
Tuan Satria terkulai lemas di atas tempat tidurnya, Dokter keluarga datang untuk memeriksanya, setelah diperiksa, Dokter mengatakan jika Tuan Satria mengalami serangan jantung ringan. "Untung saja ini masih dalam kategori ringan, jika tidak, Tuan Satria harus dirawat insentif di Rumah Sakit, saya sudah menyuntikkan obat, dan ini ada beberapa obat yang harus diberikan." Jelas Dokter pribadi keluarga Hadinata.
Lalu Dokter mengajak semua orang untuk keluar dari kamar, Tuan Satria hanya ditemani istrinya yang baru saja kembali, setelah mendapatkan kabar dari Rafael. "Tolong jangan membahas masalah apapun didepannya, penyakit jantungnya bisa kambuh kapan saja, mungkin lain waktu bisa lebih parah dari sekarang, dia tidak boleh mendengar kabar buruk, yang dapat menggoncangkan hatinya, itu saja yang dapat saya sampaikan, permisi." Ucap Dokter itu seraya berpamitan.
Nampak Rafael mengusap rambutnya kasar, dia semakin frustasi dengan kondisi Papanya yang tiba-tiba sakit. Melati menangis di sudut ruangan, dia merasa bersalah, melihat kondisi mertuanya saat itu.
"Ini semua salahku, kenapa aku mengatakan semua itu pada Papa, aku memang bodoh huhuhu, seandainya aku tidak berkata ingin berpisah dari mas Rafael, pasti Papa akan baik-baik saja." Gumam Melati pada dirinya sendiri.
Seorang perempuan berdiri dibelakang punggungnya, dia berjalan menghampiri Melati. Plaak... Sebuah tamparan melayang diwajah Melati, nampak sorot mata tajam dari Nyonya Silvia. "Kau itu memang pembawa sial, kenapa kau harus kembali dalam kehidupan kami, suamiku jadi sakit karena ulahmu, dasar perempuan tidak berguna." Maki Nyonya Silvia dengan membulatkan kedua matanya.
Mendengar keributan itu Rafael bergegas kesana, dilihatnya Melati yang sudah menangis dengan memegangi wajahnya yang memerah. "Apa yang Mama lakukan pada Melati? dia sudah sangat menderita, jangan menambah deritanya lagi Ma." Seru Rafael seraya menarik tangan Melati, tapi dia menghempaskan tangan Rafael, dan memilih pergi dari sana.
"Pergilah sejauh mungkin, setelah ini Rafael akan memiliki seorang anak, yang tidak bisa kau berikan padanya."
"Cukup Ma, Mama tidak boleh berkata seperti itu pada istriku, dan anak mana yang Mama bicarakan, apakah Mama tau masalah apa yang telah terjadi, sehingga Papa jatuh sakit seperti itu?."
"Tentu saja karena ucapan Melati, tadi dia sudah mengakui nya sendiri, Mama mendengar semua ucapannya."
__ADS_1
"Jangan salahkan Melati lagi Ma, dia seperti itu karena merasa bersalah saja, telah mengatakan ingin berpisah denganku, dan Papa semakin terkejut setelah mendengarnya, karena sebelum semua itu terjadi, kami sudah mengetahui sebuah kebenaran, jika ternyata Mawar hanya berpura-pura mengandung saja, dia memaksa Dokter untuk mengatakan kebohongan itu, Melati adalah korban yang sesungguhnya, dia memilih mengalah dan pergi, tapi apa hasilnya, dia hanya ditipu oleh saudara kembarnya sendiri." Ucap Rafael dengan menghembuskan nafasnya panjang.
Nyonya Silvia sangat terkejut mendengar penjelasan Rafael, dia memegangi kepalanya yang agak pusing. "Ja jadi kau tidak akan memiliki keturunan Nak, Mama tidak akan menjadi seorang Nenek." Jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
"Bukan seperti itu Ma, mungkin Tuhan belum memberikan kepercayaan padaku, sudahlah jangan perbesar masalah ini, Dokter melarang kita untuk membahas berbagai masalah didepan Papa, jangan sampai dia mendengar semua ucapanmu, Mama tau kan kalau Papa sangat menyayangi Melati, jangan pernah membuatnya semakin sakit dengan sikap buruk Mama pada Melati."
Seorang Pembantu berlari menghampiri mereka, dia mengatakan jika Tuan Satria sudah sadar dan memanggil nama Melati berkali-kali, lalu Rafael mencari keberadaan Melati di seluruh penjuru rumah besar itu, ternyata dia sedang menenangkan diri di tepi kolam renang, matanya sayu, karena air matanya terus mengalir, Rafael menghampirinya dan menyeka air matanya.
"Jangan menangis lagi sayang, semua yang telah terjadi adalah kesalahan ku, lebih baik sekarang kau hentikan air matamu, karena Papa terus memanggil namamu, jangan pernah ucapkan kata perpisahan lagi didepannya, aku mohon." Ucap Rafael dengan wajah sendu.
"Papa tidak apa-apa Nak, bukan karenamu Papa sakit, jangan salahkan dirimu, berjanjilah pada Papa untuk tidak berkata seperti itu lagi, kau satu-satunya perempuan yang pantas mendampingi Rafael, kau yang telah merubahnya menjadi pribadi yang lebih baik, jangan hanya karena kesalah pahaman yang dibuat Mawar, kalian jadi berpisah, semua kebenaran telah terungkap, rumah tangga kalian akan baik-baik saja setelah ini." Jelas Tuan Satria dengan wajah pucat.
Kemudian Nyonya Silvia datang membawakan obat-obatan yang harus diminum suaminya, lalu Tuan Satria meminta istrinya untuk tidak memojokkan menantunya lagi.
"Kau pasti sudah mendengar kebohongan Mawar bukan, sudah terbukti jika Melati adalah menantu yang sangat baik, jangan hanya karena menginginkan seorang cucu, kau bersikap buruk padanya, lihatlah betapa besarnya pengorbanannya demi keluarga kita, dia rela pergi meninggalkan suami yang sangat dicintainya, supaya dia dapat membesarkan calon anaknya, tapi ternyata semua itu hanyalah kebohongan saja."
Nyonya Silvia hanya tertunduk mendengar ucapan suaminya, perempuan itu meminta Tuan Satria untuk meminun obatnya, kemudian Melati bangkit dari duduknya. "Pa, Melati pamit pergi dulu ya besok Melati akan kesini untuk menjenguk Papa."
__ADS_1
"Kau mau kemana Mel, tetaplah tinggal disini bersama Rafael, kita bisa menyelesaikan masalah ini bersama, jangan kau perbesar keretakan dalam rumah tangga kalian." Seru Tuan Rafael yang berusaha bangkit dari tempat tidurnya.
Sontak saja Rafael bergegas menopang tubuh Papanya. "Papa harus istirahat dulu, jangan banyak bergerak Pa." Pinta Rafael dengan wajah cemas.
"Papa akan istirahat dan minum obat dengan teratur jika kalian tinggal disini."
Melati mengerutkan keningnya seraya menganggukan kepalanya, dia menerima permintaan Tuan Satria meski terpaksa. Nyonya Silvia berusaha menenangkan suaminya, untuk tidak ikut campur lagi dengan masalah keluarga anaknya, tapi Tuan Satria justru marah, karena dia merasa jika selama ini istrinya lah yang selalu ikut campur dalam masalah keluarga anak mereka.
"Apa kau tidak sadar dengan ucapanmu itu, kenapa kau sekarang menyalahkan ku." Pekik Tuan Satria dengan membulatkan kedua matanya.
Melati melerai perdebatan itu, dan meminta Papa mertuanya untuk istirahat. "Papa tidur dulu ya, aku dan mas Rafael akan tetap berada disini, sampai Papa benar-benar pulih."
Rafael tersenyum bahagia mendengar keputusan Melati, lalu mereka berdua memutuskan untuk berbicara empat mata. "Kita harus menyelesaikan semua perselisihan ini sayang, Mawar tidak akan bisa memisahkan kita lagi, dia sudah terbukti berbohong, dan tidak ada alasan bagiku untuk mempertahankan hubungan dengannya." Ucap Rafael dengan menggenggam tangan Melati.
"Tapi mas, aku tidak siap melihat Mawar hancur, meski dia ingin menyakiti diriku, tapi dia tetaplah saudara kembarku, dan bagaimana dengan Ayah, aku takut beliau semakin terpuruk setelah mendengar kebohongan besar Mawar." Sahut Melati dengan berlinang air mata.
...Bersambung....
__ADS_1