Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Bantu Aku


__ADS_3

Val tengah sibuk di dapur cafenya. Pesanan begitu banyak. Belum lagi Ia harus mengantar makanan untuk sang suami. Ia harus bekerja ekstra cepat agar semuanya cepat selesai. Setelah beberapa jam berlalu. Pesanan sudah siap tinggal di antar ke tempat tujuan. Val juga sudah menyiapkan makan siang untuk sang suami. Ia akan bersih bersih dulu sebelum mengantarkannya.


Hari ini cuaca sangat terik. Val terjebak mancet meskipun sudah menggunakan ojek. Val memutuskan untuk turun karena tinggal seperempat jalan lagi menuju kantor sang suami.


"Saya turun disini pak. Ini ongkosnya. Kembaliannya ambil aja."


"Makasih Neng."


"Ok."


Gadis itu mulai berlari melewati trotoar. Ini Ia lakukan selain jam sudah mepet dan tidak mau suaminya menunggu juga sekalian olahraga siang. Gila memang di cuaca yang seperti ini ada orang yang berniat berolah raga. Mungkin keluar rumah saja malas.


15 menit Val berlari akhirnya sampai di kantor suaminya. Mereka tersenyum melihat kedatangan Val dan menyapa dengan ramah. Mereka juga ingin tau bagaimana reaksi Mario saat melihat istrinya seperti ini. Namun itu tidak mungkin terjadi. Tidak sembarang orang bisa masuk ke ruangannya.


"Mbak...Huft...." Kata Val sambil mengatur nafasnya yang ngos ngosan.


"Om Mario. Ada?"


"Ada Nona. Tuan sedang meeting. Tadi Tuan berpesan untuk Nona menunggu di ruangan beliau. Mari saya antar."


"Gausah Mbak. Makasih. Aku kesana sendiri aja. Masih inget kok."


"Baiklah Nona. Silahkan."


Val langsung masuk ke ruangan suaminya setelah sampai disana. Ia merebahkan diri di sofa. Karena merasa haus Val menuju ke kulkas yang besar yang ada di sudut ruangan. Val membuka kulkas itu begitu terkejut. Isinya hanya air putih. Semuanya benar benar air putih.


"Lagi ngapain By?" Tiba tiba Mario memeluknya dari belakang.


"Jangan peluk. Aku keringetan."


"Gapapa. Kamu lagi ngapain?"


"Mau minum. Isinya air putih semua. Om nggak mampu beli minuman bersoda ya?"


"Itu nggak sehat. Sehat air putih."


"Yaudah. Air putih juga. Yang penting minum." Val langsung mengambil sebotol dan meneguknya hingga tersisa setengah.


"Makan gih. Nanti keburu dingin."


"Suapi."


"Iya."


Mereka duduk berdua dan Val mulai menyuapi suaminya. Kali ini dengan garpu, karena yang dibawa adalah pasta, fish and chips dan sticky toffee pudding sebagai dessert.


"Aku tadi dapat laporan kamu naik ojek terus lari karena mancet."


"Iya."


"Kenapa nggak suruh jemput supir aja sih."


"Kan mancet. Naik ojek aja nggak keburu apalagi mobil. Nanti makanannya nggak fresh lagi."


"Kamu kan jadinya kepanasan. Capek lagi."


"Nggak capek. Itung itung olah-raga siang."


"Mana ada orang olah raga siang bolong panas kata gini."


"Om cowok takut panas. Aku biasa aja. Item juga nggak papa. Eksotis. Keren tau."

__ADS_1


"Kamu kalo dibilangin."


"Iya Om. Aku malah suka kulit gelap. Tapi sayangnya kulit aku kalo dipake buat panas panasan bukannya gelap malah merah merah."


"Iya. Ini juga."Mario menyentuh pipi istrinya yang memerah.


"Sakit?"


"Enggak. Nanti beberapa menit juga ilang sendiri."


"Om disini ada dapur nggak sih?"


"Ada. Kamu mau apa?"


"Mau bikin minum."


"Nanti aku suruh orang."


"Nggak ah. Aku mau bikin sendiri."


"Yaudah. Nanti aku temenin."


"ok."


Mereka terkejut akan kedatangan Mario di dapur kantor. Selama perusahaan ini berdiri. Baru pertama kali Mario menginjakkan kakinya di tempat itu.


"Tuan. Nyonya." Sapa mereka.


"Ada yang bisa kami bantu?"


"Saya mau bikin minum Mbak."


"Tapi Nyonya. Biar saya siapkan."


"Biarkan saja."


"Baik Tuan." Kata mereka patuh lalu meninggalkan dapur untuk mengamati dari tempat yang aman.


Val sibuk membuat minumannya sementara Mario hanya diam sambil mengomel pada gadis itu untuk hati hati.


Val mencampur susu full cream dan kopi kemudian memasukkan es batu agar segar.


"Mau?" Val menawari Mario.


"Mau." Pria itu meminum milik Val.


"Ih Om. Aku bikinin lagi."


"Satu untuk berdua." Kata Mario mengecup kening istrinya dan tersenyum. Itu semua tak luput dari pandangan semua orang yang tengah mengawasi kegiatan keduanya. Akhirnya ada yang bisa membuat Mario tersenyum. Pria berwajah datar dan tatapan dingin itu begitu hangat dengan sang istri. Berita ini kemudian menjadi trending di kantor tersebar melalui pesan pesan di grup chat para karyawan.


Mario merangkul pinggang istrinya. Keduanya akan pulang.


"Tuan. Nyonya. Selamat sore."


"Sore." Jawab Val ramah namun Mario tetap dengan wajah dinginnya.


Val mencubit lengan suaminya.


"Apa sih By?"


"Kalo ada yang nyapa itu dijawab dong."

__ADS_1


"Iya. Sore." Jawab Mario langsung bergegas membawa istrinya pergi.


"Wah istri Bos hebat." Bisik bisik mereka.


Mario selesai makan langsung berpamitan untuk ke ruang kerjanya. Ada beberapa berkas yang harus di cek dan ditandatangani. Sementara Val, Gadis itu tengah sibuk bermain game di ruang pribadinya. Ruangan khas anak muda dengan miniatur, perlengkapan bermain game yang super lengkap, hingga makanan ringan dan minuman yang berserakan dimana mana.


Pukul 11 Malam Mario baru selesai. Ia menyusul istrinya di ruangan Val karena gadis itu tidak berada di kamar. Pria itu begitu terkejut memasuki ruangan sang istri. Begitu berantakan. Val tidak mengetahui kedatangan Mario masih tetap fokus dengan kegiatannya.


"By. Ruangan kamu berantakan."


"Iya Ntar aku beresin."


"Ayo tidur."


"Nanggung. Bentar lagi."


"Berdiri dulu."


"Ya." Val berdiri kemudian Mario duduk di kursinya.


"Aku duduk dimana?"


"Duduk disini." Mario menepuk pahanya.


"Ok." Val hanya menurut. Pria itu memeluk istrinya sambil Val terus bermain.


"Kamu buat aku tegang lagi." Kata Mario namun Val tidak merespon.


Beberapa saat kemudian Val sudah selesai.


"Dah. Ayo. Katanya mau tidur."


"Kamu buat aku tegang."


"Tengang apaan sih Om?"


"Kamu duduk begini buat milik aku tegang. Aku butuh kamu lagi."


"Yah. Kan nyuruh aku duduk begini Om."


"Ayo ke kamar."


Mario tak tahan langsung mengajak istrinya pergi ke kamar.


Pria itu langsung melepas baju dan celananya begitu sampai.


"Mau ngapain?"


"Bantu aku. Kaya kemarin kemarin."


"Baiklah." Val melakukan seperti yang pernah Ia lakukan pada suaminya.


"Jangan Pakai tangan. Pakai mulut?"


"Apa?" Kata Val terkejut.


"Ayo By. Ah...Kamu buat aku tersiksa."


Dengan ragu ragu Val menuruti keinginan suaminya. Ia sadar belum bisa memberikan apa yang seharusnya menjadi hak Mario oleh karena itu ia hanya bisa menurut.


"Lebih..."

__ADS_1


"Lagi...Ah...." Mario merasakan nikmat sambil memejamkan matanya.


Setelah beberapa saat cairan keluar membasahi dada Val seiring dengan Mario yang terkulai lemas.


__ADS_2