
Hari ini Mario mendatangkan dokter ke rumahnya untuk memberi suntikan Vaksin pada Van. Gadis itu menangis terjerit jerit sedaritadi karena takut jarum suntik.
"Nggak papa Nona kecil. Hanya sakit sebentar seperti di gigit semut." Bujuk dokter itu.
"Gamau." Van mengeratkan pelukan pada Mommynya.
"Gak papa dek. Gak sakit kok." Veer ikut membujuk.
"Van. Jangan buang buang waktu. Dokter masih banyak kerjaan." Kata Mario tak sabaran membuatnya menangis lebih kencang.
"Dad." Tegur Val pada suaminya.
"Sini peluk Mommy. Lihat Mommy jangan lihat kemana mana." Val memeluk anaknya sambil memberi kode kepada dokter untuk menyuntik Van.
"Sudah selesai." Kata Dokter itu lega.
"Nggak sakit kan?"
Van hanya menggeleng menanggapi Mommynya.
"Saya permisi dulu Tuan. Nyonya." Kata Dokter paruh baya itu berpamitan.
"Iya dok. Terimakasih banyak. Hati hati."
"Iya."
Van tidak mau turun. Gadis itu masih setia berada di pangkuan Mommynya.
"Van mau apel?"
"Enggak."
"Yasudah. Kakak makan."
"Sayang tolong ambilin HP Mom."
"Iya Mom."
"Ini Mom."
"Makasih ya."
"Sama sama Mom." Ved tersenyum sangat manis.
"Kenapa kamu senyum senyum begitu?"
"Pengen aja Dad."
"Bilang Mom aja kalo mau sesuatu."
"Mom sangat mengerti Ved."
"Kamu mau apa hm?"
"Mau durian."
"Minta Dad beli."
"Ayo Dad."
"Ambilin kunci mobil."
"Siap Dad."
Val sedang menunggu anak anak dan suaminya pulang. Ia memang tidak ikut karena Van sedang rewel dan tidak mau diajak kemana mana.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Astaga, banyak benget. Kalian mau jualan atau apa?" Kata Val kaget melihat banyak sekali durian yang mereka bawa.
__ADS_1
"Mereka yang minta. Aku tinggal bayar By." Mario mengecup kening istrinya.
"Van duduk sendiri. Kasian Mom daritadi kamu nggak mau turun. Mom capek."
"Biarin Dad."
"Dad. Bukain dong."
"Tadi kan udah di bukain abangnya sekalian."
"Oh iya."
"Mom. Veer suapi..." Veer menyuapi Mommynya.
"Gimana?"
"Manis."
"Adek mau?"
"Enggak. Baunya nggak enak."
"Enak tau. Coba dulu."
"Enggak."
"Jangan dipaksa, kalian makan saja."
"Iya Mom."
"Mom. Tadi ada mbak mbak dandannya menor banget."
"Hush... kalian apaan sih."
"Iya Mom. Dia deketin Daddy. Dikira Daddy duda."
"Heh. Kalian ini...Tapi aku nggak macem macem kok By."
"Daddy marah marah. Katanya gini 'Jangan coba coba dekati saya ya. Saya sudah punya istri yang jauh lebih baik dari kamu. Istri saya cantik, pintar, baik dan masih muda. Anda harus sadar diri.' gitu Mom." Veer memperagakan apa yang dilakukan Daddy-nya.
"Sama orang baru kenal kok kamu gituin Dad?"
"Kamu tau sendiri kan aku orangnya gimana." Mario merangkul istrinya.
Mario sedang memijit kaki istrinya yang sedang sakit.
"Lain kali hati hati." Katanya menasehati sang istri.
"Iya."
"Kok bisa begini gimana ceritanya. Pergelangan kaki kamu memar lo."
"Aku buru buru. Mau angkat kue di oven."
"Kan ada Bibi."
"Iya."
"Aku ambilkan obat dulu. Kamu jangan kemana mana."
"Iya."
Mario kembali lagi. Pria itu langsung mengoleskan obat pada kaki istrinya.
"Kamu udah makan?"
"Iya."
"Hah?"
__ADS_1
"Udah."
"Kamu daritadi kenapa sih. Diajak ngomong nggak fokus. Ada yang kamu pikirin?"
"Ada."
"Apa?"
"Nggak tau. Kaya ada yang ganjel aja. Tapi nggak tau apa."
"Apa sih?"
"Nggak tau Dad."
Mario duduk di samping istrinya dan membawa Val ke dalam pelukannya.
"Jangan dipikirkan." Kata Mario sambil mengusap kepala Val lembut.
Kaki Val sudah baikan. Ia bersama suaminya tengah mengawasi anak anak yang sedang bermain basket di lapangan belakang.
"By."
"Iya."
"Kamu mau nggak aku tunjukin sesuatu."
"Apa."
"Ayo ikut aku. Aku gendong ya?"
"Nggak. Aku jalan sendiri."
"Kalo gitu hati hati."
"Iya."
Mario menggandeng tangan istrinya.
"Ini mau kemana Dad?" Tanya Val saat suaminya membawa Val ke taman.
"Ini tempat rahasia." Kata Mario semakin membuat Val penasaran. Pria itu menuntun Val untuk masuk ke taman labirin. Tempat dimana anak anak sering main. Mereka terus berjalan hingga sampai di sebuah taman kosong yang berada di bagian paling dalam.
"Aku nggak tau kalo ada space lagi di dalam."
Mario membuka sebuah pintu yang terhubung ke ruang bawah tanah. Pintu itu tidak terlihat karena dilapisi rumput yang menyamarkannya dengan yang lain. Mario membawa istrinya menuruni tangga menuju ke bawah dengan perlahan.
"Ini tempat apa Dad?" Tanya Val saat suaminya menyalakan lampu. Tempat begitu misterius dan elegan. Ada berbagai macam senjata disana.
"Ini tempat semua informasi terkumpul. Tempat kerja aku. Ayo aku ajak ke tempat spesial." Mario membawa istrinya semakin ke dalam. Ternyata ada sebuah kamar indah disana.
"Ini kamar siapa?"
"Kamar kita."
"Memang kamu pernah tidur disini?"
"Enggak. Mana bisa tidur aku kalo nggak ada kamu."
Pria itu mengajak istrinya berbaring bersama di ranjang. Ia memeluk istrinya dengan erat.
"Anak anak."
"Aku sudah urus. Kamu tenang aja." Katanya sambil mengusap lembut punggung sang istri.
"Apakah tempat ini berbahaya? aku sedikit takut melihat banyak senjata tadi."
"Kamu tenang saja Sayang. Ini tempat aman."Mario mengecup bibir istrinya dengan lembut.
"Hanya kamu satu satunya orang yang pernah masuk kesini selain aku. Aku menunggu kamu siap dulu sebelum benar benar membawa kamu kesini. Aku takut kamu ketakutan karena trauma semasa kamu diculik dulu."
__ADS_1
"Hm.. Benar aku memang sedikit takut."
"Jangan takut Sayang. Aku akan selalu melindungi kamu." Ia mengecup tangan istrinya beberapa kali dan memeluk Val lebih erat lagi.