Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Tidak Akan Menyerah


__ADS_3

Val masih setia bermalas malasan. Ia tak beranjak dari sofa sambil menonton cartoon kesukaannya. Padahal Mami dan juga pelayan di rumah sudah beberapa kali memanggil untuk sarapan. Namun Val masih tidak bergeming. Hari ini weekend, gadis itu akan menghabiskan waktu dengan caranya sendiri.


"Astaga Val, Kamu ini. Mami sudah capek suruh orang dan mondar mandir kesini. Mami suruh kamu sarapan daritadi kamu nggak berangkat juga."


"Val males sarapan Mi. Mami sama Papi aja yang sarapan."


"Kamu berangkat atau Mami seret sekarang."


"Iya Iya. Mami duluan."


"Sekarang Val Thompson." Kata Mami sudah sangat kesal.


"Iya iya Mi." Gadis itu mau tidak mau harus beranjak dari posisi ternyamannya.


"Pagi Pi."


"Pagi Sayang." Vino mencium pipi anak gadisnya.


"Kamu pagi pagi udah bikin Mami ngomel aja."


"Kan Val udah bilang Val nggak mau sarapan Pi. Mami yang maksa."


"Sarapan itu penting. Jangan sampai terlewat. Kamu kalo dikasih tau." kata Mami sambil menyiapkan makan untuk suami dan anaknya.


"Libur kamu nggak ke cafe kan sayang?"


"Ya enggak dong pi."


"Bagus. Kita nanti ke rumah Om Rio ya."


"Kenapa?"


"Dia sakit gara gara putus cinta." Jelas Papi sambil tertawa.


"Putus cinta gimana Pi?"


"Itu Mi. Dia cerita sama aku katanya habis nembak cewek. La ceweknya itu nolak. Dia frustasi minum minum sampai tangannya juga luka luka karna pecahan kaca. Dia kalo emosi suka ancurin barang."


"Oh. Kasihan ya. Umur segitu maunya serius malah ditolak."


Val hanya diam mendengar percakapan mereka.


"Ceweknya kaya apa Pi katanya?"


"Dia nggak cerita kalo soal itu."

__ADS_1


"Oh. Pasti cakep. Mario nggak sembarangan cari cewek. Dia kan selektif banget."


"Enggak juga sih Mi. Dia yang penting nyaman. Dia juga jarang deket sama cewek. Eh sekali Deket ditolak pula."


"Kasihan ya. Nanti kita jengukin. Kamu ikut ya sayang."


"Ah enggak Mi. Val dirumah aja."


"Kok gitu. Nggak enak dong. Dia udah anggap kamu kaya anaknya sendiri lo. Dari kemarin kemarin juga nanyain kamu mulu. Katanya kamu di telpon nggak diangkat."


'Ih Mami nggak ngerti.' Batin Val.


"Val sibuk Mi. Kalian aja yang pergi. Val mau di rumah. Hari ini Val libur. Mau malas malasan di rumah." Jawabnya karen Val tidak ingin bertemu Mario untuk saat ini.


Mario sedang dirawat dirumah. Ia menderita sakit bukan hanya hati tapi juga fisiknya. Pria itu kurang tidur, kelelahan dan kelebihan alkohol karena mabuk mabukan beberapa hari ini. Selang infus sudah terpasang di tangan kanannya semenjak sehari yang lalu. Pria itu sebenarnya tak mau dirawat. Hanya saja kondisinya semakin memburuk membuat dia mau tidak mau harus beristirahat total dan mendapat penanganan dari dokter. Mario tak berhenti memandangi foto Val. Saat Ia mabuk dan demam tinggi nama gadis itu juga tak berhenti disebutnya. Val benar benar telah mengubah lelaki itu. Berkat Val, Mario tau rasanya berjuang dan berusaha untuk mendapat apa yang diinginkan. Karena selama ini apapun yang Mario mau selalu didapatkannya tanpa harus melakukan apa apa. Mario sudah mendapat kabar bahwa orang tua Val hari ini akan datang untuk menjenguk. Ia berharap bisa melihat Val lagi untuk datang ikut menjenguk.


"Ayo dong sayang ikut jenguk Om Mario. Dia bilang dia kangen sama kamu."


"Ih. Papi apaan sih. Val nggak ikut. Val pengen dirumah aja."


"Kamu itu. Om Mario tanyain kamu terus tuh. Katanya kamu di telfon juga nggak diangkat."


"Aku sibuk Mi. Cafe sama Restoran lagi banyak banget pesanan."


"Yaudah. Kalo gitu ayo jenguk Om Mario. Kasian dia. Nggak punya anak nggak punya istri."


Val dan kedua orangtuanya telah sampai di mansion Mario. Mereka langsung diantar oleh beberapa pelayan menuju kamar pria itu.


"Bagaimana keadaan kamu?" Tanya Papi diikuti Mami yang menaruh buah di atas nakas.


"Mendingan kak. Val ikut kan?"


"Ikut. Itu dia." Tunjuknya pada Val yang baru masuk sambil membawa paper bag.


"Halo Om. Bagaimana keadaannya?"


"Baik Val. Makasih sudah datang." Kata Mario tersenyum bahagia.


"Sama sama. Ini Val bawakan makanan. Val sendiri yang masak. Semoga Om suka."


"Iya Val terimakasih."


"Sama sama Om."


"Kamu sudah makan?"

__ADS_1


"Belum Kak."


"Makan sekarang ya."


"Iya. Aku mau makan masakan Val."


"Sayang. Tolong siapin."


"Iya Mi." Val membuka kotak makan itu.


"Bisa bantu Om makan Val?" Val tidak menjawab masih terbengong.


"Sayang." Tegur Papi.


"Ah iya. Bisa." Val langsung menyuapi Mario.


"Masakan Kamu selalu enak Val." Kata Mario hanya ditanggapi senyuman oleh gadis itu.


"Kata dokter kamu butuh istirahat berapa hari?"


"Palingan dua hari kak. Tapi belum boleh kerja dulu. Harus dirumah."


"Oh. Bagus itu. Kamu kan juga butuh istirahat. Jangan banyak kerja."


"Iya Kak."


"Udah habis Om. Mau minum?"


"Iya." Valerie langsung membantu Mario untuk minum.


"Terimakasih Val."


"Iya Om."


"Kamu istirahat ya Mario. Kita pulang dulu. Cepat sembuh."


"Iya kak. Makasih udah repot repot jenguk. Om juga makasih ya Val udah dimasakin."


"Iya Om. Semoga Om cepat sembuh."


"Val. Om mau peluk kamu." Mario tiba tiba memeluk Val. Ia memeluk Val dengan erat.


"Om kangen kamu beberapa hari ini nggak ketemu." Katanya mengusap punggung Val lembut.


"Dan Om nggak akan menyerah untuk dapetin kamu." Bisiknya didengar jelas oleh Val sebelum melepaskan pelukannya. Valerie hanya bisa diam Ia segera menjauh dari pria itu. Val dan kedua orang tuanya pulang. Mario tersenyum memandang kepergian gadisnya dari balik jendela kaca yang ada di kamarnya. Ia memperhatikan sampai mobil yang mengantar Val hilang dari pandangannya.

__ADS_1


"Ini baru permulaan Val sayang. Bahkan aku mempunyai seribu cara untuk mendapatkanmu."


__ADS_2