
Mario mau tidak mau harus bekerja hari ini karena ada beberapa meeting penting yang harus dihadiri langsung olehnya. Selesai dengan urusan di kantor, pria itu bergegas pulang ke rumah untuk berjumpa dengan Val kesayangannya. Gadis itu tengah Asyik berkutat di dapur dengan para pelayan. Mario memperhatikan dari CCTV yang langsung terhubung ke tabnya.
Mobil terparkir mulus di halaman mansion. pria itu turun dari mobilnya dan masuk ke dalam dengan langkah lebar. Ia langsung menuju ke dapur tempat Val berada saat ini. Para pelayan yang berada disana segera pergi begitu melihat Mario datang.
"Bibi. Apa makanan daerah Bibi yang paling enak? Val pengen coba buat. Bibi ajari ya." Mario tersenyum melihat Val yang belum sadar jika Ia sedang sendiri. Pria itu kemudian memeluk Val dari belakang.
"Om ngapain ih."
"Pengen peluk."
"Awas ah. Val lagi sibuk."
"Yaudah lanjutin aja. Sambil aku peluk kan juga bisa."
"Nggak bisa. Aku susah geraknya. Awas nanti daging aku gosong."
"Iya." Kata Mario terpaksa melepaskan pelukannya.
"Kamu lagi buat apa?"
"Steak."
"Aku minta boleh?"
"Boleh."
"Makasih Sayang."
"Sana ah. Pulang kerja itu bersih bersih bukannya ganggu orang masak."
"Udah cocok jadi istri. Besok kita nikah ya."
"Enggak."
"Yasudah. Aku ganti baju dulu." Kata Mario bergegas pergi setelah berhasil mencium pipi Val.
Mario dan Val tengah makan bersama. Pria itu begitu lahap. Sedari pagi Ia selalu menghabiskan makanannya karena Val yang memasak. Biasanya Mario selalu memakan tiga atau dua suap saja.
"Om. Val mau ngomong."
"Ya Sayang."
"Val mau tidur di kamar lain."
"Kamar kamu di kamar aku. Kita sekamar."
"Ih. Gamau. Val punya privasi. Val mau kamar sendiri."
"Disini udah nggak ada kamar lagi Sayang."
"Bohong. Mana ada mansion sebesar ini kamarnya cuma satu."
"Ada kamar tapi serem. Ada hantunya. Cuma kamar aku aja yang nggak ada hantunya."
"Om aku bukan anak kecil."
__ADS_1
"Udah dong Yang. Kamu sekamar sama aku. Ini perintah bukan tawaran."
"Tau ah."
"Kamu mau kemana?"
"Mau minum yang dingin. Haus."
"Yaudah. Cepat kembali ya." Teriak Mario karna Val sudah cukup jauh.
Beberapa saat berlalu Val belum juga kembali. Seorang pelayan tiba tiba datang tergopoh-gopoh dengan wajah cemas.
"Tuan."
"Ada apa?"
"Nyonya mabuk."
"Kok bisa?"
"Nyonya salah minum. Arak beras Tuan Nyonya kira susu. Nyonya minum sampai habis."
Mario segera menuju ke lokasi tempat Val berada. Gadis itu sudah sangat mabuk dengan wajah yang memerah. Mario langsung menggendongnya untuk dibawa ke kamar.
Val merancu tidak jelas membuat Mario kuwalahan. Apalagi gadis itu terlihat tampak menggoda membuat adik Mario bangun secara alami.
"Om Panas. Val pengen pulang."
"Astaga Val. Aku sudah menegang. Kau membuatku seperti ini dan tidak mau bertanggung jawab. Aku harus tersiksa terus." Kata Mario saat Val menarik lengan pria itu.
Val akhirnya tersadar. Kepalanya sangat pusing. Ia melihat Mario yang baru keluar dari kamar mandi dalam keadaan yang lemas.
"Kamu sadar juga Sayang." Kata pria itu duduk di sisi ranjang.
"Aku..."
"Kamu tadi salah minum arak beras. Jadinya mabuk."
"Astaga."
"Tenang aja. Aku nggak apa apain kamu. Kita belum nikah. Aku tadi tuntasin sendiri di kamar mandi."
"Tuntasin apa?"
"Adik aku."
"Om punya adik?"
"Punya satu. Kamu pasti suka."
"Kok Val nggak pernah lihat. Umurnya berapa?"
"Seumuran aku. Kamu mau kenalan?"
"Boleh deh. Siapa tau bisa bebasin aku dari sini."
__ADS_1
"Iya aku kenalin." Mario hendak membuka celananya membuat Val menutup mata.
"Om nggak waras ya."
"katanya pengen lihat."
"Om apa apaan sih."
"Ini adik aku. Kalo kamu nggak pengen lihat. Pegang juga boleh."
"Om keterlaluan."
"Iya Maaf. Sekarang kamu mandi gih biar Segeran."
Tanpa menjawab Val langsung menuju kamar mandi.
Malam hari Val selesai memberi kabar pada kedua orang tuanya. Ia sudah menggunakan piyamanya bersiap untuk pergi tidur.
"Kenapa?" Tanya Val karena Mario menghalangi jalannya.
"Kamu mau tidur?"
"Iya."
"Sudah ngantuk?"
"Kenapa tanya?"
"Kalo belum ngantuk ayo ke balkon. Kalo malam begini udaranya enak."
Tanpa mendapat persetujuan Mario menggandeng tangan Val menuju balkon.
Benar yang dikatakan pria itu. Udaranya sangat segar dan nyaman.
"Gimana? Enak kan?"
"Hm."
"Aku kalo nggak bisa tidur karena mikirin kamu pasti kesini. Aku curhat sama langit. Kapan aku bisa nikah sama kamu. Bangun pagi selalu lihat kamu, Tidur meluk kamu, Dipakaikan dasi sama kamu, Sarapan berdua dan mandi bareng."
"Dasar."
"Kamu nggak ngerti rasanya jadi aku
Makannya kamu anggap aku ini gila. Padahal enggak. Aku cuman mau hidup bahagia sama orang yang aku cintai. Menua bersama. Aku nggak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta seperti ini. Apalagi kisah orangtuaku yang sangat tragis. Mereka sibuk dengan kegiatan masing masing hingga akhirnya Mama selingkuh dan papa meninggal karena serangan jantung. Hidupku yang malang. Makannya aku terus berjuang untuk mendapatkan kamu. Karna dengan kamu aku bisa merasakan yang namanya cinta."
"Semua orang memiliki kesedihannya masing masing Om. Manusia berencana tapi Tuhan yang menentukan. Ada baiknya berusaha. Tapi jangan terlalu memaksa."
"Memaksa itu boleh. Karena jika tidak dipaksa tidak akan dapat. Memaksa juga salah satu bentuk usaha."
"Val mau tidur. Ngantuk." Gadis itu menutup mulutnya sambil menguap.
Mario sudah memastikan Val tertidur pulas.
Pria itu menyingkirkan pembatas diantara keduanya. Ia memeluk Val dengan hangat.
__ADS_1
'Sangat nyaman.' Batinnya sambil memejamkan mata. Menyusul Valnya menjelajahi alam mimpi.