
Mario terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata hingga terbuka sempurna. Jantungnya seketika dibuat berdetak lebih kencang karena rasa cemas. Valnya sudah tidak ada di ranjang. kemungkinan kemungkinan buruk berputar memenuhi otak cerdasnya. Ia bergegas turun dari ranjang dan mencari di setiap ruangan.
Ia bernafas lega saat melihat Val sedang sholat di ruang ganti. Gadis itu begitu khusyuk dalam setiap gerakan. Selesai salam Mario memperhatikan Val yang sedang menengadahkan kedua tangannya untuk berdoa. Air mata lolos membasahi pipinya yang mulus tanpa cacat sedikitpun. Itu semua tak luput dari pandangan Mario. Gadis itu tengah bersedih dan meminta perlindungan. Mario sebenarnya Iba. Bahkan mendengar tangis Val membuat hatinya teriris. Namun bagaimana lagi, ini adalah satu satunya cara. Lagipula Ia sudah terlanjur melakukan. Menuntaskan atau mundur adalah dua pilihan yang ada sekarang. Seorang Mario tentunya akan memilih pilihan yang pertama. Tidak ada kata menyerah dalam kehidupan pria itu.
"Om ngapain di situ?" Tanya Val sambil melipat mukenanya.
"Nunggu kamu."
"Mau ngapain?"
"Mau ngobrol."
"Mana ada orang subuh subuh begini ngobrol."
"Ya kalo gitu ayo tidur lagi."
"Dah nggak ngantuk."
"Kalo gitu mandi bareng."
"Om jangan macem macem ya. Dah tua juga. Bukannya tobat malah cari masalah mulu."
"Lagian kamu diajak ngobrol ga mau."
"Yaudah tunggu."
Keduanya tengah duduk berdua di sofa. Posisi Mario saat ini menempel pada Val. Padahal gadis itu sudah berkali kali pindah namun Mario tetap mengikuti. Jadi percuma saja. Val capek dan menyerah.
"Mau ngomong apa?"
"Aku mau beri kamu kebebasan sebagai bukti cinta Om ke kamu."
"Syukur deh kalo Om mau pulangkan aku. Harusnya dari kemarin dong. Aku nggak perlu nangis juga. Buang buang air mata aja. Makasih Om." Val memeluk Mario erat untuk rasa terimakasihnya. Pria itu tersenyum, baru pertama kali Val memeluknya dan rasanya sangat hangat dan bahagia.
"Oh. Tunggu dulu sayang. Bukan itu maksudnya. Maksud aku itu kamu aku beri kebebasan untuk keluar kamar. Kamu boleh berkegiatan di dalam mansion. Hanya di dalam, tidak boleh keluar. Kamu juga akan memberi kabar keluarga melalui Video Call setiap harinya."
"Ah sia sia aku meluk Om." Kata Val sambil cemberut.
"Aku mau mandi kenapa Om masih ngikut juga sih?"
"Aku juga mau mandi."
"Gantian. Om dulu kalo gitu."
__ADS_1
"Nggak mau mandi bareng nih?"
"Nggak. Makasih. Mandinya cepet."
"Iya Sayang."
Selesai Mario mandi sekarang giliran Val. Gadis itu mandi lebih lama. Ia merendamkan diri di bathup dengan air hangat dan aroma mawar yang begitu menyegarkan. Cukup lama menunggu Val tak kunjung keluar juga membuat Mario merasa khawatir. Pria itu memberanikan diri untuk masuk. Ia melihat Val sedang memejamkan matanya menikmati acara berendamnya di bathup. Kulitnya begitu mulus meskipun hanya terlihat sebatas bahu dan leher Mario yakin jika turun ke bawah pasti lebih indah. Pria itu menelan ludahnya susah payah. Ia harus menuntaskan hasratnya sendiri. Hanya sendiri. Tidak ada yang menjadi pelampiasan. Bagaimanapun juga Val belum dinikahinya. Ia tak mau merenggut kesucian gadis baik itu.
"Om ngapain?" teriak Val.
"Om.."
"Keluar."
"Ah Iya.." Dengan cepat Mario langsung keluar dari kamar mandi.
Mario hanya menunduk mendengar Val mengomel sedaritadi. Keduanya sedang berada di ruang makan untuk sarapan sekarang. Para pelayan hanya bisa menahan tawanya melihat Tuan mereka yang kejam dimarahi oleh seorang gadis. Apalagi pria itu tak berkutik ataupun menjawab.
"Maaf." Kata Mario penuh penyesalan.
"Maaf. Maaf. Om keterlaluan. Bisa bisanya ada orang mandi main masuk masuk aja."
"Aku cuman khawatir terjadi sesuatu sama kamu karena kamunya lama di kamar mandi."
"Iya. Tapikan...."
"Udah. Emang dasar Om aja yang seenaknya."
"Maaf. Sarapan dulu. Kamu pasti lapar."
"Iya. Marahin Om emang ngeluarin tenaga banyak." Val mengambil sarapan yang sudah disiapkan.
"Mau kemana?"
"Mau sarapan di dapur."
"Disini aja."
"Nggak."
"Kalo gitu aku ikut."
"Jangan coba coba. Kalo Om sampai ikut aku akan lebih marah dari ini. Aku nggak mau lagi ngomong sama Om."
__ADS_1
"Baiklah." Kata Mario menyetujui. Ia tak mau Valnya marah lagi.
"Nyonya." Kata mereka yang sedang sarapan kaget melihat kedatangan Val.
"Boleh gabung?" Tanya Val ramah.
"Tapi Nyonya. Nanti tuan marah."
"Enggak tenang aja." Val ikut duduk dan mulai memakan sarapannya. Gadis itu mengajak mereka mengobrol dengan santai tanpa membedakan status mereka yang sangat jauh.
Mario menghampiri Val yang sedang menonton film. Ia duduk di sebelah gadis yang tengah fokus menonton itu.
"Ngapain disini. Jauh jauh." kata Val mengusir.
"Aku pengen duduk dekat kamu."
"Enggak. Sana. Sana." Tanpa memperdulikan penolakan, Mario langsung memeluk Val dengan erat. Sampai sampai Val tidak bisa bergerak karena Mario mengunci tubuh gadis itu dengan kedua kakinya.
"Om nyebelin. Lepasin aku."
"Nggak mau. Kamu wangi."
"Om nggak kerja apa, Aku pengen nonton. Jangan ganggu."
"Ngapain kerja. Aku udah kaya. Lagian kalo pengen nonton gini kan juga bisa."
"Ga nyaman. Aku nggak bisa gerak. Ih. Lepasin."
"Gamau Sayang. Aku maunya peluk kamu."
"Jangan kaya anak kecil deh. Sebel aku."
"Biarin." Kata Mario tak mau melepaskan pelukannya. Val tidak menyangka Mario ternyata orang yang seperti ini. Begitu menyebalkan bagi Valerie.
"Om kebentur dimana kepalanya?"
"Kenapa?"
"Galaknya kemana? Kok jadi gini."
"Galaknya aku simpen kalo lagi sama kamu. Orang yang paling aku sayang." Mario mengecup pipi Val.
"Jangan cium cium." Teriak Val hanya ditanggapi senyuman oleh pria itu.
__ADS_1