
Val tengah menunggu suaminya yang masih bersiap. Entah apa yang pria itu lakukan. Sudah satu jam lebih menunggu tapi belum selesai juga.
"Dad. Kamu sebenarnya ngapain sih? daritadi kok belum selesai juga."
"Sebentar By. Aku masih pake skincare. Belum pilih parfum juga."
"Halah. Ribet kamu."
"Bantu aku pilih parfum By." Mario menarik tangan istrinya untuk berdiri di depan lemari kaca yang penuh dengan koleksi parfum nya yang mewah.
"Pake aja mana yang kamu suka. Cepetan deh. Anak anak udah nunggu buat sarapan."
"Ayo pilihkan."
"Hah. Yang ini." Tunjuk Val dengan asal.
"Kenapa?"
"Oh. Astaga Dad. Begitu juga kamu masih tanya alasan. Cepetan deh."
"Iya iya." Mario mencium gemas pipi chubby Val. Wanita itu sekarang sudah lebih berisi. Napsu makannya meningkat. Mario sangat senang.
"Sudah. Ayo." Katanya penuh semangat menggandeng tangan Val untuk sarapan.
Anak anak menunggu dengan bosan di ruang makan.
"Daddy dandannya lama." Keluh Ved.
"Iya. Daddy kalian dandannya lama." Timpal Val sambil menyiapkan sarapan untuk suami dan anak anaknya.
"Ayo sarapan. Kalian telat nanti."
"Iya Mom."
"Kalian kalo lama nunggunya sarapan duluan aja."
"Kita kan mau sarapan sama Mom. Ini nggak akan kejadian kalo Daddy nggak kelamaan."
"Iya. Daddy sih. Padahal semuanya udah disiapin sama Mom."
"Sudah sudah. Dilanjutin sarapannya."
"Iya Mom." Kata mereka patuh.
"Mom. Nanti sore keluar yuk."
"Mau kemana? Mom kan nggak boleh kecapean."
"Nggak papa. Kalian mau kemana?" Tanya Val sambil menggenggam tangan suaminya.
"Nggak usah aneh aneh deh By."
"Sebentar aja Dad."
"Em...Nggak jadi Mom. Mom istirahat aja."
"Nggak papa kok. Lagian Mom juga bosen di rumah terus sebulan ini. Boleh ya Dad?"
"Iya. Sebentar."
"Memangnya kalian mau kemana?"
"Ke pantai yuk..."
"Iya. Nanti sore kesana."
"Makasih Mom."
"Sama sama."
"Kalian makasih sama Mom aja?"
"Makasih juga Dad."
"Hm. Iya." Jawab Mario melanjutkan sarapannya.
Val memasuki rumah setelah mengantar anak anak dan suaminya. Wanita itu duduk di ruang tengah sambil membaca majalah.
"Permisi Nyonya." Kata seorang penjaga menghampiri Val.
"Ya Pak."
"Ada kiriman paket."
__ADS_1
"Dari siapa Pak?"
"Tuan Mario."
"Baik pak. Terimakasih ya."
"Sama sama Nyonya."
"Ada ada aja." Kata Val sambil membukanya.
Wanita itu mengangkat panggilan yang masuk di ponselnya.
"Assalamualaikum Dad."
"Waalaikumsalam. Kamu suka?"
"Daddy apa apaan sih. Kasih di rumah kan bisa."
"Ya biar buat kamu terkesan aja. Kamu suka kan?"
"Suka banget. Makasih Dad."
"Sama sama Sayang. Rasanya beda nggak?"
"Iya. Agak wangi."
"Itu aku pesan khusus. Coklatnya aku suruh tambahin ekstrak mawar."
"Kamu. Memangnya aku hantu kamu kasih makan kembang segala."
"Kok hantu?"
"Iya. Hantu kan makannya kembang kaya yang di film itu."
"Kebanyakan nonton film."
"Udah dulu ya. Aku mau lanjut makannya."
"Iya. Assalamualaikum Sayang."
"Waalaikumsalam Daddy." Jawab Val semanis mungkin.
Sore hari Mario, Val dan anak anaknya sudah berada di pantai.
"Nggak ah Mom. Kotor."
"Terus kenapa ngajak ke pantai?"
"Pengen lihat lihat aja."
"Hm. Yaudah." Val melanjutkan memotret pemandangan pantai yang indah di sore hari dengan kameranya.
"By."
"Ya."
"Kamu sibuk sendiri."
Val membalikkan badan dan tersenyum manis pada sang suami.
"Kenapa?"
"Aku kamu cuekin. Kamu malah sibuk sama kegiatan kamu sendiri." Katanya sambil cemberut.
"Wah. Tuan Mario cemburu ya?"
"Tentu."
"Yaudah. Kita duduk disana." Kata Val sambil menggandeng tangan suaminya.
Keduanya duduk di bangku sambil mengawasi anak anak.
"Kita nikah udah berapa lama By?"
"Nggak mungkin kamu nggak tau."
"17 tahun. Bulan lalu baru saja kita rayakan anniversary."
"Iya."
"Tujuh belas tahun ini begitu berkesan. Di umurku yang sekarang ini waktu tujuh belas tahun itu adalah yang paling membahagiakan di hidup aku. Terimakasih sudah hadir dan menemani aku selama ini dan untuk kedepannya. Aku mencintaimu." Mario memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Sama sama Dad." Val tersenyum. Tak terasa Ia sudah menjadi seorang istri selama itu. Meskipun kehidupannya bisa dibilang penuh dengan tekanan tapi Val bisa menyesuaikan diri dan menjalaninya dengan baik.
__ADS_1
"Dad. Aku haus. Beli minum yuk."
"Memangnya nggak bawa dari rumah?"
"Enggak. Lupa aku. Ayo."
"Jangan beli yang aneh aneh. Air mineral aja."
"Iya."
Mario menggandeng tangan sang istri. Mereka akan membeli minum di sebrang jalan. Tempatnya bersih dan rapi.
Sebuah mobil melaju kencang tak memperhatikan sepasang suami istri itu. Val mendorong suaminya sampai terjatuh di sisi jalan. Suara benturan kencang diiringi pecahan kaca berhamburan di aspal menyita perhatian semua orang yang ada disana. Beberapa detik kemudian darah menggenang di dekat kaki Mario. Pria itu pucat seketika dan berusaha meraih tubuh istrinya yang sudah tak sadarkan diri bersimbah darah. Mulutnya membisu tiba tiba. Tidak bisa berteriak karena keterkejutan yang dialami.
"Sayang."Lirihnya bergerak perlahan menggenggam jemari Val yang sudah lemas. Mario mendekap tubuh wanita itu. Ia berteriak dan menangis sekencang kencangnya sambil memanggil Val.
Sampai di rumah sakit Val langsung dimasukkan ke ruang UGD. Kondisinya sangat parah. Kedua orang tuanya juga datang setelah mendapat kabar. Mario menangis pilu. Ia tak mau kehilangan sang istri. Baginya Val adalah alasan satu satunya Ia masih tetap hidup sampai saat ini. Jika sampai Ia kehilangan sang Istri. Maka tidak ada gunanya untuk hidup lagi.
"Pi. Anak kita Pi." Mami tak berhenti menangis sedari tadi. Papi memeluk istrinya untuk menenangkan.
"Kita berdoa saja Mi. Semoga Val cepat membaik." Kata Pria itu terlihat tegar di antara mereka semua. Namun hatinya hancur. Putri satu satunya sedang berjuang hidup dan mati di dalam sama. Ia tak menyangka. Sebuah mimpi buruk menimpa kehidupannya.
Dua jam menunggu. Dokter belum juga keluar.
"Mario. Bersihkan dirimu." Kata Papi Val menghampiri menantunya.
"Pi."
"Bersihkan dirimu. Jangan seperti ini."
"Baik." Mario bergegas ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
"Frans. Ajak anak anak pulang."
"Opa. Kita mau disini." Jawabnya dengan mata sembab.
"Kalian harus menurut. Nanti Opa kasih kabar. Sekarang pulang dulu sama Om Frans."
"Baik Opa."
"Frans. Aku titip mereka."
"Iya." Pria itu langsung membawa anak anak pergi dari sana.
Mario kembali duduk bergabung bersama mertuanya. Mereka masih menunggu kabar dari dalam.
Dokter keluar dengan wajah lelahnya. Ketiga orang itu langsung menghampiri.
"Bagaimana dok?"
Dokter menghela napasnya. Dengan berat hati Ia harus menyampaikan keadaan yang sebenarnya.
"Lukanya parah di dada dan kepala. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Mohon maaf harus menyampaikan ini. Saya harap keluarga bisa sabar. Pasien tidak tertolong."
Mami langsung pingsan seketika mendengar apa yang disampaikan dokter barusan.
"Dokter jangan bercanda." Kata Mario mengguncangkan bahu dokter paruh baya itu.
"Maaf Tuan."
"Saya bayar berapapun. Selamatkan istri saya. Bahkan dengan harta dan nyawa saya sekalipun, saya bersedia. Tolong selamatkan dia." Kata Mario histeris.
"Dokter." Seseorang keluar dari IGD.
"Pasien tiba-tiba bangun dan memuntahkan darah."
Semua tim medis langsung masuk kembali ke ruangan.
Satu jam lagi mereka menunggu setelah di beri kabar duka dan harapan secara bersamaan.
"Bagaimana Dok?" Tanya mereka begitu melihat dokter keluar lagi dari ruangan.
"Masih ada harapan." Jawabnya sambil menepuk punggung Mario.
"Terimakasih." Kata mereka.
"Sama sama."
"Boleh kami melihat dok?"
"Keadaannya sangat rentan. Untuk saat ini jangan dijenguk dulu. Kami akan pindahkan ke ruang ICU."
"Baik dok." Kata Mereka patuh.
__ADS_1
"Cepat sembuh Sayang." Kata Mereka mengamati pintu ruangan tempat Val berada.