Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Pacar Kamu Van?


__ADS_3

Val tengah menemani Mario di ruang gym. Pria itu begitu giat berolah raga untuk menjaga tubuhnya agar tetap bugar dan awet muda.


"Udah Dad. Kamu istirahat. Nggak capek apa?"


"Iya." Mario turun dari treadmill dan duduk di samping istrinya. Val dengan cekatan mengelap keringat pria itu dan memberi minum.


"Habis ini kamu mandi ya. Bajunya aku siapin."


"Mandiin."


"Iya. Ayo."


"Makasih." Mario mencium istrinya gemas karena tumben Val tidak protes kali ini.


"Tumben kamu nggak protes?" Tanya Mario di perjalanan akan ke kamar.


"Aku protes pun kamu akan tetep memaksa. Jadi buang buang tenaga."


"Bisa aja kamu. Tapi aku suka." Katanya mengelus lembut kepala Val.


Val menyabuni punggung suaminya dengan telaten.


"Kamu makin tua makin manja Dad."


"Kalo aku nggak manja sama kamu sama siapa lagi? Dari kecil nggak pernah ada yang bisa kasih perhatian sama aku."


"Maaf." Kata Val merasa bersalah karena membuat suaminya mengingat masa lalu.


"Bukan salah kamu. Aku malah berterimakasih sama kamu Karna sudah jadi istri terbaik buat aku."


"Hm. Sudah kewajiban aku."


"Sudah selesai. Aku keluar ya. Kamu bilas pakai shower. Nanti kalo aku masih disini ikutan basah."


"Diajak mandi nggak mau."


"Aku udah mandi." Kata Val sambil mencuci tangannya di wastafel.


Keduanya sedang mengobrol di balkon. Mario memangku istrinya dan memeluk Val dengan erat.


"Udara disini enak. Aku suka."


"Kamu mau sesuatu yang lain. Misalnya taman ditambah air mancur atau kamu mau tambah tanaman?"


"Enggak usah. Ini juga aku sudah suka."


"Alhamdulillah kalo kamu suka. Aku seneng dengernya."


"Dad."


"Ya Sayang."


"Aku pernah ngebayangin deh. Kita tinggal di rumah kecil dan hidup sederhana. Pasti damai."


"Kamu aneh. Dikasih fasilitas mewah malah pengennya sederhana. Dimana mana orang malah pengen punya kehidupan seperti kamu."


"Em..Aku hanya iseng aja kepikiran begitu."


"Memangnya kamu ingin rumah yang seperti apa?"


"Nggak kok. Aku nggak pengen." Kata Val tidak enak karena Mario pasti akan mewujudkannya.


Van baru saja pulang dari sekolah. Gadis itu turun dari mobil namun tidak sendiri. Ia membawa serta temannya.


"Van. Ini rumah kamu." Katanya takjub memandang rumah bak istana itu.


"Iya. Ayo masuk."


"Eh..Sepatunya nggak usah dilepas." Kata Van terkejut melihat temannya melepas sepatu sebelum menginjakkan kaki di teras.


"Nanti kotor."

__ADS_1


"Nggak. Ayo masuk."


"Iya."


Van masuk ke dalam dan mengucapkan salam namun tidak ada yang menjawab.


"Kamu tunggu sini ya. Aku mau cari Mom. Kamu duduk dulu."


"Iya." Katanya mendudukkan diri di sofa. Ia mengamati detail ruangan yang begitu luas. Seluas seluruh rumahnya hanya untuk ruang tamu saja. Perabotan juga tampak mewah dan berkelas.


Val membuka pintu kamarnya.


"Kamu sudah pulang sayang?"


"Sudah. Mom teman aku mau ngerjain tugas disini."


"Siapa?"


"Randi yang pernah aku ceritain waktu itu."


"Oh. Kamu ganti baju dulu. Terus ajak teman kamu makan siang sekalian. Kalo mau bersih bersih di kamar tamu ya. Mom siapin makannya dulu."


"Iya Mom."


Van datang menghampiri Randi bersama kedua orang tuanya setelah menyiapkan makan.


"Selamat siang Om. Tante." Katanya langsung mencium tangan Val dan Mario.


"Siang."


"Kamu teman sekelasnya Van?"


"Iya Tante."


"Oh. Van sering cerita tentang kamu ke Tante. Katanya kamu pinter dan sering bantuin dia. Makasih ya."


"Iya Tante." Katanya tidak enak.


"Kan aku maunya sekarang."


Suara perdebatan dua remaja itu terdengar semakin mendekat.


"Kalian kenapa sih?"


"Veer nggak mau balikin laptop aku Mom."


"Bukannya nggak mau. Kan aku udah bilang nanti."


"Kalian ini. Kan Daddy udah kasih masing masing. Kenapa masih ribut aja."


"Punya Veer keyboard nya rusak Dad. Makannya pinjam punya kak Ved."


"Kenapa nggak bilang?"


"Lupa Dad."


"Ini siapa?" Tunjuknya pada teman Van.


"Heh. Nggak sopan."


"Maaf Mom. Kamu siapa?"


"Temannya Van Kak."


"Oh. Yang kamu kasih kado itu Van?"


"Kakak." Kesal Van pada kedua kakaknya.


"Hehe...Kenapa malu malu."


"Udah. Adeknya jangan di ganggu. Kalian ganti baju terus kita makan siang sama sama."

__ADS_1


"Iya. Tungguin Mom." Kata keduanya berlari pergi setelah mengecup pipi Val.


"Hah. Mereka selalu ninggalin jejak." Val meraih tissue dan mengelap pipinya yang basah.


Randi melihat mereka sebagai keluarga yang sempurna. Hidup berkecukupan, harmonis dan bahagia. Meskipun Mario terkesan galak dan kedua kakak Van suka ceplas ceplos. Namun Randi memandang mereka sebagai orang orang yang baik. Terutama Val. Wanita itu begitu sabar. Caranya mendidik anak begitu lembut namun juga tegas.


"Mom." Teriak Ladit langsung duduk memeluk Val. Memberi jarak antara Mario dan istrinya.


"Kenapa sih. Nyempil nyempil. Duduk sendiri sana." kesal Mario.


"Kenapa sih Om. Ladit pengennya sama Mom."


"Kamu datang sama siapa?"


"Sendiri Mom. Papa kan masih di timbun pekerjaan sama Om Mario."


"Itu emang kerjaan Papa kamu."


"Em. Dia siapa? Pacar kamu Van?"


"Kak Ladit apaan sih." Kesal Van.


"Jangan buat dia ngambek. Itu temannya namanya Randi."


"Oh. Halo Randi."


"Iya Kak."


"Mom. Aku mau minta makan."


"Iya. Ayo makan. Ayo kamu sekalian sayang."


"Tapi Tante..."


"Ayo. Jangan sungkan. Semua teman anak Tante kalo main kesini sudah seperti rumah sendiri. Jadi kamu juga harus begitu."


"Baik Tante." Katanya mengikuti mereka pergi ke ruang makan.


Semuanya sudah berkumpul lengkap. Mereka makan siang bersama. Randi juga ikut makan meskipun sedikit canggung. Mario dan Val makan sepiring berdua. Pria itu menyuapi istrinya dengan telaten tanpa malu dengan tamu anaknya.


"Ini masakan Mom?"


"Iya. Mommy kalian ngeyel mau masak sendiri."


"Enak. Aku mau nambah." Kata Ladit.


"Iya. Masih banyak. Kamu juga Randi. Ambil lagi."


"Iya Tante."


"Gimana masakan Mom aku?"


"Enak. Enak banget. " Jawabnya jujur.


"Terimakasih. Randi jadi ngerepotin."


"Nggak sama sekali Nak. Kita sudah terbiasa seperti ini. Jangan sungkan."


"Iya Randi. Santai saja." Kata Van.


"Randi. Rumah kamu di perumahan mana?"


"Ved." Tegur Val kesal dengan mulut lemes anaknya.


"Maaf Mom."


"Bukan di perumahan kak. Aku tinggal di perkampungan biasa."


"Bagus dong. Disana pasti rame karena berdekatan dengan tetangga."


"Iya Tante. Disana rame dan saling gotong royongnya masih terjaga. Kalau anak anak disana mainnya bukan gadget tapi main sama sama di lapangan. Saling berbaur satu sama lain."

__ADS_1


"Oh. Bagus itu bisa sekalian olahraga dan bersosialisasi. Nggak seperti disini. Mainnya gadget mulu. Sampai tetangga sendiri nggak kenal." Kata Val melihat kenyataan saat ini yang sempat terjadi pada anaknya juga.


__ADS_2