
Aldino bersama Melati sudah sampai dengan pesawat paling pagi, mereka bergegas ke Rumah Sakit dan tidak sengaja bertemu dengan Rafael yang sedang menantikan kelahiran bayi nya. Melati memalingkan wajahnya seraya melewati Rafael begitu saja. Sang ibu yang melihat kedatangan Melati segera menghampiri dan memeluknya.
"Mel kau datang Nak, saat ini Mawar akan segera di operasi sesar. Harusnya sudah sejak semalam, tapi tekanan darahnya sangat rendah, dan operasi ditunda sampai sekarang. Ibu sangat cemas memikirkan nya Mel."
Jadi bukan hanya ayah yang ada di Rumah Sakit, tapi Mawar juga ada disini. Tidak heran jika mas Rafael menunggu nya, padahal aku kesini bukan untuk melihat nya, batin Melati dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Ibu tenang saja, kita sama-sama berdoa pada Tuhan. Semua pasti akan baik-baik saja, Melati ingin menjenguk Ayah dulu ya bu." Melati melangkahkan kakinya menghampiri Mbak Saroh yang tertidur di Koridor.
Menurut Mbak Saroh kondisi ayahnya sangat jritis, semalam Dokter memindahkan nya ke Ruang ICU. Terlihat Melati semakin terpuruk, dia berurai air mata pilu. Aldino mendekapnya dalam pelukan nya, nampak Rafael membulatkan kedua matanya, karena melihat pemandangan yang merusak pandangan nya.
__ADS_1
Rafael meremas kedua tangan nya seraya berjalan pergi dari sana. Dia memukul tembok hingga tangannya terluka. Seorang perawat berlari menghampiri nya, dan memberitahu jika bayinya sudah lahir. Seketika Rafael melupakan amarahnya, dia berlari ke ruang operasi dan bertemu dengan Dokter.
"Selamat ya pak, bayi nya sudah lahir dengan selamat, tapi ada sedikit gangguan pada tubuhnya. Sehingga kami harus menempatkan nya di inkubator, sedangkan kondisi istri bapak masih belum sadarkan diri pasca operasi. Jujur saja kondisinya sangat tidak baik saat ini, kalau begitu saya permisi dulu." Jelas Dokter itu sebelum akhirnya pergi.
Mawar segera di pindahkan ke ruangan intensif, seorang perawat membawa seorang bayi perempuan yang berara di dalam inkubator. Perawat mendorong brangkar Mawar melewati Melati yang sedang berdiri di depan pintu ICU, dia melihat Mawar yang terbaring tak sadarkan diri.
"Mawar! Mawar kau kenapa... Dimana bayi mu!." Seru Melati terkejut melihat keadaan Mawar yang tak sadarkan diri.
"Kau tau darimana Al? Dari tadi kita disini, dan tidak ada yang mengatakan apa-apa." Melati berlinang air mata.
__ADS_1
"Lihatlah Rafael bersama ibumu sedang melihat bayi Mawar di ruangan itu." Jelas Aldino pada Melati.
Melati menyusul mereka untuk melihat bayi itu, menurut ibu nya ada yang tidak beres dengan bayi itu. Karena setelah kelahiran nya, dia tidak mendengar suara tangisannya.
"Jangan-jangan bayi itu... Huhuhu bagaimana ini Mel, kasihan bayi itu. Ibunya sedang berjuang di antara hidup dan mati, sedangkan bayi tidak berdosa itu...." Ucap Ibu nya tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Bayi itu tidak akan kenapa-kenapa bu, percayalah. Setelah dia sehat sepenuhnya, ibu akan melihat jika bayi itu normal seperti bayi lainnya."
Rafael berada disamping ibu mertua nya memandang Aldino dengan penuh kebencian, lalu Tuan Satria bersama Nyonya Silvia datang. Nampak Nyonya Silvia menatap Melati dengan penuh kebencian, tapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dia melihat perut Melati membesar, dan ada Aldino disamping nya. Perempuan itu bertanya-tanya didalam hatinya, bayi siapakah yang sedang dikandung Melati. Tapi dia tidak berani bertanya pada siapapun, dia hanya menemui Rafael dan menanyakan kondisi Mawar beserta bayi nya.
__ADS_1
Rafael menjelaskan hal yang sama pada Mama dan Papanya, mereka hanya terdiam dengan mengerutkan keningnya. Hawatir jika bayi yang dilahirkan Mawar ternyata cacat, tapi Rafael meyakinkan kedua orang tuanya. Jika Dokter belum mengatakan kejelasan tentang kondisi bayi nya.
...Bersambung....