Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Penculikan


__ADS_3

Val sedang sendirian di rumah. Suaminya pergi bekerja sementara kedua anaknya sedang sekolah. Beberapa penjaga di rumahnya sedang ada tugas jadi hanya ada para maid dan beberapa sisa penjaga yang menemaninya. Suara ribut dari luar menyita perhatian Val. Ia bergegas mengecek keadaan. Puluhan orang berbaju hitam sudah melumpuhkan penjaga di rumahnya. Ia ingin lari namun suara seorang pria membuatnya terdiam membeku di tempat. "Mau kemana cantik?" Bisiknya tepat pada telinga Val hingga hembusan nafas hangat pria itu bisa dirasakannya. Pistol yang pria itu todongkan pada leher Val membuat wanita itu mau tidak mau patuh dan pasrah. Bergerak sedikit saja nyawanya bisa melayang.


Mario mendapat kabar Mansionnya di serang langsung bergegas pulang. Ia menyuruh anak buahnya untuk mengamankan kedua anaknya. Pria itu begitu khawatir dengan keadaan sang istri sekarang. "Robert sialan." Gumamnya sambil memukul stir mobil.


Robert merupakan musuh bebuyutan Mario. Dulu keduanya berteman baik hingga suatu ketika Pria itu salah paham karena dulu pacarnya menyukai Mario. Mario tidak tau apa apa. Namun Robert merasa ini semua gara gara Mario. Dendam sejak masa SMA berlanjut sampai sekarang. Mereka saling bersaing untuk menjadi yang terbaik dan tak terkalahkan. Sama sama tidak menikah. Dan kini Robert kembali dari Brazil setelah mendengar kabar Rivalnya itu telah menikah dengan seorang putri dari keluarga Thompson. Kabar yang Mario simpan agar tidak sampai ke telinga Robert kini telah terungkap. Pria itu hanya menghawatirkan istrinya karena tau Robert tak akan tinggal diam.


Val duduk di singgle sofa. Ia di kelilingi para laki laki yang begitu datar dan dingin. Robert tak berhenti memperhatikan Val. Istri Mario begitu cantik. Ia tak mengalihkan pandangannya dari Val sedaritadi membuat wanita itu merasa risih.


"Om siapa?"Tanya Val polos membuat pria itu tersenyum. Pantas saja Mario begitu mengejar Val. Ternyata wanita yang di kejar sangat menarik dan Imut. Robert baru membuka berkas laporan kabar tentang Mario yang bertumpuk akhir akhir ini. Ia begitu sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak sempat. Jika saja Ia memperhatikan sejak dulu. Ia tak akan membiarkan Val jatuh di tangan pria itu dan menikahinya segera. Ia juga mendengar Mario menikahi istrinya dengan cara yang tak biasa.


"Aku teman suamimu. Jangan takut."


"Teman. Tapi kenapa memperlakukan aku seperti ini?"


"Inilah cara mafia berkunjung ke rumah temannya. Sedikit berbeda. Tapi tujuan kami baik."


"Robert." Teriak Mario menggema memasuki ruang tengah tempat mereka semua berada. Robert dengan cepat berpindah duduk memangku Val sambil menodongkan senjatanya ke perut wanita itu.


"Mario. Apa kabar?" Tanya Robert melihat Mario datang dengan anak buahnya.


"Dad." Kata Val menatap nanar suaminya.


"By."


"Lepaskan istriku. Urusanmu denganku bukan dengan istriku."


"Aku mau istrimu."


"Bajingan kau. Jangan ganggu istriku." Mario geram melihat Robert mengelus pipi Val sambil memangkunya.

__ADS_1


"Memohonlah .Aku suka kau memohon." Kata Robert tersenyum puas.


"Aku tidak akan memohon pada pria sialan sepertimu."


"Benarkah?" Robert semakin berani mencium pipi Val.


"Sialan." Umpat Mario.


"Selangkah kau maju. Kau tidak akan melihat istrimu lagi." Kata Robert membuat Mario membeku.


"Bukan aku bunuh. Tapi akan aku bawa pulang."


Perlahan Robert berdiri dan sambil menggandeng tangan Val. Senjatanya juga masih di todongkan pada wanita itu.


Mario hanya bisa diam berdiri. Ia tak mau istrinya terluka. Ia tau betul Robert orang yang nekat. Pria itu tak segan untuk bertindak nekat.


"Aku akan menjemputmu. Jangan takut." Bisik Mario ketika Robert membawa istrinya pergi.


"Terimalah. Ini tidak beracun. Aku tidak mungkin membunuhmu atau bahkan menyakitimu."


Val menerimanya dengan ragu dan langsung minum karena benar benar haus.


"Kau tidak berniat menyakitiku. Kenapa kau membawaku kemari."


"Karena kelemahan suamimu adalah kamu." Pria itu menghela nafas dan mulai menceritakan kisahnya dulu. Entah kenapa berhadapan dengan pria itu dan melihat sisi lembutnya saat bercerita Val tidak takut sama sekali.


"Kau tidak takut lagi?" Tanya Robert melihat tatapan Val yang melunak.


"Tidak. Aku lebih merasa lapar daripada takut denganmu."

__ADS_1


"Akan aku perintahkan koki untuk membuat makanan."


"Jangan." Cegahnya.


"Kenapa? Tadi katanya lapar."


"Mie instan."


"Baiklah akan aku suruh orang buatkan."


"Aku mau bikin sendiri."


"Baiklah." Kata Robert entah kenapa menurut saja.


"Aku merindukan anak anak." Keluh Val.


"Mereka baik baik saja."


"Hah?" Kata Val cukup terkejut dengan ucapan pria itu.


"Aku tidak akan menyentuh anak anakmu yang tidak berdosa."


"Lalu kenapa kau menculikku aku tidak ada hubungannya dengan masalah kalian. Sekarang lepaskan."


"Tidak akan. Aku sudah nyaman dengan hadirmu disini."


"Dasar. Pertengkaran kalian membuat aku kerepotan." Val mencoba membuka pintu namun di kunci.


"Kau tidak akan bisa keluar. Buang buang tenaga saja." Kata Robert memperingati.

__ADS_1


Val tidak bisa tidur. Ia memikirkan anak anak dan suaminya. Wanita itu sudah mencari segala cara untuk bisa keluar dari sana namun nihil. Tidak ada jalan keluar yang bisa Ia lewati. Semua pintu dan jendela tertutup dengan rapat. Hanya ada satu ranjang dan sofa disana tanpa adanya benda yang dapat digunakan untuk kabur. Jalan pikiran Val sudah buntu. Ia sejak tadi mondar mandir merasa lelah. Ia mengambil duduk di ranjang berharap seorang datang untuk menyelamatkannya.


__ADS_2