
Val menghampiri putrinya yang tengah duduk sendiri di ruang tengah.
"Kamu lagi ngapain Sayang?" Tanyanya sambil duduk dan mengelus kepala gadis itu dengan lembut.
"Habis baca komik Mom."
"Oh. Teman kamu Randi itu....boleh kamu ceritain ke Mom?"
"Mom mau tau tentang apa dari Randi?"
"Semuanya. Mom pengen tau kehidupan dia. Pasti dia cerita ke kamu."
"Oh. Iya. Randi itu anak satu satunya Mom. Sebenarnya dia dulu punya kakak laki laki tapi meninggal karena sakit. Bapak, Ibunya nggak mampu bawa ke rumah sakit untuk berobat. Dia tinggal sama Bapaknya aja Mom karena Ibu Randi meninggal satu tahun setelah kakaknya karena sakit keras."
"Bapaknya kerja apa Sayang?"
"Bapaknya jualan Kelapa muda dan buah musiman di dekat pasar. Van pernah kesana. Orangnya baik dan ramah."
"Oh. Kita kesana yuk?"
"Mom mau ngapain?"
"Mom tiba tiba pengen minum es kelapa muda."
"Mom."
"Sebentar ya. Mom kasih tau Daddy." Kata Val dengan semangat. Van hanya menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah Mommynya. Wanita itu memang tidak bisa diam.
Val menghampiri Mario di ruang kerjanya.
"Sayang." Kata pria itu mendongak melihat kedatangan sang istri.
"Daddy sayang lagi sibuk?" Tanyanya dengan manja sambil memeluk Mario. Pria itu tahu istrinya sedang menginginkan sesuatu jika sudah seperti ini. Ia menarik Val untuk duduk di pangkuannya. Bibirnya mencium dalam dalam dan menyesap bibir indah sang istri sampai Val meminta untuk dilepaskan agar bisa bernapas.
"Ada apa Sayang?"
"Daddy lagi sibuk?"
"Sudah selesai. Kenapa?"
"Nanti sore ayo beli kelapa muda."
"Kenapa tiba tiba pengen kelapa muda?"
"Nggak Papa."
"Jangan bohong. Aku tau. Suamimu ini punya mata mata dimana mana." Kata Mario karena mendengarkan percakapan istri dan anaknya.
"Cuman pengen bantuin Randi aja Dad. Kasihan."
"Biar aku suruh orang aja buat borong dagangannya."
"Pengen kesana sendiri."
"Kalau kamu kenapa napa gimana?"
"Enggak. Boleh ya..."
"Ya. Kalo kamu begini aku mana bisa nolak." Kata Mario mencubit gemas hidung mancung Val.
Sore hari Mario, Val dan Van sudah sampai di tempat jualan Bapak Randi.
"Non Van." Kata Pria yang sudah cukup tua itu ramah.
"Iya. Kenalin ini orang tua Van Paman."
"Oh. Saya Mustafa Tuan, Nyonya." Katanya memperkenalkan diri.
"Saya Mario."
"Saya Valerie." Jawab Val sambil menangkupkan kedua tangannya karena tidak bersalaman.
"Silahkan duduk."
"Terimakasih." Val langsung mengajak anak dan suaminya duduk.
"Nyonya anak dari Nyonya yang menyekolahkan Randi?"
"Hehe iya."
"Om. Tante." Randi baru datang langsung mencium tangan kedua orang itu.
"Kamu darimana Ran?"
"Randi habis antar pesanan Tante. Tante sama Om sudah lama?"
"Belum Kok. Baru saja datang."
"Tante mau kemana?"
"Sengaja mau kesini. Mom lagi pengen kelapa muda."
"Oh. Akan saya siapkan."
"Nanti dulu saja Pak. Kita ngobrol dulu." Kata Val membuat pria itu ikut duduk bergabung.
Mereka mengobrol cukup lama tentang berbagai hal. Seperti yang dikatakan Van. Bapak Randi memang orang yang baik dan ramah.
__ADS_1
"By. Ayo pulang." bisik Mario.
"Iya. Pak saya beli semua semangka, melon dan kelapa mudanya ya."
"Nyonya." Katanya terkejut.
"Iya pak. Tidak apa kan saya borong?"
"Tidak Nyonya. Terimakasih banyak."
"Sama sama. Nanti supir saya akan datang untuk ambil. Ini cukup pak?" Tanya Val menyerahkan segepok uang.
"Nyonya. Ini terlalu banyak. Ini banyak sekali."
"Ambil aja pak. Rejeki bapak."
"Tapi Nyonya."
"Saya ikhlas."
"Terimakasih banyak Nyonya. Tuan." Katanya sambil menangis terharu.
"Sama sama. Kita pulang dulu ya pak. Randi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Mereka semua menatap Val dengan heran.
"Mau diapakan sebanyak ini?"
"Dibagikan sama Paman dan Bibi juga sama tetangga semua."
Val mulai membungkus buah dan kelapa muda itu dengan kantong kresek dibantu anak anak dan suaminya. Masing masing mendapat satu semangka, melon dan kelapa muda.
"Kalian antar ke tetangga ya."
"Siap Mom. Kita nanti pakai troli bawanya biar gampang."
"Iya."
Mereka memasukkan beberapa ke troli untuk dibagikan.
"Hati hati ya."
"Iya Mom. Kita berangkat dulu."
"Iya."
Ved dan Veer mulai membagikan. Rumah pertama yang mereka singgahi adalah rumah Bu RT karena yang paling dekat.
"Waalaikumsalam. Ved dan Veer, ada apa?"
"Ini Bu RT. Dari Mommy." Katanya Sambil menyerahkan kantong kresek itu.
"Ini apa berat banget?"
"Ini semangka, melon sama kelapa muda."
"Memangnya ada acara apa?"
"Nggak ada acara Bu RT. Mom tadi beli banyak."
"Oh. Makasih ya. Sampaikan makasih dan salam Ibu ke Mommy kalian."
"Iya Bu RT. Kita lanjut dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Keduanya langsung pergi untuk melanjutkan.
"Ada apa Ma?"
"Mereka anterin kita Melon, semangka sama kelapa muda dari Bu Val. Satu kopleks dikasih."
"Oh. Baik ya."
"Iya."
Ved dan Veer tergeletak lemas di sofa. Mereka telah menyelesaikan tugas dengan baik.
"Gitu aja capek."
"Daddy ngeremehin."
"Iya lah. Tinggal dorong sama bagikan gitu aja lemes."
"Wah Daddy belum ngerasain. Coba Daddy yang berangkat." Kesal mereka.
"Sudah jangan bertengkar. Kamu juga jangan begitu dong Dad." Tegur Val pada suaminya.
"Ini diminum dulu."
"Makasih Mom. Emang cuman Mommy yang terbaik." Kata mereka meminum es campur yang dibuat Val dengan semangat.
"Capek ya?"
"Iya Mom."
"Sini Mommy pijat."
__ADS_1
"Eh...nggak usah Mom."
"Katanya capek."
"Udah nggak sekarang."
"Makasih ya sudah bantuin Mom." Val mengecup kening keduanya.
"Sama sama Mom. Kita seneng kalo Mommy seneng."
"Oh iya Mom. Mereka semua bilang terimakasih sama titip salam tadi."
"Iya."
"Minta By." Kata Mario meminta es yang sedang diminum istrinya.
"Aku ambilin."
"Punya kamu."
"Yaudah. Ini minum."
"Suapi."
"Astaga Daddy." Van kesal dengan tingkah manja Mario. Namun pria itu tak ambil pusing dan tidak peduli dengan anaknya.
"Mommy." Ladit langsung memeluk wanita itu.
"Eh. Kamu sama siapa?"
"Sama Papanya dong." Sahut Frans baru datang langsung ikut duduk bersama mereka.
"Wah ada buah." Pria itu langsung makan potongan semangka dan melon dengan lahap.
"Mau es?"
"Mau Mom."
"Sebentar Mom ambilkan."
"Aku bisa sendiri Mom. Papa mau nggak?"
"Boleh. Ambilin sekalian."
"Ok."
Ladit bergabung kembali setelah beberapa saat pergi ke dapur.
"Kalian beli buah banyak sama kelapa buat apa? Val hamil lagi? kamu mau punya anak lagi? mau rujakan ya?"
"Enggak. Istri aku mau bantu bapak temannya Van larisin dagangannya. Makannya diborong."
"Buat apa banyak banget? Mana habis."
"Sudah dibagikan."
"Aku nggak kamu kasih?"
"Masih ada Om. Ambil aja."
"Pasti."
Mario mengelus lembut kepala istrinya.
"Mau kemana?"
"Mau ambil es batu lagi."
"Udah. Jangan kebanyakan minum es."
"Dikit aja Dad."
"Nggak. Udah cukup."
"Dad."
"Udah. Nurut ya..."
"Iya." Kata Val langsung duduk kembali.
"Bagus. Karna kamu nurut aku kasih hadiah."
"Mana?"Tanya Val menengadahkan dua tangannya. Pria itu tidak memberikan apapun malah mencium kedua pipi istrinya sampai merah.
"Itu hadiahnya."
"Ih. Daddy nyebelin." Kata Val kesal.
"Hah. Kamu. Sengaja mau panas panasin aku?"
"Situ ngerasa?" Tanya Mario.
"Tau ah. Punya Bos satu aja nggak waras." Gerutunya sambil pergi dari sana.
"Apa kamu bilang?" Teriak Mario.
"Val. Aku minta makanan di kulkas." Katanya tak peduli pada Bosnya yang sudah mengamuk.
__ADS_1