Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Ungkapan dan Penolakan


__ADS_3

Mario baru saja selesai mandi. Pria itu hari ini memilih pakaian terbaik. Karena Hari ini dia memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya pada Val. Pria itu sudah menyiapkan tempat yang sangat bagus dan mewah untuk keduanya. Rencananya nanti Mario akan mengajak Val makan siang dan melamar gadis itu secara langsung. Ia menatap kotak cincin cantik yang berada di genggamannya. Ia begitu optimis untuk bisa mendapatkan Val.


Di sisi lain seorang gadis cantik baru saja turun dari mobil. Sebelum memulai kegiatannya Ia mengajak semua karyawan untuk sarapan bersama. Duduk melingkar sejajar di bawah tanpa ada yang membedakan kasta mereka. Val sangat senang bisa sarapan nasi uduk. Menu yang baru pertamakali Ia makan. Rasanya gurih dan enak.


"Gimana Non?"


"Enak. Besok besok bikin lagi ya chef."


"Siap Non. Setiap hari kita makannya juga begini. Apalagi sama jengkol. Enak."


"Jengkol yang mana?"


"Itu yang Non tadi nggak mau karena bau."


"Oh. Namanya jengkol."


"Iya."


"Habis makan langsung buka ya. Nanti kalo ada orang kantoran mau sarapan."


"Baik Non." Jawab mereka bersamaan.


Cafe Val baru saja buka. Pelanggan banyak yang sudah datang untuk sarapan disana. Val sekarang berada di dapur untuk memasak pesanan yang terus berdatangan. Tangannya dengan lincah menumis, memanggang dan menata secara bergantian tanpa henti.


"Nona."


"Ya."


"Ada yang mencari Nona. Katanya ingin menyampaikan sesuatu. Dia menunggu di depan."


"Ini dilanjutkan ya. Aku liat dulu."


"Iya Non." Valeri bergegas menemui orang itu.


Mata Valerie menelisik mencari keberadaan orang yang sedang menunggunya. Sosok pria bangkit dari duduk dan menghampiri Val yang tetap berdiri di titik yang sama.

__ADS_1


"Nona." Sapa pria berjas hitam itu menunduk hormat ketika sudah berada di depan Val.


"Ya."


"Saya ingin mengantarkan sesuatu untuk Nona Val." Katanya sambil menyerahkan amplop berwarna merah dengan aroma mawar yang begitu mewah.


"Dari siapa?"


"Nona bisa baca sendiri. Saya permisi." Katanya berpamitan karena si Tuan berpesan untuk tidak berbicara dengan gadisnya terlalu lama.


"Ah Iya. Terimakasih."


Kata Val melihat kepergian pria itu.


"Sudah saya sampaikan Tuan." Kata Seseorang memberi laporan pada Mario.


"Bagaimana ekspresinya?"


"Nona biasa saja. Malah cenderung bingung." Jawabnya jujur.


"Sudah Tuan. Sesuai permintaan. Tidak ada musik romantis dan bunga yang banyak karena menurut investigasi Nona tidak suka hal itu. Tempatnya kami desain dengan mewah dan elegan cocok untuk mengobrol dua orang."


"Baik. Kau boleh pergi."


"Baik Tuan permisi."


"Ya." Jawab Mario singkat.


Val membuka amplop itu saat berada di ruang kerjanya. Aroma bunga mawar semakin menyeruak ketika Ia membuka lipatan kertas di dalamnya. Tulisan latin yang begitu indah memberitahukan ajakan untuk makan siang di sebuah hotel dengan tertanda Mario di bawahnya.


Val merapikan surat itu kembali. Ia menghela nafas. Mau tidak mau Ia harus datang karena tidak enak menolak ajakan teman Papinya. Terlepas dari itu, Ia juga tidak enak karena Mario telah susah payah sampai mengiriminya surat yang ditulis langsung olehnya.


Waktu menunjukkan pukul 12. Selesai sholat dan bersiap Val langsung menuju ke alamat hotel. Ia turun setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit. Val langsung menaiki lift untuk menuju lantai 29 seperti tanggal saat ini.


Entah itu kebetulan atau di rencanakan Val juga tidak terlalu memikirkannya.

__ADS_1


Val memasuki ruangan 299, disana Mario sudah duduk menunggu. Pria itu tersenyum melihat kedatangan gadisnya yang semakin cantik dan memikat dari hari ke hari.


"Val sudah datang silahkan duduk." Katanya menarik kursi mempersilahkan Valerie untuk duduk di depannya.


"Makasih Om."


"Sama sama. Kita makan dulu ya. Ada sesuatu yang mau Om sampaikan."


"Iya Om."


Valerie tanpa berfikir macam macam langsung makan bersama Mario. Keduanya saling mengobrol tentang apa yang sudah dilakukan hari ini.


Keduanya telah selesai makan.


"Om mau katakan sesuatu Val." ucap Mario serius.


"Apa Om?"


"Val. Om suka sama kamu. Om ingin melamar kamu."


"Om jangan bercanda deh." Val tidak percaya.


"Om serius. Om tidak bercanda. Om suka sama kamu sejak lama. Om ingin kamu jadi istri Om. Om cinta sama kamu Val. Bahkan Om sudah siapkan cincin untuk kamu." Mario menaruh kotak cincin di atas meja.


"Maaf Om. Val sudah menganggap Om seperti keluarga sendiri. Val juga belum mau menikah."


"Apa ini gara gara Jeje itu?"


"Bukan Om. Hubungan kami seperti adik kakak. Val hanya ingin fokus ke restoran dan cafe. Val belum siap menikah. Semoga Om segera bertemu jodohnya. Jodoh yang baik, jodoh yang selalu menemani Om sampai nanti. Terimakasih atas makan siangnya Om. Permisi."


Mario tidak dapat berucap lagi. Ini untuk kesekian kalinya Val menolaknya secara langsung atau tidak langsung. Ia hanya bisa memandang punggung Val yang terus menjauh sampai hilang di balik pintu. Pria itu marah, sangat marah. Ia membalikkan meja dan membuang semua barang hingga pecahan kaca ada dimana mana. Tangannya juga terluka di beberapa bagian hingga darah segar mengucur menetes ke lantai.


"Val...." Teriaknya frustasi.


"Kau pikir aku akan menyerah? Tidak semudah itu. Aku sudah bersumpah akan mengejarmu dan mendapatkanmu. Mario tidak pernah melanggar sumpahnya. Mario harus mendapatkan apa yang Ia inginkan." Katanya penuh penekanan. Pria itu meraih botol wine dan meneguknya tanpa gelas mewah yang biasa Ia gunakan.

__ADS_1


Mario pulang dalam keadaan yang menghawatirkan. Semuanya tak berani bertanya jika kondisi Tuannya sudah seperti itu. Mereka masih sayang nyawa. Pria itu melangkah gontai dengan pandangan kosong memasuki kamarnya. Penolakan yang Ia terima terus terngiang ngiang memenuhi otaknya.


__ADS_2