Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Buaya?


__ADS_3

Mario tengah makan siang bersama istrinya. Ia menyiapkan sendiri dan membuatkan susu untuk Val. Istrinya tengah hamil. Mario harus menjaga dan memperhatikan Val secara ekstra. Val kini diberi kebebasan untuk keluar. Hanya di area Mansion saja, tidak lebih. Mertua Mario tadi juga berkunjung. Sepasang suami istri itu memberikan nasihat kepada keduanya. Apalagi Mario. Pria itu di beri peringatan keras untuk tidak menuruti semua makanan yang ingin dimakan Val. Mario harus memperhatikan asupan yang masuk ke dalam tubuh sang istri. Semuanya harus bergizi dan bersih.


"Aku suapi."


"Aku bisa makan sendiri."


"Pokoknya aku suapi." Tegas Mario membuat Val hanya menurut.


"Sayurnya buat Daddy aja ya." kata Val saat Mario hendak menyuapinya dengan sayur.


"Kok gitu? kamu lagi hamil harus makan yang sehat sehat."


"Aku nggak doyan."


"Makannya dibiasakan."


"Nggak mau. Nanti malah mual."


"Kalau buah?"


"Buah nggak mual."


"Yasudah. Makan buahnya saja." Kata Mario mencoba memahami kemauan istrinya.


"Iya."


"Vitaminnya jangan lupa diminum By."


"Iya."


"Susunya dihabiskan."


"Iya." Jawab Val patuh.


Mario menggandeng tangan istrinya. Ia mengajak Val jalan jalan di taman belakang agar tidak merasa bosan. Keduanya duduk si bangku taman. Mario takut Val kelelahan karena sedang hamil.


"Capek?"


"Nggak."


Mario berjongkok kemudian memijit kaki istrinya.


"Aku nggak capek Dad."


"Ga papa. Biar kamu nyaman aja."


"Udah. Udah nyaman kok."


Kata Val menarik tangan suaminya. Pria itu menyudahi kegiatannya dan kembali lagi duduk bersama sang istri.


Mario mengelus lembut perut sang istri yang masih datar.


"Kira kira laki laki atau perempuan?"

__ADS_1


"Ya nggak tau. Dad sukanya laki laki atau perempuan?"


"Apapun. Aku suka. Laki laki maupun perempuan aku suka semuanya." Mario beralih merangkul istrinya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Val.


"Dad."


"Ya By."


"Wanita itu?"


"Dia Laura." Jawab Mario membuat Val menutup mulutnya tidak percaya.


"Dia tidak hamil. Dia bersekongkol dengan dokter kandungan. Dia juga membodohi pria itu. Dia menguras habis hartanya kemudian pergi. Aku sudah dibihonginya dua kali tentu tak tinggal diam. Dia yang membuat kamu sempat meninggalkan aku."


"Bagaimana keadaannya?"


"Aku tidak tau dan tidak mau tau. Semua yang urus bawahan aku."


Perkataan suaminya yang tampak sedang emosi membuat Val tampak takut. Mario yang menyadari itu langsung menggenggam tangan istrinya dan mengecup berkali kali.


"Kamu jangan takut. Aku tidak akan menyakiti orang yang aku cintai." Kata Mario begitu tulus meyakinkan. Namun Val hanya diam. Ia tak menjawab atau merespon apa yang diutarakan suaminya.


Mario tampak lelah. Sedari tadi Val tak berhenti menyuruhnya untuk membaca alquran berulang ulang agar lancar. Val juga mengajarinya sholat. Kini pria itu sudah lancar di keduanya berkat sang istri.


"Sudah bisa kan?"


"Sudah." Mario memeluk istrinya kemudian mengecup pipi Val yang menggemaskan.


"Mulai nanti sholat."


"Iya By."


"Iya By."


"Bagus."


"Minta cium."


"Nggak, daritadi kamu udah cium aku Mulu."


"Kan aku yang cium kamu. Kamu belum cium aku."


"Sama aja."


"Beda By. Sekarang cium. Sebagai hadiah karena aku belajarnya cepat."


"Ya." Val mulai mencium bagian wajah yang ditunjuk suaminya. Mario menahan tengkuk sang istri dan mencium bibir Val dengan rakus.


"Enak." Mario tersenyum puas melihat Val yang cemberut.


"Jangan cemberut begitu."


"Mau eskrim."

__ADS_1


"Kamu lagi hamil. Astaga. Jangan makan es krim. Makan buah aja."


"Pengen eskrim."


"Nggak boleh. Papi sama Mami bilang juga nggak boleh."


"Yah." Keluh Val. Mario sebenarnya tak tega melihat istrinya sedih. Namun semua ini Ia lakukan untuk kesehatan Istrinya. Val sudah terlalu banyak makan makanan yang tidak sehat.


"Dad. Kapan kita ke rumah sakit buat periksa?"


"Mereka yang akan kesini. Periksanya di rumah saja."


"La kok begitu?"


"Aku nggak mau kamu di liatin para buaya di luar sana."


"Buaya apa?"


"Buaya itu laki laki yang matanya jelalatan kalo liat kamu."


"Emang ada?"


"Banyak dan kamu nggak pernah sadari itu. Kamu kan orangnya nggak peka."


"Oh." Jawab Val membuat Mario menghembuskan nafasnya kasar. Istrinya begitu tidak peka. Padahal laki laki di luar sana secara terang terangan menggoda dan mencari perhatian padanya. Mario ingin membunuh mereka semua namun rasanya terlalu banyak. Oleh karena itu Ia akan melindungi istrinya saja.


"Ke rumah Mami boleh?"


"Mami sama Papi akan kesini kalo kamu kangen. Hamil muda nggak boleh kemana mana."


"Kenapa?"


"Astaga By. Kamu banyak tanya. Nurut aja kenapa sih."


"Maaf." Kata Val menunduk.


"Enggak. Aku yang minta maaf." Mario memeluk istrinya.


"Hamil muda itu rentan. Jadi nggak boleh kemana mana."


"Iya."


"Dad. Kalo lahiran nanti aku maunya normal."


"Caesar aja. Aku nggak tega lihat kamu kesakitan. Lagipula kamu masih muda. Lahiran normal beresiko."


"Aku maunya normal Dad."


"Aku bilang enggak ya enggak. Kamu harus nurut."


"Maaf. Aku cuman khawatir sama kamu. Aku nggak mau terjadi sesuatu sama kamu. Melihat kamu kesakitan lebih sakit rasanya daripada menghadapi kematian." Mario berkata sambil menangkup wajah istrinya berharap Val akan paham tentang kekhawatirannya.


"Kamu harus tau. Aku hanya punya satu cinta yaitu untuk kamu. Bahkan dengan kedua orang tua atau diriku sendiri aku lebih mencintaimu. Hanya kamu seorang yang aku punya. Hanya kamu alasan aku masih hidup sampai sekarang. Kamu mengerti kan?"

__ADS_1


Val tidak menjawab hanya menganggukkan kepalanya.


__ADS_2