
Rafael dalam keadaan kritis dan tak sadarkan diri. Dokter melakukan operasi besar di bagian kepala Rafael yang terluka cukup parah. Tuan Satria sudah memerintahkan semua anak buahnya untuk mencari Mawar, dan juga penjahat yang bekerja sama dengannya. Polisi datang dan memberitahu pada Tuan Satria, jika beberapa penculik sudah ditangkap dan berada di kantor polisi.
"Tapi yang tertangkap hanyalah anak buahnya saja Tuan. Kami mengira jika mereka mempunyai bos besar yang bersembunyi. Diduga menantu andalah yang mengenal baik pelaku yang belum diketahui identitasnya itu. Bahkan kecelakaan hari ini juga karena menantu anda sendiri." Ucap petugas berseragam dengan tegas.
"Saya sudah mengerahkan semua anak buah saya. Kasus ini harus cepat selesai, harus ada keadilan untuk cucu saya yang telah tiada. Tolong usut kasus ini dengan serius." Pinta Tuan Satria dengan wajah sendu.
Dokter baru saja selesai melakukan operasi, ia berjalan gontai menghampiri Tuan Satria. Dokter itu terlihat lelah dengan wajah yang berpeluh.
"Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kondisinya benar-benar parah. Pasien mengalami cedera otak, karena benturan keras dibagian kepalanya. Meski kami sudah berusaha keras, hanya Tuhan saja yang bisa menentukan segalanya. Kita tak bisa mengetahui apapun sebelum pasien sadar dari koma nya. Tapi anda harus bersyukur, karena semangat hidup putra anda sangat kuat. Di kasus seperti ini biasanya pasien akan mengalami penurunan metabolisme dalam tubuh. Tapi sepertinya semangat hidupnya lah yang membuat pasien masih bertahan hingga detik ini. Kita sama-sama berdoa saja, semoga pasien bisa melewati masa krisisnya." Jelas Dokter Spesialis itu dengan mengerutkan keningnya.
Tuan Satria menghela nafas panjang, ia mendongakan kepala nya ke atas seraya mengucapkan syukur pada yang Maha Kuasa. Lalu ia berjalan ke arah pintu ruang operasi. Nampak perawat sedang memindahkan Rafael ke ruang intensif, supaya mereka dapat leluasa memantau kondisi Rafael.
__ADS_1
Zahra menangis tersedu-sedu di depan nisan Aprilio Putra Hadinata. Nama yang Rafael berikan untuk almarhum putra nya. Nyonya Silvia tak kalah hancurnya melihat cucunya dikuburkan di depan matanya sendiri. Melati yang mendapatkan amanah dari Tuan Satria, berusaha menghibur keduanya. Dan mengajak mereka kembali ke rumah. Zahra meratapi nasibnya yang buruk, ketika ia hamil Aprilio, Zahra benar-benar tak menginginkan nya. Tapi ketika Tuhan mengambil bayi itu kembali, hanya Zahra lah yang paling hancur saat itu. Ia hamil dan mengandung bayi itu selama hampir enam bulan, dan ketika ia berusaha ikhlas menerima keadaan. ia harus merelakan kepergian bayi itu untuk selamanya.
"Kau tak sendirian Zahra, Rafael juga sangat kehilangan Aprilio, kalian harus bersama menghadapi duka ini." Ucap Nyonya Silvia dengan memandang ke segala arah, ia sedang mencari keberadaan anak lelaki nya.
Karena larut dalam kesedihan, keduanya tak menyadari jika Rafael tak ada bersama mereka. Nyonya Silvia berteriak memanggil nama Rafael berulang kali, tapi tak ada yang menjawab panggilannya.
"Melati... Aldino... Dimana putraku yang malang itu? Kalian pasti tau dimana dia saat ini! Cepat beritahu aku, saat ini putraku itu pasti sangat membutuhkan mama nya huhuhu." Nyonya Silvia berderai air mata dengan mata yang sembap.
"Mama... Zahra... Kalian tenang dulu ya, mas Rafael baik-baik saja. Kita pulang ke rumah dulu ya, papa meminta kami membawa kalian pulang setelah pemakaman selesai." Jelas Melati dengan menahan air matanya.
Nyonya Silvia menyadari ada yang aneh dari sikap mantan menantunya. Dia menatap wajah Melati dengan serius. Kedua matanya membulat sempurna, seakan meminta penjelasan dari bungkamnya Melati.
__ADS_1
"Mama tau ada yang kalian sembunyikan! Cepat katakan dimana Rafael sebenarnya? Karena berduka kami tak menyadari jika Rafael tak terlihat semenjak di rumah duka tadi, pasti sesuatu sudah terjadi kan?." Tanya Nyonya Silvia dengan mata berkaca-kaca.
Melati hanya menundukan wajahnya dengan berlinang air mata. Aldino mendekapnya dalam pelukan nya. Dengan terpaksa Aldino mengatakan sesuatu yang mengejutkan kedua wanita itu.
"Maaf mama Silvia, kami tak bermaksud menyembunyikan apapun darimu ataupun Zahra. Papa Satria meminta kami untuk tak memberitahu apapun, karena ia sendiri yang akan menjelaskan nya." Ucap Aldino dengan menghembuskan nafas panjang.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel yang berbunyi. Nyonya Silvia mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Tertulis panggilan telepon dari suaminya. Dengan tangan yang bergetar, ia menerima panggilan telepon itu. Mendadak tubuhnya lemas, setelah menjawab telepon itu.
Bruugh...
Nyonya Silvia pingsan dengan air mata yang membasahi wajahnya. Sontak saja Aldino membawanya ke mobil, lalu Melati memapah Zahra yang terlihat lemas karena dari kemarin ia tak memakan apapun. Bahkan Zahra belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa mama mertuanya jatuh pingsan.
__ADS_1
...Bersambung....