Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Dasar Gila


__ADS_3

"Ayo dong Om agak cepetan jalannya. Lama benget." Val menarik tangan Mario tidak sabaran. Mereka akan ke Mall sesuai yang dijanjikan pria itu.


"Iya By."


"Tuan." Sapa seorang pria saat keduanya sampai di halaman.


"Saya akan bawa mobil sendiri."


"Baik Tuan." Katanya patuh.


Keduanya langsung berangkat sebelum hari semakin sore.


Semuanya menunduk menyapa Mario yang baru datang membawa seorang gadis. Pertanyaan demi pertanyaan berputar di benak mereka. Namun tidak ada seorang pun yang berani bertanya tentang kejelasan hubungan keduanya. Mereka cukup tau jika Mario sebatang kara. Jadi gadis ini bukanlah keluarganya. Mereka hanya bisa mengamati kedua orang yang sudah berjalan cukup jauh.


"Mau beli apa By? Apapun yang kamu mau ambil sesuka hati."


"Mau beli cemilan. Kita kesana." Val menggandeng tangan Mario penuh semangat.


Gadis itu asyik memilih berbagai makanan ringan dan juga minuman sedangkan suaminya dengan setia mengikuti sambil mendorong troli.


"Kamu girang banget."


"Iya. Kalo dirumah aku nggak boleh jajan kaya gini."


"Iyalah. Itu yang kamu beli nggak sehat semua."


"Tapi enak."


Mario hanya tersenyum. Ia sebenarnya juga khawatir melihat Val makan sembarangan. Namun demi membuat istrinya bahagia dan betah Mario akan melakukan apapun. Perlahan nanti Ia akan mengatur makan istrinya.


"Om mau puding nggak. Aku bikinin kalo mau."


"Boleh. Aku belum pernah makan puding buatan kamu."


"Ok. Nanti aku bikinkan."


"Sudah lengkap semua. Kita bayar Om."


"Iya. Ayo." Mario menggandeng tangan istrinya.


"Mario." Sapa seorang wanita berpakaian kurang bahan menghampiri keduanya saat berada di parkiran. Mario dengan tampang dinginnya sedangkan Val tidak peduli.


"Aku kangen." Kata wanita itu langsung memeluk Mario. Pria itu sangat risih. Takut Valnya nanti akan salah paham.


"Lepas."


"Lepas aku bilang." Bentaknya dengan nada yang lebih tinggi.


Laura melepaskan pelukannya. Wanita itu kemudian menatap Val yang diam sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Kamu siapa?"


"Tante yang siapa?"


"Aku calon istrinya Mario. Kamu siapa? Bukannya Mario tidak punya keluarga ya."


"Oh calon istri. Kenalin Aku Valerie."


"Oh. Laura." Menjabat tangan Val. Mario hanya diam memperhatikan apa yang akan dilakukan istrinya.


"Hubungannya dengan Mario apa? Jangan ngaku ngaku keluarganya untuk mengambil harta ya. Mario itu sebatang kara. Jangan pernah kamu coba coba mau masuk ke dalam hidupnya."


"Dah terlanjur Tante. Kita aja baru nikah."


"Apa? Mario kamu...." Kata Laura terkejut.

__ADS_1


"Ya dia istriku." Mario merangkul dan mengecup kening sang istri dengan bangga.


"Dah ya Tante. Kita sibuk. Mau pulang dulu. Dah...Lain kali kita ketemu lagi." Val langsung masuk ke mobil.


Sepanjang perjalanan gadis itu hanya diam sambil memainkan ponselnya.


"By."


"Hm."


"Kamu marah?"


"Nggak. Aku lagi sariawan males ngomong."


"Kamu bohong."


"Nggak. Aku beneran sariawan. Sakit. Kita mampir ke apotik dulu deh."


"Kok tiba tiba sariawan."


"Tadi makan sempat kegigit bibirnya. Tuh lihat sakit." Val menunjukkan bibir bagian dalamnya yang luka.


"Kasihan istriku. Sebentar aku beliin Obat." Mario menghentikan mobilnya di apotik. Pria itu bergegas turun untuk membelikan istrinya obat.


"Ini By."


"Cepet banget?"


"Iyalah."


"Ini gimana? tinggal dioles aja kan?"


"Iya. Nanti dirumah aja."


"Ok."


"st..."


"Tahan dulu By. Agak perih memang." Pria itu mengoleskan Obat dengan perlahan.


"Udah."


"Makasih Om."


"Sama sama By."


"Oh iya tadi aku mau buatin puding kamu. Aku ke dapur dulu."


"Ayo aku temenin." Pria itu menggandeng tangan istrinya.


Val sibuk mengaduk semua bahan sedangkan suaminya tak berhenti memeluk. Val sebenarnya risih tapi Ia tidak menolak. Bagaimanapun juga Val belum bisa memberikan hak pria itu. Sebisa mungkin Val akan menerima semua perlakuan kecil Mario untuknya.


"Tinggal masukin kulkas." Kata Val setelah menuangkan ke dalam cetakan.


Tak terasa malam pun tiba. Sepasang pengantin baru itu tengah menonton film di kamar setelah makan malam.


"Pudingnya enak. Kamu nggak mau By?"


"Om aja. Aku udah sering makan." Kata Val fokus kesan film dan keripik yang sedang di pegangnya.


"By."


"Hm."


"Soal cewek tadi."

__ADS_1


"Santai aja Om. Kenapa jadi merasa bersalah gitu."


"Kamu nggak marah kan?"


"Nggak kok."


"Dia dari dulu nggak pernah nyerah ngejar aku. Aku risih."


"Kenapa nggak nikahin aja Om? cantik loh."


"Nggak. Masih jauh cantik kamu."


"Tapi dia lebih dewasa. Pasti bisa layani kamu."


"Nggak. Hati aku nggak pernah bisa dibohongi. Aku maunya kamu bukan yang lain."


"Maaf." Kata Val merasa bersalah.


"Aku akan tunggu. Jangan merasa bersalah seperti itu." Mario memeluk istrinya.


"Kita tidur yuk." Mario merasakan suhu tubuhnya yang meningkat gara gara memeluk Val.


"Yaudah. Ayo."


Keduanya sedang berada di ranjang sekarang. Milik Mario tak berhenti tegangan apalagi kini sedang memeluk istrinya. Pria itu mulai gusar.


"By."


"Ya."


"Bantu aku."


"Bantu apa?"


Mario mengambil tangan Val dan mengarahkannya masuk ke bawah sana.


"Om." Pekik Val merasakan tangannya kini sudah memegang benda yang besar dan asing baginya.


"Bantu Om." Pintanya memohon.


"Bagaimana?"


"Mainkan."


"Mainkan bagaimana? Val nggak ngerti."


"Seperti memerah susu. Kamu tau kan. Ah jangan buat aku tersiksa seperti ini. Cepat lakukan By."


"Baiklah aku coba." Val melakukan apa yang diperintahkan suaminya. Pria itu memejamkan mata dan nada nada ******* keluar dari mulutnya.


"Lebih cepat By.."


"Iya." kata Val menurut.


Setelah beberapa saat Val merasakan basah di tangannya.


"Apa ini?"


"Itu benih yang tidak tersalurkan." Kata Mario lemas.


"Jangan keluar dulu. Tetap pegang."


Kata Mario ketika Val hendak mengeluarkan tangannya dari bawah sana. Pria itu merasa nyaman dengan keadaan seperti sekarang.


"Lain kali pakai ini." Mario menyentuh bibir sang istri dengan telunjuknya.

__ADS_1


"Dasar gila." Gumam Val yang masih bisa didengar suaminya.


__ADS_2