KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
OPERASI BESAR


__ADS_3

Dengan berat hati dan terpaksa, Rafael menandatangani surat persetujuan pengangkatan rahim. Dan pendonoran ginjal akan dilakukan secara bersamaan, supaya kondisinya Mawar dapat pulih kembali. Rafael memberi kabar pada ibu mertua nya, yang saat itu sedang mengantarkan Melati ke Bandara.


Apa Mawar... Rahimnya akan di angkat! Bagaimana dengan masa depan nya setelah ini, ya Tuhan dosa apa yang telah ku lakukan sehingga anakku mengalami semua ini, batinnya dengan memegangi ponselnya.


Melati mengerutkan keningnya, menatap sang ibu dengan penuh tanya. Dia berjalan memeluk sang ibu seraya bertanya apa yang sedang menggangu pikiran nya. Karena tidak ingin membuat Melati cemas memikirkan apa yang akan terjadi, ibu nya tidak mengatakan yang sebenarnya.


Aku tidak boleh memberitahu Melati, karena dia akan bertambah cemas. Kasihan bayi yang ada didalam kandungan nya, aku tidak ingin cucu ku yang satu ini kenapa-kenapa, batin nya dengan menggelengkan kepalanya.


"Ibu hanya sedih akan berpisah denganmu Mel, kau akan sering-sering mengunjungi ibu kan?."

__ADS_1


"Tentu saja bu, Melati kan punya butik yang harus disini. Dan Melati akan mengembangkan butik itu di Semarang. Kelak Melati ingin memberikan butik yang ada disini untuk ibu kelola sepenuhnya. Jadi ibu tidak perlu mengharapkan uang dari Mawar. Ibu bisa gunakan uang yang ada di butik, untuk menutupi pengeluaran ibu." Jelas Melati dengan menyunggingkan senyumnya.


Aldino mengecup punggung tangan ibu Melati, dia berpamitan dan meminta ijin untuk membahagiakan anak perempuan itu.


"Ibu jaga kesehatan disini, karena ibu harus menghadiri pernikahan kami setelah ini. Mohon doa restu nya supaya saya dapat memenuhi tanggung jawab pada Melati dan juga bayi nya."


"Tentu saja Nak, Ibu akan selalu mendoakan kalian semua. Pergilah jangan lupa memberi kabar kalau sampai tujuan."


"Al... Aku pergi sebelum menggendong keponakan ku. Dia tumbuh tidak sempurna Al, aku hawatir jika Mawar dan juga mama Silvia tidak bisa menerima kehadiran nya. Kasihan bayi tak berdosa itu!." Kedua mata Melati berkaca-kaca, membayangkan masa depan bayi itu.

__ADS_1


"Jika mereka tidak bisa menerima nya, masih ada orang-orang yang akan menerima dan menyayangi nya. Apa kau lupa dengan papa dan kakeknya yang akan selalu menjaga bayi itu. Yang terpenting saat ini kau harus fokus dengan kebahagiaan dan masa depanmu sendiri. Jangan pikirkan orang-orang yang tidak perduli padamu. Kau berhak bahagia Mel, mulai sekarang aku akan membantu mu mengubah segalanya." Aldino menggenggam tangan Melati seraya mengecup punggung tangan nya.


Suasana di Rumah Sakit sangat tegang, karena Mawar harus menjalani dua operasi sekaligus. Sang ibu yang baru saja tiba langsung menanyakan keadaan Mawar pada Rafael.


"Bagaimana Mawar Nak? Apakah dia baik-baik saja? Tanya ibu nya berurai air mata.


"Dokter masih berada di Ruang Operasi bu, kita harus menunggu selama tiga jam. Entah apa yang akan terjadi, karena Dokter melakukan dua operasi sekaligus. Karena rahimnya yang infeksi harus segera di angkat, sedangkan ginjalnya juga semakin rusak setiap waktunya. Untuk menghindari hal yang buruk, Dokter memutuskan operasi dilakukan secara bersamaan."


"Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan Rafa? Pengangkatan rahim? Bagi seorang perempuan rahim adalah segalanya, ketika Mawar tidak memiliki nya lagi apa kau masih akan menerima nya?." Tanya ibu mertua nya sesegukan.

__ADS_1


"Sudahlah bu, jangan membahas apapun dulu. Kita berdoa saja untuk kesembuhan Mawar, karena ada seorang bayi yang membutuhkan nya saat ini. Dan ibu sudah tau segalanya, jangan membahas hal ini dengan Rafa! Tolong ya bu." Pinta Rafael dengan menghembuskan nafasnya panjang.


...Bersambung. ...


__ADS_2