
Hari demi hari Val selalu menghindar dari Mario. Meskipun pria itu sering datang kerumahnya atau ke restoran, sebisa mungkin Val akan mencari kesibukan agar tidak bertemu. Mario mulai gencar meneror mulai dari ratusan pesan dan panggilan setiap harinya. Hingga hadiah hadiah yang terus berdatangan. Val tentunya merasa risih atas kenekatan pria itu. Padahal Val sudah menolak berkali kali secara halus. Namun Mario tak menyerah.
"Om Mario." Kata Val terkejut karena Mario menerobos ruang kerjanya.
Mario duduk di sofa tepat di samping Val.
"Jangan kaget begitu."
"Om ada perlu apa?"
"Ingin bertemu dengan calon istri."
"Om. Aku bukan calon istri Om. Sudahlah Om. Om pasti akan mendapatkan yang jauh lebih baik dari Val. Untuk itu Om jangan seperti ini. Mari akhiri disini. Kita kembali lagi seperti dulu."
"Aku tidak mau. Aku tidak akan menyerah." Kata Mario penuh penekanan.
"Terserah Om." Val bangkit dari duduk.
Pria itu tak tinggal diam. Ia menarik pergelangan tangan Val hingga gadis itu jatuh ke dalam pangkuannya.
"Apa yang Om lakukan?" Kata Val saat Mario memeluknya dengan erat.
"Memelukmu. Apa lagi?"
"Lepaskan Om."
"Tidak. Sebelum kita pergi berdua."
"Aku tidak mau. Aku banyak kerjaan."
"Oh ayolah sayang. Jangan menghindar terus. Karna itu percuma saja. Aku tidak akan berhenti mengejarmu." Mario mendorong Val hingga terlentang di sofa. Ia menindih Val sambil tersenyum nakal.
"Jika tidak mau. Jangan salahkan aku bertindak nekat." Mario mulai melepas kancing kemejanya membuat Val ketakutan.
"Om jahat." Val menangis dalam diam.
"Om tidak jahat. Om hanya mencintaimu."
"Jangan lakukan ini. Mari kita pergi." Putusnya.
"Baiklah sayang." Mario tersenyum sambil mencium kening Val.
Dalam mobil Val hanya diam sedangkan. Sedangkan Pria itu fokus menyetir sambil sesekali memperhatikan gadis yang ada di sampingnya.
"Kita mau kemana?" Tanya Val memandang ke luar jendela.
"Ke mansion."
"Mau apa?"
"Temani aku saja."
__ADS_1
"Nanti Mami mencari."
"Aku sudah izin. Kamu tenang saja." Kata Mario mengusap kepala Val dengan lembut.
Sekitar 15 menit mereka telah sampai di mansion Mario. Semua menunduk menyambut kedatangan keduanya. Val hanya tersenyum dan terpaksa mengikuti langkah Mario karena pria itu menarik tangannya. Mario membawa Val ke kamarnya dengan paksa dan mengunci pintu agar Val tidak kabur.
"Mau apa? Kenapa Om membawaku kesini?
"Temani aku tidur."
"Om jangan sembarangan. Om pikir aku perempuan seperti apa?"
"Oh ayolah."
"Aku akan sangat membenci Om jika Om melakukan hal yang tidak masuk akal." Kata Val terus mundur karena Mario berjalan maju ke arahnya.
"Baiklah. Aku akan mandi dulu. Mau ikut?" Kata Mario memejamkan mata sambil mengendus aroma tubuh Val yang wangi.
"Tidak." Jawabnya cepat langsung menjauh dari Pria itu.
Mario keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap.
"Aku mau ke kamar mandi."
"Mau apa?"
"Ambil wudhu. Aku mau sholat."
"Baiklah. Aku tunggu disini."
"Dimana tempat sholat?"
"Tidak ada. Tunggu sebentar." Mario dengan cepat menyiapkan karpet untuk dipakai Val sebagai alas sholat.
Mario memperhatikan Val yang sedang sholat dengan khusyuk. Gadis itu begitu cantik. Auranya juga berbeda dengan yang lain. Mario tak pernah menjumpai gadis seperti Val yang cantik luar dalam.
Dua insan tengah duduk bersama di bangku taman sambil menikmati teh. Pria itu tak berhenti menatap wajah Val yang begitu cantik.
"Om jangan menatapku seperti itu. Aku risih." Katanya sambil memandang ke arah depan.
"Kamu kalo marah gini makin cantik." Entah belajar darimana pria kaku itu mulai pintar menggoda.
"Antar aku pulang Om. Aku mau istirahat."
"Istirahat disini saja. Ini juga akan menjadi tempat tinggal kamu nantinya."
"Aku mau pulang Om."
"Nanti dulu. Aku masih kangen."
"Baiklah aku pulang sendiri."
__ADS_1
"Ok. Jika kau beranjak. Aku akan lakukan disini. Di tempat terbuka." Ancam Mario sambil menindih tubuh Val.
"Berhentilah bersikap seperti ini Om. Aku tidak nyaman. Om membuatku takut."
"Baiklah. Aku tidak suka di tentang. Ingat itu." Mario bangkit kemudian berlutut di depan Val.
"Beri Om kesempatan."
Val menghela nafasnya atas apa yang Ia dengar barusan.
"Kita sudah bahas ini sebelumnya Om. Jangan buat waktu Om sia sia karena aku. Kita memang tidak bisa bersama. Om harus mengerti itu. Kita bisa jadi keluarga."
"Aku ingin lebih dari itu Val. Aku maunya jadi suami kamu. Laki laki yang mendampingi kamu dan hidup bersama kamu. Aku cinta sama kamu."
"Sekali lagi Val minta maaf Om. Val tidak bisa."
"Aku akan merubah sikapku yang kamu tidak suka. Aku akan berikan apapun yang kamu inginkan asal kamu mau jadi istri Aku."
"Bukan masalah Itu Om. Hati Val tidak bisa dibohongi. Om mengerti kan?"
"Terserah kamu. Suka atau tidak aku akan terus mengejarmu. Ini pertama kalinya aku jatuh cinta dan aku tidak akan menyerah."
Mario mengantar Val pulang.
"Vale." Jeje langsung memeluk Val ketika melihat kedatangan gadis itu. Mario yang mendidih langsung berpamitan pulang setelah beberapa saat mengobrol dengan kedua orang tua Val.
"Kamu ada masalah Vale?"
Val tiba tiba memeluk Jeje menyatakan bahwa dia tidak sedang baik baik saja.
"Coba cerita. Kakak akan dengar."
"Ternyata yang kakak curigai benar. Om Mario memang menyukai Val. Dia memaksa Val untuk mau jadi istrinya. Dia juga meneror Val setiap hari."
"Sudah berapa lama?"
"Sehari setelah kakak bilang waktu itu."
"Tadi kamu sama dia kemana?"
"Ke Mansionnya. Jika Val tidak ikut Val akan dilecehkan."
"Kita harus ngomong sama Papi."
"Jangan kak. Val mau pindah saja. Val mau hindari dia."
"Kemana?"
"Terserah. Yang penting Val tidak bertemu dengannya."
"Coba nanti kakak pikirkan."
__ADS_1
"Makasih Kak."
"Sama sama Vale." Jeje memeluk Val erat.