan Satria. Semakin membuat Nyonya Silvia meradang, tangannya ingin meraih gagang pintu dan segera masuk ke dalam sana. Tapi dia belum cukup mendengar banyak bukti, sehingga dia menunda untuk masuk ke dalam.
"Selamat ya pa atas kelahiran cucu laki-laki nya, sekarang papa sudah memiliki sepasang cucu laki-laki dan perempuan." Ucap Melati yang duduk di atas ranjang.
"Selamat untukmu juga sayang, kau sudah menjadi seorang ibu. Seandainya Putra ku yang bodoh itu mengetahui jika dia memiliki penerus, pasti dia akan tidak akan terpuruk seperti sekarang ini." Tuan Satria tertunduk dengan wajah sendu.
"Tidak apa-apa pa, Alvino tetaplah Putra nya. Kelak mas Rafael akan mengetahui segalanya, tapi untuk saat ini biarlah seperti ini saja pa."
Apa maksudnya semua ini, putra Rafael? Siapa sebenarnya perempuan yang ada di dalam sana, batin Nyonya Silvia dengan detak jantung yang berderu kencang.
Ceklek...
__ADS_1
Nyonya Silvia membuka pintu dari luar, dipandang nya semua orang yang ada di dalam.
"Melati...." Ucapnya lirih dengan membulatkan kedua matanya.
Tuan Satria terkejut melihat kehadiran istrinya. Dia menggenggam tangan istrinya, dan mengajaknya pergi dari ruangan itu. Tapi Nyonya Silvia menghempaskan tangan suaminya.
"Apa maksud dari semua ini? Cepat jelaskan pada mama pa!." Seru Nyonya Silvia dengan memandang ke segala arah.
"Cucuku... Dia adalah putra dari Rafael kan? Cepat katakan yang sebenarnya, karena aku sudah mendengar perkataan kalian semua!." Seru Nyonya Silvia dengan lantang.
Nampak Melati meminta Aldino untuk membawa bayi nya ke pelukan nya. Melati tersenyum miring dihadapan Nyonya Silvia.
"Cucu anda yang mana Nyonya? Bayi ini memang Putra dari anakmu, tapi dia tidak memiliki hak apapun atas bayi ini. Aku yang telah mengandung nya selama sembilan bulan, tanpa bantuan darimu atau putramu. Dan kau tiba-tiba datang menyebutnya sebagai cucu dari anakmu? Maaf jika Melati tidak sopan. Tapi anda ataupun Putra anda tidak pantas menyebutnya sebagai keturunan dari putra kalian. Ingatkah Nyonya berkata jika aku ini hamil diluar nikah? Dengan kata lain anda menganggapnya sebagai anak yang tidak sah bukan? Tanpa berpikir lebih dulu bayi siapa yang sedang ku kandung, anda mengatakan hal-hal buruk sebelum kelahiran nya. Lebih baik anda pergi dari sini, bukankah Mawar sudah memberikan keturunan untuk putra anda." Ucap Melati tegas dengan mendongakan kepalanya ke atas.
__ADS_1
Situasi disana mendadak hening, tak ada satupun kata yang dijawab oleh Nyonya Silvia. Tubuhnya yang semula berdiri tegap kehilangan keseimbangan. Nyonya Silvia memegangi keningnya yang tiba-tiba berkunang-kunang. Tuan Satria menopang tubuh istrinya yang lemas, dia membawanya ke kantin rumah sakit dan memberikan minuman. Untuk menenangkan hati istrinya, yang sedang dipenuhi rasa bersalah ataupun penyesalan.
"Lihatlah Silvia apa yang terjadi padamu? Kau kehilangan hak untuk memeluk cucumu sendiri. Sudah berkaki-kali ku katakan untuk menjaga ucapanmu. Sekarang kau merasakan hasil dati apa yang selama ini kau ucapkan." Tuan Satria terlihat sedih, dia memijat pangkal hidungnya.
"Pa benarkah bayi itu cucu kita? Bayi itu terlihat tampan seperti Rafael putra kita. Bukankah Rafael harus mendengar kebenaran ini pa, dia memiliki penerus yang layak. Seorang bayi laki-laki yang sempurna, akan menjadi penerus keluarga Hadinata. Aku akan memberitau Rafael sekarang juga!." Ucap Nyonya Silvia seraya meraih ponselnya.
Lalu Tuan Satria menghentikan tindakan istrinya. Dia melarang untuk melakukan nya, karena tidak ingin terjadi keributan di Rumah Sakit itu.
"Hentikan perbuatan bodohmu Silvia, dengan memberitahu kebenarannya pada Rafael tidak akan mengubah apapun. Biarkan Melati yang mengatakan segalanya pada Rafael. Tolong jangan rusak kepercayaan ku, dan tutup mulut lah Silvia." Pinta Tuan Satria dengan membulatkan kedua matanya.
...Berikan Like dan komentar nya yuk, jika berkenan berikan Gift dan Vote nya ya kak. Terima kasih 😘💕...
...Bersambung....
__ADS_1