
"Kamu mau kemana sih By? Kamu baru sembuh. Tinggal duduk diam dirumah kenapa sih. Kalo kamu butuh apa apa kan tinggal suruh orang."
"Mau keluar sebentar. Ada kebutuhan yang harus aku beli."
"Suruh orang aja."
"Enggak ah. Lagian dekat juga."
"By."
"Apa sih? sebentar aja."
"Kamu ngeyel ya kalo dibilangin suami."
"Maaf Dad. Tapi beneran deh. Aku mau beli sendiri."
"Kamu mau beli apa hm?"Mario menggenggam tangan istrinya.
"Mau beli keripik kentang. Boleh ya." Manja Val membuat Mario luluh.
"Iya sayang. Ayo aku antar."
"Makasih."
"Sama sama."
Selesai berbelanja, Mario langsung membawa istrinya utuk duduk dan beristirahat.
"Mom." Ketiga anaknya baru bangun tidur.
"Sini. Kalian sudah bangun?"
"Sudah Mom. Mommy sama Dad darimana?"
"Dari minimarket depan. Ini Mom beli cemilan buat kalian."
"Makasih Mom."
"Sama sama Sayang."
"Kamu makannya jangan berantakan dong By." Mario mengelap bibir istrinya.
"Daddy mau?"
"Suapi." Manjanya pada sang istri.
"Ini."
"Makasih Sayang."
"Sama sama."
"Mom. Van minta dipangku."
"Van duduk sendiri kan bisa."
" Van mau sama Mom kak."
"Iya. Sini." Val memangku anak gadisnya.
"Mom."
"Iya sayang."
"Van mau peluk Mom."
"Peluk aja. Mom juga peluk kamu." Keduanya saling berpelukan.
"Kenapa malah manja kamu?"
"Daddy juga manja." Kata gadis kecil itu membela diri.
Mario memeluk istrinya yang tengah mencuci muka di kamar mandi.
"Awas dulu Dad. Aku lagi cuci muka ini."
"Gamau."
__ADS_1
"Jangan manja deh."
"Mau peluk." Rengeknya seperti anak kecil.
"Minggir Dad."
"Gamau." Kata Mario malah mengeratkan pelukannya. Val dibuat pusing dengan tingkah suami dan anak anaknya yang manja.
"Dad."
"Gamau By Sayang. Aku nggak mau lepasin pelukannya."
"Ah. Terserah kamu. Aku mau ambil handuk."
Val mengambil handuk dengan susah payah karena suaminya masih menempel.
Mario benar benar tidak mau melepaskan istrinya. Meskipun kini wanita itu tengah duduk di depan meja rias.
"Tetep nggak mau lepas juga?"
"Enggak." Katanya duduk di bangku sambil memeluk istrinya.
"Sempit ini lo."
"Sini aku pangku." Mario memangku istrinya sambil memeluk.
"Haish...kamu itu."
"Kamu wangi."
"Mandi sana kamu."
"Mandiin."
"Gamau. Aku udah mandi."
"Kamu mandi nggak nunggu aku."
"Salah sendiri tidur."
"Aku ngantuk."
"Mandi. Mau dimandiin kamu."
"Gamau ah. Mandi sendiri. Aku udah mandi. Ntar basah lagi."
"Aku kangen dimandiin kamu."
"Yasudah ayo."
"Makasih Yang." Mario mengecup bibir istrinya.
"Jangan banyak tingkah. Kalo mau mandi ayo. Jangan sampai aku berubah pikiran."
"Iya. Kamu jangan galak galak dong."
"Iya. Ayo." Val menuntun suaminya menuju kamar mandi. Ia dengan telaten melepas semua baju suaminya. Mario berendam di bathup. Ia menyabuni pria itu dengan lembut dan telaten.
"Kamu masih sakit?"
"Masih sedikit nyeri. Kenapa?"
"Aku pengen."
"Jangan aneh aneh."
"Iya." Kata Mario memilih diam menahan hasratnya karena takut menyakiti sang istri jika Ia lepas kendali.
Val tengah duduk sendiri karena suaminya sedang ke ruang kerja sebentar.
"Nyonya."
"Iya."
"Nyonya dicari ustadz."
"Oh iya. Saya akan temui."
__ADS_1
"Baik Nyonya."
Val berjalan ke pintu utama.
"Assalamualaikum ustadz."
"Waalaikumsalam salam Val."
"Silahkan duduk ustadz."
"Ah iya." Ustaz itu duduk dengan Val karena ada banyak orang disana jadi tidak akan mengundang fitnah.
"Ustadz minum apa?"
"Ah tidak usah repot repot. Tadi sudah minum teh banyak dari rumah pak RT. Aku cuma mau antar undangan pengajian untuk besok malam."
"Oh. Terimakasih Ustadz."
"Sama sama. Aku pulang dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Val mengantarkan ustadz Hasan sampai gerbang depan.
Val memasuki rumah. Ia terkejut dengan suaminya yang bersedekap dada dan berdiri menatapnya.
"Dad." Mario tidak menjawab langsung memalingkan wajahnya dan pergi menuju ke kamar.
"Ya Allah. Dia ngambek lagi." Kata Val buru buru mengejar suaminya.
"Dad." Panggil Val dengan lembut menghampiri suaminya yang sedang berdiri di balkon kamar.
"Ngapain dia kesini?" Tanyanya tanpa menoleh pada sang istri.
"Antar undangan pengajian."
"Kenapa dia? kenapa bukan orang lain?"
"Kan dia ketuanya Dad."
"Suka ya kamu Karna dia datang kesini?"
"Dad jangan kaya anak kecil deh."
"Kamu bilang aku kaya anak kecil. Kamu nggak suka aku cemburu begini?"
"Bukan begitu. Kamu jangan salah paham dulu. Disana kan bukan kita berdua aja. Banyak pak Bon dan penjaga di rumah juga. Aku tau batasan Dad."
"Iya. Tapi aku nggak suka kamu ngomong sama Ustadz caper itu. Kamu nggak nyadar apa kalo dia suka sama kamu?"
"Dia kan sudah tau aku istri orang. Nggak mungkin dia suka Dad."
"Hati orang siapa yang tau. Meskipun dia Ustadz, dia juga manusia. Suka sama orang itu wajar. Apalagi dia duda."
"Iya. Tapikan bukan istri orang juga."
"Kamu pikir kalo dia ustadz akhlaknya sempurna begitu?"
"Ya bukan begitu."
"Terus gimana. Kamu belain dia terus."
Val menghela nafasnya. Jika sudah begini mau tidak mau Ia harus membujuk suaminya.
Val mendekat dan mengecup singkat bibir Mario. Pria itu menarik sang istri dan memperdalam ciumannya. Ia menikmati bibir lembut istrinya yang begitu menggoda.
Mario melepaskan tautannya setelah sama sama kehabisan nafas. Mario duduk di sofa sambil memeluk pinggang ramping Val. Wanita itu mengelus lembut kepala suaminya.
"Jangan marah lagi. Cinta aku pada laki laki hanya empat termasuk kamu."
"Siapa yang lain? kamu punya laki laki lain?"
"Papi, Ved, Veer dan Kamu."
Mario tersenyum memeluk istrinya lebih erat.
"Aku mencintaimu. Istriku."
"Dah nggak ngambek lagi kan?"
__ADS_1
"Enggak. Tapi kamu jangan dekat dekat atau bicara sama laki laki lain." Rengeknya manja. Val tidak menjawab hanya diam menanggapi suami manjanya.