
Val membangunkan suaminya yang masih tertidur pulas. Val sudah menyiapkan makanan untuk sahur. Tugasnya sekarang adalah untuk membangunkan suami dan anak anaknya.
"Bangun Dad. Kamu kok susah di bangunin sih."
"Cium dulu By."
Val mengecup pipi suaminya.
"Dah. Aku mau bangunin anak anak. Awas aja kamu kalo tidur lagi." Kata Val langsung keluar menuju kamar anak anaknya.
"Bangun sayang. Kita sahur. Jangan malas ya. Nanti keburu imsak lo." Val mengecup kening di kembar bergantian.
"Iya Mom."
Ia kemudian menuju kamar Van. Gadis kecilnya itu juga masih tertidur dengan tenang.
"Bangun sahur sayang. Katanya Van mau puasa."
"Iya Mom."
"Cuci muka dulu biar nggak ngantuk."
"Iya Mom."
Val mengantarkan Van untuk cuci muka di kamar mandi.
"Mom nanti beli kurma ya." Kata Ved yang sedang asyik makan kurma.
"Iya." Jawab Val sambil menyuapi anak gadisnya.
"Makan nasi juga biar kenyang."
"Iya Mom."
"Van makan sendiri dong. Mom kan juga mau makan."
"Ga papa."
"Kamu nanti belanjanya aku antar By."
"Iya."
"Kita bikin kuenya kapan Mom?"
"Lebaran masih lama. Tapi nanti beli bahannya sekalian juga nggak papa."
"Mom. Nanti bikin takjil kaya yang di jual itu ya."
"Yang mana?"
"Yang enak enak pokoknya. Veer nggak tau namanya. Ada juga yang dibungkus daun pisang itu lo. Yang pernah Oma buatkan."
"oh. Iya. Nanti sekalian mampir ke pasar buat beli daun pisang."
"Buat apa sih By. Emang di swalayan nggak ada apa?"
"Nggak tau Dad. Kalo nggak ada kan kita ke pasar."
"Kotor ah."
"Enggak."
"Iya. Kamu aja yang nggak risih belanja di pasar."
"Seru tau Dad. Penjualnya ramah ramah." Kata Val.
Siang hari setelah sholat dhuhur Val mengajak anak anaknya untuk berbelanja.
"Mau dimasakin apa buat buka nanti?"
"Ayam goreng Mom."
__ADS_1
"Sama sambal terasi."
"Ayam rica rica."
"Terus?"
"Aku mau sayur bayam By."
"Udah itu aja?" Kata Val sambil memasukkan belanjaannya ke troli.
"Van mau bakwan jagung Mom."
"Ok."
Mereka beralih ke bahan bahan untuk membuat kue.
"Itu daun pisang kan Mom?"
"Iya. Ambil, nanti kita buat kaya yang punya Oma itu."
"Sama daun pandannya sayang."
"Ini Mom."
"Terimakasih Sayang."
"Sama sama Mom."
"Ada lagi yang kurang?"
"Pisang."
"Iya. Ved ambilkan."
Sampai di rumah Val langsung memasak di dapur dibantu si kembar dan suaminya karena Van sudah tidur semenjak dalam perjalanan tadi.
"Aku ngapain By?"
"Ok."
"Ini sudah dicampur semua terus diapain Mom?"
"Ayamnya masukin terus di tutup biar bumbunya meresap. Dimarinasi dulu."
"Siap Mom."
Mario melihat istrinya sangat sibuk mengatasi semuanya. Val sudah terbiasa jadi tidak merasa terbebani sama sekali. Namun malah Mario yang tidak tega.
Hidangan sudah tersaji di atas tikar. Val ingin mengajak semuanya untuk makan di bawah. Kini semua pekerja di rumahnya sudah kembali ke kampung halaman dan masing masing karena suatu sebab. Val sudah memberi mereka pesangon dengan jumlah besar atas rasa terimakasih karena sudah mengabdi disini dan tahan dengan tingkah bar bar suaminya selama bertahun tahun. Hanya ada tersisa keluarga inti. Untuk melindungi keluarganya, Mario menggunakan sistem keamanan super canggih. Jadi Ia merasa tenang meskipun tidak ada security di rumah. Untuk masalah bersih bersih saja Mario akan menyuruh orang. Untuk masak baru istrinya yang menghendle. Karena anak anak dan juga Mario sendiri pilih pilih soal makanan.
Kini Van mau makan sendiri giliran sang Daddy yang minta di suapi.
"Ayamnya enak. Sambelnya juga enak." Kata Mario di sela makannya.
"Dulu aja nggak doyan."
"Dulu kan belum tau rasanya By."
"Makannya dicoba."
"Sayang kok nggak makan nasi?"
"Makan kue basah buatan Mommy aja kita kekenyangan."
"Van sudah habis Mom."
"Pinter."
"Van mau pisang coklat."
"Minta sama kakak. Sayang tolong ambilkan adiknya. Tangan Mommy kotor."
__ADS_1
"Ok Mom."
"Ini. A....Mulutnya dibuka." Veer menyuapi adiknya.
"Enak kan?"
"Enak."
"Soalnya kakak tadi yang potong pisangnya."
"Heh. Apa hubungannya?"
"Ada hubungannya Dad. Bentuk itu mempengaruhi rasa."
"Bisa aja." Kalian kalo udah, siap siap. Kita tarawih.
"Dady aja belum selesai."
"Sesuap lagi selesai. Kalian duluan."
"Iya."
"Mom. Kita boleh main nggak?"
"Dimana?"
"Di taman kompleks. Sama anak anak juga."
"Hati hati tapi. Jangan nakal dan jangan jauh jauh."
"Makasih Mom." Keduanya bergegas ke kamar untuk bersiap siap setelah mengecup kedua pipi Mommynya.
Val sedang menggandeng tangan Van bersama sang suami menuju ke rumah setelah sholat tarawih.
"Pak Mario." Kata seorang tetangga menghampiri sepasang suami istri itu.
"Ada apa pak?"
"Veer jatuh. Kepalanya berdarah."
"Dimana?"
"Ditaman."
"Baik saya kesana."
"Dad kamu ambil mobil sama Van. Aku tunggu disana."
"Iya."
Val langsung berlari menuju taman untuk melihat kondisi anaknya.
"Astaga Sayang." Val langsung menggendong Veer sambil menghentikan pendarahan di kepala Veer dengan mukena yang Ia bawa.
Veer tak mau lepas dari gendongan Ibunya meskipun sudah sampai di rumah. Kepalanya mendapat 3 jahitan di klinik terdekat.
Val mengganti baju anaknya yang penuh darah.
"Kamu juga ganti By. Baju kamu kena darah semua."
"Iya. Mommy ganti baju dulu ya. Nanti kembali lagi. Dipakai istirahat dulu."
"Mom tidur sama kita ya."
"Iya."
"Loh..."
Mario mau protes tapi istrinya malah pergi.
Mario tidak bisa tidur karena istrinya menemani anak anak. "Dasar Veer." gerutunya sambil menutup kepala dengan bantal. Sudah tengah malam namun matanya belum terpejam juga. Ia memutuskan untuk menyusul sang istri dan ikut tidur disana juga. Mario menggeser tubuh Val pelan. Ia tidur di belakang istrinya dan memeluk Val dengan erat. Meskipun sempit karena berada di antara anak anaknya namun dengan sang istri Mario merasa nyaman. Tak lama kemudian nafas teratur terdengar menandakan Mario sudah tertidur pulas.
__ADS_1