Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Fotografer Cantik (Revisi)


__ADS_3

Sosok laki laki tengah berlutut di antara orang orang yang ada di sana. Ia terus memohon ampun sampai Val dan Maminya merasa kasihan. Beberapa pukulan mendarat di wajah khas bulenya.


"Baiklah aku akan katakan." Pria itu buka suara membuat Laura cemas.


"Bayi yang dikandung Laura itu anakku."


"Kau... dia berbohong." kata Laura mulai panik.


"Aku tidak berbohong. Laura sebenarnya hamil anakku. Kita melakukannya saat Tuan Mario mabuk saat itu. Tuan Mario tidak melakukan apapun. Dia di fitnah."


"Laura." Bentak Mario membuat wanita itu mau tidak mau mengaku karena posisinya sudah tersudut. Rekaman CCTV yang memperlihatkan Laura masuk dengan pria itu juga sudah di temukan. Jadi tidak ada celah lagi bagi wanita itu untuk mengelak.


"Mario aku minta maaf." Katanya memeluk kaki pria tak berbelas kasihan itu.


"Jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Enyahlah."


"Mario. Aku sudah mengejarmu bertahun tahun. Kenapa kau tidak pernah mencintaiku?"


"Tidak ada yang menyuruhmu untuk mengejarku. Sudah aku peringatkan sedari awal jika aku hanya mencintai istriku."


Mario bergegas menyuruh pengawal untuk mengusir mereka berdua.


"Jangan biarkan wanita sialan itu datang kemari. Bersihkan juga bekasnya mulai dari lantai dan tempat duduk yang Ia gunakan tadi." Perintah Mario pada para pelayannya.


"Baik Tuan."


Hanya tersisa Val dan Mario di sana. Kedua orang tua Val memberikan mereka waktu untuk berbicara dan menyelesaikan masalah.


"By." Panggil Mario sambil mengubah posisi duduknya untuk lebih dekat dengan sang Istri.


"Kamu percaya kan?"


"Hm"


Mario berlutut di depan istrinya.


"Mau ngapain?"


"Kamu mau lagi kan tinggal di sini sama aku? Kamu masih istri sah aku."


"Surat cerai itu?"


"Aku nggak pernah tanda tangani. Aku nggak mau pisah sama kamu sampai kapanpun. Jadi kamu mau kan tinggal disini lagi?"


"Hm."


"Terimakasih." Mario memeluk istrinya dengan erat.


Mereka memulai lembaran baru dalam hidup. Mario membiarkan semua yang Val lakukan asalkan Val tidak meninggalkannya. Wanita itu sekarang tengah sibuk dengan kamera nya. Ia mengabaikan Mario yang bergelayut manja di lengannya.


"Makan siangnya udah aku siapin. Kamu makan gih, Aku mau pergi."


"Pergi kemana?"

__ADS_1


"Ada pemotretan." Val memasukkan barang barangnya ke dalam tas.


"Kamu jadi fotografer sekarang?"


"Iya."


"Kamu itu enterpreuner, chef, fotografer atau CEO sih?"


"Semuanya. Dah aku berangkat dulu. Nanti terlambat. Nggak enak kalo semua kru nunggu."


"Aku ikut."


"Mau ngapain? Jangan kaya anak kecil. Di rumah aja. Awas aja kalo sampai aku tau kamu ngikutin aku. Aku nggak mau pulang lagi kesini."


"Baiklah." Kata Mario menurut. Ia tak mau ditinggalkan oleh istrinya lagi.


Val sangat lelah dan kelaparan. Pemotretan dilakukan di luar ruangan dan cuaca sangat panas hari ini. Pukul dua siang Val sedang makan bersama kru lainnya.


"Non kok mau kerja panas panasan begini. Udah kaya juga." kata salah satu kru kepada Fotografer cantik itu.


"Ini hobby. Jangan panggil Non. Panggil Val aja. Disini aku juga paling muda."


"Baiklah." Kata mereka hanya bisa menurut.


"Kamu nggak risih makan bareng di bawah begini sama kita. Secara anak konglomerat pasti makannya di atas meja dengan peralatan dan makanan mewah."


"Kata siapa? aku sering makan begini. Apalagi kalo di cafe. Sama semuanya makannya juga duduk di bawah pake tangan. Apalagi makan nasi uduk. Beh... enak banget."


Mereka tersenyum dengan kesederhanaan Val. Meskipun kaya dan dari keluarga paling terhormat Val tidak jijik makan sederhana seperti ini. Malah terkesan cuek dan sangat menikmati.


"Astaga. Bikin kaget aja."


"Kamu baru pulang jam segini."


"Agak molor dikit. Mancet."


"Makan yuk. Aku udah siapin."


"Kamu sendiri yang siapin?"


"Iya. Meskipun yang masak koki, tapi yang siapin aku."


"Kamu belum makan?"


"Belum. Aku nungguin kamu."


"Aku udah makan pizza tadi. Kamu makan aja."


"Minta temenin."


"Yaudah." Kata Val kasihan dengan Mario. Meskipun Ia sangat lelah namun Ia akan meluangkan waktunya untuk pria yang sudah menunggunya itu.


"Kenapa nggak makan?" Tanya Val melihat Mario diam mengamati makanan di depannya.

__ADS_1


"Minta suapi."


"Haish...Baiklah." Val mengambil sendok dan mulai menyuapi suaminya.


"Kamu nggak tidur?"


"Aku nggak bisa tidur kalo nggak ada kamu. Aku ketergantungan obat."


"Tangan kamu luka?"


"Iya."


"Setelah aku bersih bersih aku obati."


"Terimakasih."


"Hm."


Selesai mandi dan berganti baju Val langsung mengobati tangan suaminya. Ia melakukannya perlahan agar tidak sakit. Tangan Mario penuh luka kecil kecil. Val menduga itu adalah luka dari serpihan kaca.


"Lain kali jangan bodoh lagi."


"Maaf."


"Bosen aku denger maaf kamu."


"Dah selesai. Kamu tidur dulu."


"Ayo tidur sama sama. Aku tidak akan meminta. Aku tau kamu lelah."


"Pinter juga. Kamu tidur duluan. Aku masih mau cek hasil foto tadi."


"Di ranjang saja. Temani aku."


"Ok."


Val sibuk memeriksa hasil memotretnya tadi di laptop sementara Mario berbaring sambil memeluk pinggang istrinya.


"Modelnya cowok?"


"Iya. Orang China."


"Menurut kamu ganteng?"


"B aja."


"Orang ganteng kaya apa sih menurut kamu?"


"Kaya Papi aku. Dia paling ganteng se-dunia. Udah kalo aku minta apa apa di turuti, ngasih kebebasan aku secara penuh. Pokoknya The best."


"Kalo aku ganteng?"


Val mengamati wajah suaminya kemudian fokus ke laptopnya lagi.

__ADS_1


"B aja. Kan aku sudah bilang. Di dunia ini yang ganteng cuman Papiku." kata Val membuat Mario cemberut.


Tak terasa sudah pukul 12 malam. Mario sudah tertidur pulas sambil memeluk pinggang istrinya. Val perlahan menutup laptopnya. Ia membenarkan posisi sang suami agar nyaman. Val menyelimuti Mario dan mengecup kening pria itu singkat sebelum ikut tidur. Mario tersenyum atas perlakuan istrinya. Saat Val menaruh laptop di nakas tadi sebenarnya Ia terbangun tapi pura pura masih tertidur. Ia hanya ingin tau apa yang akan dilakukan istrinya. Ternyata sangat manis.


__ADS_2