Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Ibu Yang Sempurna


__ADS_3

Frans sedang lari pagi di sekitaran kompleks rumah. Ia membeli rumah baru dengan bantuan Mario sebagai penutup dana kekurangannya. Rumah lamanya telah Ia jual karena terlalu jauh dari kantor. Sebenarnya terlalu jauh tidak masalah. Namun banyaknya kenangan pahit disana membuat Frans menjualnya.


"Papa udah lari pagi aja." Kata Ladit dengan muka bantalnya mendudukkan diri di sofa dekat sang Papa.


"Iya. Emangnya kamu baru bangun."


"Semalem Ladit begadang. Push Rank sama si kembar."


"Bisa bisanya. Mereka nggak dimarahin Val apa kalo tidur kemalaman."


"Ya sembunyi sembunyi dong Pa."


"Ladit."


"Hm."


"Kamu mau punya Mama baru nggak?"


"Ladit udah punya Mom. Tapi kalo Papa pengen nikah lagi ya monggo. Ladit nggak masalah asal Papa bahagia."


"Kalo Papa sih udah nggak mau nikah. Udah nggak mau lagi berurusan sama yang namanya wanita. Papa rasa sudah cukup hidup berdua dan bahagia sama kamu. Papa tanya begini karna Papa kira kamu mau punya sosok Mama."


"Enggak. Ladit nggak pengen. Ladit udah ada Mom. Ladit sayang sama Mom. Meskipun Mom bukan Mama kandung atau Mama sambung Ladit. Tapi kasih sayangnya sama Ladit melebihi Mama kandung Ladit sendiri."


"Iya. Papa tau itu."


"Mom mau main kesini. Tadi Mom telpon aku."


"Kapan?"


"Nanti."


"Wah gawat. Ayo beres beres."


"Kenapa?"


"Masih tanya kenapa lagi. Nggak enak dong ada tamu berantakan. Ayo."


"Iya." Katanya dengan malas membantu Frans untuk membersihkan rumah.


Mario, Istri dan anak anaknya tengah dalam perjalanan menuju rumah Frans.


"Kita mampir di supermarket dulu Dad."


"Ngapain? kan udah bawa kue sama makanan dari rumah."


"Mau bawain Snack buat Ladit sama anak anak juga."


"Buat anak anak atau kamu?"


"Hehe. Buat aku juga. Boleh ya..."


"Iya."


Mario langsung melajukan mobilnya ke supermarket terdekat.


Val dan anak anak sibuk memilih cemilan sementara Mario mendorong troli belanja mengikuti mereka.


"Jangan itu pedes."


"Jangan, yang itu banyak MSGnya Mom."


"Itu juga jangan. Ada kandungan sodanya. Tinggi gula. Nggak sehat." Kata Mario dan anak anaknya memperingati Val.


"Ih kalian. Terus beli apa kalo semuanya nggak boleh."


"Biar aku yang pilih." Mario mulai memasukkan cracker, kacang kacangan dan semua cemilan serta minuman yang tidak membahayakan kesehatan istrinya ke dalam troli.


"Ini ya Dad. Satu aja." Kata Val memohon sambil mengangkat kemasan bakso Aci.


"Nggak. Kamu dulu pernah beli. Pedes itu."


"Satu aja. Lain kali nggak lagi."


"Nggak."

__ADS_1


"Ayolah Dad."


"Iya." Kata Mario menuruti keinginan Val karena tidak tega.


Mereka sampai di rumah baru Frans.


"Rumahnya bagus." Kata Val saat turun dari mobil.


"Kamu pengen? Aku belikan."


"Apaan sih. Enggak."


"Kalian sudah datang." Frans keluar bersama Ladit menyambut mereka.


"Mom." Ladit langsung memeluk dan mencium Val.


"Sayang." Kata Val langsung membalas pelukan Ladit.


"Ayo masuk."


"Iya. Kita masuk. Kamu turunin semuanya di bagasi."


"Memangnya kalian bawa apa?"


"Jangan blaga bego. Istri aku masakin kamu banyak. Dibeliin isi kulkas lagi. Kurang dermawan bagaimana coba."


"Wah. Makasih ya Val."


"Sama sama Om."


"Makasihnya cuman sama istri aku aja?" Tanya Mario menyindir.


"Makasih Bos."


"Hm."


"Ayo masuk Mom. Aku tunjukin kamar baru aku." Ladit langsung menarik tangan Val dan adik adiknya untuk masuk ke dalam.


Selesai berkeliling untuk melihat lihat rumah. Mereka tengah berkumpul bersama di ruang keluarga sambil menikmati makanan yang dibawa Val.


"Om aku pinjam dapurnya ya."


"Mau ngapain?"


"Mau bikin bakso Aci. Tadi aku beli."


"Kamu ada ada aja. Makanan banyak enak enak masa kamu malah bikin bakso Aci."


"Lagi pengen Om."


"Iya. Pake aja. Anggap aja rumah sendiri. Kaya kalo aku di rumah kamu."


"Kamu aja yang nggak tau malu." Kata Mario menonyor kepala sahabatnya.


"Ayo By. Aku temani."


"Iya." Mario menggandeng tangan Val untuk menuju dapur.


Sampai disana Val langsung memasak air di dalam panci. Suaminya tak berhenti menempel membuat Val risih namun tetap membiarkan.


"Berapa lama masaknya?"


"Sebentar. Lima menit sudah jadi."


"Oh. Itu kalo nggak pake sambel nggak bisa ya By? Kuahnya merah banget. Pasti pedas."


"Kalo nggak pake sambel nggak enak dong Dad." Jawab Val sambil menuangkan baksonya yang telah siap ke dalam mangkuk.


Val dan Mario kembali lagi bergabung bersama mereka.


"Nggak ada yang mau?" Val menawari.


"Enggak."


"Mom jangan dimakan deh. Itu pasti pedes."

__ADS_1


"Ih. Udah dibeli masa nggak dimakan. Mubazir." Val mulai makan dengan lahap. Semuanya khawatir melihat wajah wanita itu yang sudah memerah.


"Jangan diterusin By."


"Dikit lagi habis. Enak." Katanya tak mendengar larangan dari sang suami.


"Alhamdulillah." Kata Val selesai minum.


"Nanti perut kamu sakit aku bakalan omelin kamu." Ancam Mario pada istrinya.


"Kamu udah mau kuliah ya Sayang?" Tanyanya pada Ladit mengalihkan pembicaraan.


"Iya Mom."


"Mau ambil jurusan apa?"


"Ekonomi bisnis."


"Bagus itu."


"Nanti Mom antar aku daftar ya di kampus milik Papinya Mom."


"Iya."


"Mom ada hadiah buat kamu. Kamu ambil di mobil ya."


"Ok Mom." Katanya bersemangat langsung pergi keluar.


"Yang Ini Mom?" Tanya Ladit sambil membawa kotak.


"Iya. Buka aja."


Ladit dengan semangat membuka kotak itu. Sebuah sepatu sport mahal impiannya.


"Mom." Katanya sambil menganga menatap wanita itu.


"Ini untuk aku?" Tanyanya tidak percaya.


"Iya. Kamu suka?"


"Suka banget Mom. Makasih." Ladit memeluk dan menciumi wajah Val.


"Udah stop." Kata Mario langsung menjauhkan sang istri dari jangkauan Ladit.


Val sampai di rumah sudah satu jam yang Lalu. Mereka menghampiri Si kembar yang tengah bermalas malasan di ruang keluarga.


"Mom."


"Sayang. Tolong carikan Van suruh kesini ya."


"Iya. Mom." Jawab Ved langsung melaksanakan perintah Mommynya. Beberapa saat pergi Ved sudah kembali bersama adiknya.


"Mommy cari Van?" Tanya Van langsung duduk didekat Val.


"Iya. Kamu tadi dimana?"


"Oh. Van tadi didepan."


"Ada apa Mom?"


"Karena Van naik kelas dengan nilai tertinggi. Ved dan Veer naik kelas dengan nilai terbaik juga. Mom mau kasih hadiah buat kalian." Kata Val sambil memberi ketiga anaknya masing masing kotak.


"Kita buka ya Mom."


"Iya."


Mereka membukanya dengan semangat.


"Terimakasih Mom." Kata mereka memeluk Val karena begitu bahagia mendapat hadiah.


"Baru saja Kita merayakan ulang tahun kalian yang ke 16 kemarin bersamaan dengan ulang tahun Van yang ke tiga belas. Mom heran kenapa tanggal lahir dan bulan lahir kalian sama. Hm.....Mom nggak nyangka kalian sudah dewasa. Rasanya baru kemarin Mom masih menggendong dan menyusui kalian. Ternyata sudah 16 tahun lamanya Mom menjadi Ibu. Mom berpesan untuk jaga pergaulan kalian. Di masa remaja sangat rentan dengan pergaulan bebas. Mom harap kalian benar benar selektif dalam memilih teman. Berteman sama semua boleh tapi jauhi yang membawa dampak negatif. Terutama kamu sayang. Kamu anak perempuan Mommy satu satunya. Harus jaga diri baik baik ya. Kalian sebagai kakak juga harus jaga adik kalian ya."


"Iya Mom. Kita akan selalu ingat nasehat Mom. Terimakasih selalu mengingatkan kita. Selalu sabar menghadapi kita yang sering nakal. Mom adalah Ibu terbaik. Mom Ibu yang sempurna. Terimakasih banyak untuk semuanya. Kasih sayang, waktu, perhatian dan kesabaran yang tiada batas. Apapun yang ada di dunia ini nggak akan bisa balas Budi Mom yang telah melahirkan dan membesarkan kami dengan penuh cinta kasih. Sekali lagi terimakasih."


"Sama sama Sayang." Kata Val membalas pelukan anak anaknya.

__ADS_1


__ADS_2